Thursday, February 14, 2019 0 komentar

Kini Tak Ada Lagi Bulan

Senja itu aku pulang. Aku mengetuk pintu yang tertutup, berkali-kali. Tetapi tidak ada yang membukakan. Dengan ragu, aku menarik pegangan pintu. Ternyata mudah saja pintu itu terdorong hingga terbuka. Tak ada siapa-siapa. Kucari di setiap sudut rumah, tetapi dia tak ada. Dari selembar kertas yangditulisnya dengan kalimat pendek yang memedihkan, aku tahu kini ia pergi. Aku ingin mati. 
Berminggu-minggu aku membiarkan diriku tergulung kesedihan, sebelum mengisi koper dan pergi ke Texas. Karena aku ingin melihat garis-garis padang rumput mencapai cakrawala. Melupakan segala tentang hijaunya pegunungan atau semilir angin pantai, tempat dia dulu sering mengajakku. Mungkin jika Dago tidak sejuk atau pantai di Belitung tidak seindah itu, semua ini tidak akan terjadi.
Ternyata kota Austin yang kupilih, justru lebih hijau dari Jakarta. Rupanya pemerintah kota ini serius ingin menurunkan suhu kota yang sering terasa mendidih di musim panas. Aku tidak tahu akan berapa lama berada di sini. Meski jauh di lubuk hati aku tahu, bahwa aku tidak akan mampir berlama-lama. Aku menyewa kamar di sebuah hotel tua . Petugas hotel menempatkanku di lantai dua. 
Malam sudah mulai larut, namun kafe-kafe yang berderet di seberang sudut jalan, masih hinggar-bingar. Aku berdiri di tubir jendela yang kubuka lebar-lebar. Menatap kerlip lampu neon di pusat kota. Melihat ke bawah, ke jalan yang tidak pernah lengang. Tiga orang lelaki muda yang melintas sambil tertawa-tawa, menengadah. Mereka melambai dengan genit, menggodaku. Meminta aku turun atau mereka yang akan naik. Mereka berhenti berteriak dan bersuit-suit, ketika seorang lelaki berdiri di sampingku. Mengirimkan tatapan mengancam.
Kini mata lelaki itu menangkap mataku, yang tiba-tiba -tanpa kuharapkan- membasah.
"Bagaimana kau bisa masuk?"
Ia mengacungkan sebuah kartu kunci,
"Aku terkenal di kota ini," jawabnya menyombongkan diri. Tiba-tiba lengannya terbuka membentangkan jalan untuk merasakan kehangatan jiwanya. Mata birunya adalah mata tercemerlang dalam hari-hari kelabuku belakangan ini. Tenggelam dalam pelukannya bagai membunuh kobaran api yang telah membakar dada dan kepalaku hingga benakku hangus menghitam. Ia membiarkan aku membuka bendungan tangis.
"Akhirnya, aku dikalahkan," isakku.
Tak banyak yang dikatakannya untuk menghiburku, selain menawarkan berhelai-helai tisu. Selewat petang, ia membawaku ke sebuah restoran di tepi danau untuk makan malam. Kemudian kami menonton pertunjukan musik. Ia juga membeli semangkuk es krim yang kami makan sambil berjalan kembali ke hotel. 
"Akan kupikirkan apa yang bisa kulakukan untukmu," ujarnya sambil mengelus kepalaku penuh sayang di depan pintu kamar hotel.
"Tak perlu kau lakukan apa-apa. Kehadiranmu seperti hari ini, sudah menghiburku. Aku hanya butuh melarikan diriku sejenak."
"Aku akan kembali besok sore pukul lima," ia berjanji. "Kita akan makan malam dan berjalan-jalan seperti tadi."
Setelah berminggu-minggu, aku tidur nyenyak malam ini. 
Pagi hari, aku memutuskan akan mengelilingi kota. Dengan memakai topi lebar dan kacamata hitam, aku berjalan kaki tak tentu arah. Mengikuti naluriku yang memerintah untuk berbelok ke kiri atau menuju ke kanan. Tengah hari aku membeli sebuah burger dan air mineral di  sebuah restoran bernama Schlotzsky's. Sambil  menikmati sejenaksejuknya hembusan udara ber-AC sebelum kembali melanjutkan petualangan di hari yang cukup terik ini.
Di sebuah sudut jalan, aku membaca plang nama sebuah museum. Aku bermaksud melangkahkan kaki menuju ke situ. 
Aku menunggu lampu lalu lintas yang menunjukkan pejalan kaki boleh melintas. 
"Bulan..." 
Aku bagai tercerabut ketika sebuah suara bariton yang sangat kukenal terdengar memanggil. Suara yang berbelas tahun menemani hariku.  Dadaku berdetak kencang. Kuputar kepalaku ke segala arah mencari sumber suara yang terasa begitu dekat di telinga. Tetapi orang-orang di sekitarku saat ini, tak ada yang kukenal.
"Bulan..."
Suara itu kembali menggetarkan gendang telingaku. Aku melepas kaca mata hitam, menajamkan mata mencari ke segala arah. Aku tidak mungkin keliru mengenali suara itu.
"Bulan! Menyingkir dari situ!"
Kusadari sekarang, suara itu bukan berasal dari orang-orang di sekitarku. Tetapi berasal dari dalam dadaku. Bergema berdentang -dentang di otakku. Sedetik kemudian, kudengar suara letusan yang memekak telinga, diikuti decitan menyayat akibat gesekan ban mobil dan aspal. Setelahnya aku merasakan tubuhku terhantam benda keras, lalu terbang ke udara. 
Saat itu aku tersenyum. Aku kini merasa bebas bagai burung. Aku lega, karena keinginanku berminggu-minggu lalu, akan segera tercapai begitu tubuhku kembali jatuh menghantam aspal.
Senja hari pukul lima. Lelaki bermata biru cemerlang itu kembali datang menemuiku di ruang putih yang tak kukenali. Ia memelukku dengan rasa sayang. Wajahnya bersimbah air mata. 
"Aku akan mengirimmu pulang," bisiknya di telingaku yang kini telah dingin membeku.  
0 komentar

The Assignment

"Hai! Beri merah di samping Painter Hall berbuah. Menurutmu, enakkah memakannya setelah makan siang?" Kubaca pesan yang ditulis Santoso Umardi di aplikasi Skype pada ponselku.
"Kupikir tidak ada salahnya memakan buah itu setelah makan siang. Tetapi hati-hati, jangan sampai sakit perut" jawabku juga melalui pesan di Skype.
Kutunggu lima detik hingga tanda pesanku telah terbaca. Lalu kedua pesan itu segera kuhapus.
Aku dan Santoso Umardi adalah sesama mahasiswa pascasarjana di universitas ini. Namun kami berbeda jurusan. Ia di Computer Engineering, sedangkan aku di Chemical Engineering. Dan bagiku, dia bukan sekedar teman sesama mahasiswa dari Indonesia. Dia lebih dari itu. Pesan itu bermakna, ia mengajakku bertemu di taman di samping Painter Hall setelah jam istirahat waktu perkuliahan. Yang berarti sekitar pukul 13.00
Tetapi tiga menit kemudian, nada ting kembali berbunyi, yang menandakan sebuah pesan lain masuk ke ponselku. Dari suamiku.
"Sayang, ada waktu untuk makan siang denganku? Aku akan memesan Fajita dari Juan's Corner. Atau kau mau makanan yang lain?"
Oh!
Tentu aku tidak pernah menolak undangan makan siang darinya. Karena aku tidak punya alasan yang cukup tepat untuk menolak. Selain karena dia tahu jadwal luangku, aku hanya perlu naik ke lantai 3 gedung EERC  (Engineering and Energy Research Centre) untuk mencapai kantornya. Sedangkan laboratorium yang saat ini aku pakai untuk praktikum, berada di lantai 2. Istilah teman-temanku di Jakarta, hanya perlu dua kali koprol, kami bisa bertemu.
Aku segera membuka aplikasi Skype. Mengirim pesan ke Santoso, sambil berjalan menuju tangga ke lantai 3.
"1400" tulisku.
Aku berkali-kali menyalakan LCD ponselku, menanti jawaban Santoso. Nada ting yang masuk malah membuatku resah.
"13 sharp,"  bunyi pesannya.
Menyebalkan!
Aku menarik napas panjang berkali-kali ketika mencapai lantai tiga. Aku harus menenangkan diri dan menyimpan rapat-rapat janji temu dengan Santoso. Entah bagaimana, suamiku seperti selalu bisa membaca pikiranku. Ia akan tahu ada masalah yang menggangu, jika sedikit saja aku terlihat gelisah.
Aku dan Bie, begitu aku memanggil suamiku, mengobrol tentang beberapa hal. Kami tertawa saat ia menceritakan ulah salah satu mahasiswa yang terkenal konyol, ketika ia mengajar tadi pagi. Aku menceritakan kemajuan risetku, dan ia memberikan berbagai masukan. Setelah makan, kami solat Dzuhur berjamaah.
"Aku tidak ada kelas hingga jam 3 nanti, Dik, temani di sini, ya? Aku mau minta tolong kamu bantu  mencari referensi pembanding tentang Orbital Mechanics dari database katalog perpustakaan kampus. Aku diajak Prof. Bettadpur untuk riset bareng dia, awal bulan depan."
"Aku tidak paham tentang Orbital Mechanics, Bie. Apa yang harus kucari?"
"Nanti kuberi copy abstract dari tulisan terakhir Prof. Bettadpur tentang hal ini. Jadi kau bisa mengira-ngira keyword apa yang bisa kau pakai untuk 'memanggil' referensi pembanding yang ada di database. Nanti aku yang menyeleksi, kira-kira mana yang kubutuhkan."
Aku mengangguk, "Baiklah."
Alasan apa aku menolaknya?
Aku pun jadi bingung. Entah bagaimana caranya aku mencari alasan untuk menemui Santoso. Aku juga, tentu tidak bisa menolak bertemu lelaki itu. Sementara 10 menit lagi jam satu.
"Tetapi aku akan memakai komputer juga laptopku, Sayang. Bisakah kau memakai laptopmu saja?" 
Kalimat Bie membuatku lega. 
"Ok. Aku ambil dulu laptopku di Lab."
Awalnya, ketika keluar dari ruang kantor Bie, aku berjalan dengan santai. Begitu aku menjejakkan kaki di tangga untuk turun, aku berjalan bagai setengah terbang. Taman Painter Hall berjarak dua gedung dari gedung EERC. Kurang lebih 400 meter. 
Saat aku tiba, Santoso sudah menunggu di salah satu bangku.
"Suamiku mengajak makan siang," kataku dengan napas terengah. "Sekarang dia memintaku membantunya mencari referensi tentang Orbital Mechanics. Sehingga aku tidak bisa berlama-lama. Ada apa?"
"Nanti aku aku akan bantu mencari referensi yang diminta suamimu, setelah pertemuan ini," Santoso mengelus bahuku dalam upayanya menenangkanku.
"Kau tahu Hendry Alianto?" Ia langsung bertanya begitu aku duduk di sebelahnya.
Santoso mengeluarkan segulungan kertas selebar separuh kertas A4, lalu menyerahkan kertas itu padaku. Berisi sederet angka dan potongan barcode seperti barcode pada voucher belanja. Aku membuka sebuah aplikasi tersembunyi pada ponselku, memasukkan angka dan memindai barcode tersebut untuk mengakses informasi yang disediakan bagiku.
"Siapa yang tidak tahu orang itu? Pemilik Bank Universal kan?"
"Yup. Salah satu dari 10 konglomerat paling tajir di Asia"
"Dan kupikir 3 konglomerat paling licik di Asia. Jika aku membaca track record-nya."
Salah satu kelicikan Hendry Alianto adalah mengumpulkan modal dari masyarakat melalui banknya  -dulu bernama Bank Raya,-   melalui instrumen asuransi, deposito, tabungan dan lain-lain, dengan bunga yang dijanjikan sedikit di atas bunga bank terkenal lainnya. Lalu dana masyarakat yang dihimpun, dialirkan untuk membiayai proyek-proyek pada jaringan bisninya. Ketika mata US Dollar meluncur turun, proyek-proyek tersebut merugi dan gagal bayar. Akibatnya dana nasabah tidak bisa ditarik. Terpaksa demi keamanan nasional, pemerintah mengucurkan dana talangan. Malangnya, pada rezim korup sebelumnya, aset jaminan yang diajukan ke pemerintah, nilainya real sangat jauh dari nilai yang tertera di dokumen jaminan. 
Beberapa orang dari jajaran direksi bank tersebut diperiksa. Dan akhirnya ditahan dengan hukuman cukup berat. Sementara Hendry Alianto cuci tangan. Bank Raya kemudian dijual oleh pemerintah ke lembaga keuangan asing dengan harga murah. Pemilik baru mengganti nama Bank menjadi Bank Universal. Dua tahun kemudian, Hendry Alianto membeli kembali saham mayoritas di bank tersebut. Dengan Asset dan Trust Value yang lebih besar dari sebelumnya.
Itu hanya salah satu kelicikannya. Belum lagi permainan kasarnya di industri tambang, yang seringkali 'mengunci' mata anggaran proyek tertentu agar jatuh ke salah satu perusahaannya.
"Lalu, apa perintahnya?" jelas aku menjadi penasaran. Tidak biasanya  Santoso membicarakan para pengusaha. Biasakan kami membahas para tokoh politik atau teroris.
"Kau tahu sekarang ada perang dingin antara China- Amerika gara-gara kebijakan tarif-nya Donald Trump?"
"Aku dengar berita itu. Tetapi tidak terlalu mengikuti."
"Hendry memanfaatkan situasi itu. Dia bermain di dua kaki. Salah satu corporate-nya dikabarkan akan menanamkan saham di perusahaan otomotif Amerika, sementara perusahaannya di Hongkong juga menanam saham di bisnis Start up Fintech di Indonesia. Padahal dana itu berasal dari hasil jual-beli dengan perusahaan di Indonesia. Kau tahu, segala ulahnya itu akan menyebabkan nilai tukar USD terhadap Rupiah meroket, karena USD akan mengalir keluar. Imbasnya akan panjang. Dan sebentar lagi kita akan pemilu. Pemerintah sudah memintanya menahan diri. Tetapi si Rakus itu tidak mau mendengarkan."
"Oh. Aku pusing! Kau tahu, aku bukan seorang pemerhati ekonomi." Otakku menjadi kusut menerima segala informasi yang disampaikan Santoso dengan cepat. "To the point, San, 'Pusat' memintaku melakukan apa?"
"Akan ada pertemuan KTT G20 dari 30 November sampai 1 Desember di Buenos Aires. Kami mendapat info, akan ada pertemuan antara Hendry dan beberapa staf Kementerian Perdagangan Amerika untuk membahas rencana penanaman modalnya di antara acara-acara itu. Kami akan menyelundupkanmu ke acara tersebut. Tugasmu menggagalkan pertemuan Hendry dengan Delegasi Kementerian Perdagangan Amerika.
"Ke Argentina? Alasan apa yang akan kukatakan pada suamiku?"
"Kami akan mengurusnya," Santoso menepuk pundakku lalu ia beranjak pergi.
"Jangan lupa, kirimi aku referensi tentang Orbital Mechanics!" teriakku ke punggungnya.
Tanpa menoleh, Santoso mengacungkan jempolnya ke udara.
Sipat kuping, aku menuju ke Lab untuk mengambil Laptopku, lalu kembali melesat ke kantor Bie. 
Bie sedang menghadapi komputer di meja kerjanya. Dia menoleh sejenak saat aku masuk.
"Kau lama sekali. Dari mana?" 
"Yah, dari Lab, mengambil laptop. Karena masih sepi di sana, aku menyempatkan browsing seperti permintaanmu di komputer Lab. Link-nya nanti kukirim." Ponselku barusan saja berbunyi ting beberapa kali. Kuyakin Santoso telah mengirim beberapa referensi.
Bie mengangguk.
"Tolong sekalian dicetak saja, Sayang. Aku lebih suka membaca dalam bentuk cetakan daripada dalam bentuk elektronik data, "pintanya.
Saat makan malam, Bie memberitahuku,
"Aku mendapat  undangan untuk mengisi kuliah sebagai dosen tamu di Universidad de Buenos Aires pada 30 November. Mereka bertanya, apakah aku akan membawa keluarga, karena mereka akan memesankan tiketnya sekalian. Kau mau ikut?"
"Buenos Aires itu di Argentina, kan, Bie? Aku ikut, ya, Bie? Aku belum pernah ke sana.." rayuku manja. "Berapa hari kita di sana?"
"Acara kuliahnya sih, hari Jum'at pagi. Aku akan meminta tiket balik hari Minggu sore saja. Biar kita sempat jalan-jalan di sana."
Aku mengangguk dengan antusias. Seolah hal tersebut adalah keberuntungan mendadak bagi kami. Walau sebenarnya aku tahu, siapa yang telah mengatur semua itu.
Kamis pagi aku dan Bie terbang ke Buenos Aires. Rupanya Santoso pun ikut ditugaskan bersamaku dan kami satu pesawat. Namun hingga check in di hotel yang sama, kami pura-pura tidak saling mengenal. 
Kami naik lift bersamaan dengan diantar dua petugas yang berbeda. Menyadari kami check- in dalam waktu bersamaan, suamiku menyapa Santoso, yang ditanggapi dengan keramahan orang asing. Sebelum aku dan Bie keluar dari lift, Santoso menyelipkan sebuah kartu elektronik dan secarik kertas ke genggamanku.
Saat Bie di toilet, aku mengakses aplikasi rahasia di ponselku dengan menggunakan kata kunci sekali pakai yang diberikan oleh Santoso di lift tadi. Aplikasi itu menampilkan perintah dan segala fasilitas di suatu tempat yang bisa kupakai untuk melaksanakan perintah itu.
Dengan alasan masih jetlag, dan ingin tidur lebih lama, aku tidak ikut Bie ke Universitas. Begitu mobil penjemput Bie meninggalkan hotel, aku dan Santoso berangkat ke Costa Salguero Convention Center, tempat acara KTT tersebut diadakan. Kami terdaftar dalam delegasi Mexico, sebagai staf penerjemah Bahasa Spanyol.  Di dalam gedung acara, sempat kulihat Ibu Sri Mulyani dan Pak Jusuf Kalla beserta rombongan delegasi Indonesia. Walau aku mengagumi keduanya, tentu aku tidak bisa mendekat. Bahkan sedapat mungkin kehadiranku di sini tidak terdeteksi. Tugasku pagi ini hanya untuk mempelajari situasi. 
Sore hari pukul empat, aku mulai gelisah. Aku harus kembali ke hotel karena sebentar lagi tentu acara Bie akan selesai.
"Tenang, Mira, kami sudah mengatur agar Prof. Theresa Tzu mengajaknya makan malam."
"Apa? Maksudmu, tuan rumah acara kuliah itu adalah seorang perempuan?"
Santoso tertawa kecil, "Kenapa? Kau cemburu? Dia sudah 60 tahun!"
"Kau salah jika berpikir usia 60 tahun itu sudah tua, kau tahu beberapa dosen di kampus kita masih aktif di usia 70 tahun lebih."
"Iya, sih, Prof. Tzu juga sebenarnya masih cantik."
"Tuh, kaaan...!" aku cemberut.
Sabtu pagi, saat aku dan Bie sarapan di restoran hotel, perintah baru datang dibawa oleh Santoso. Ia memberikan kertas ketika Bie mengantri di konter omelet. 
"Kita berangkat pukul 8, Mira."
"Tapi suamiku...?"
"Nanti kami yang urus."
10 menit kemudian, terjadi kegaduhan di restoran. Bie terjatuh karena kepleset saat akan mengantri mengambil air mineral. Ia pingsan.
"Cepat, Mira, kita berangkat sekarang!" Santosa berbisik di telingaku yang sedang berjongkok berusaha membangunkan Bie.
"Aku..."
"Dia hanya pingsan. Nanti sore juga bangun. Ada tim kita yang akan mengurusnya."
Dengan hati masygul aku berangkat bersama Santoso.
"Kita ke berangkat ke Alviar Palace Hotel. Lelaki tua itu menyewa beberapa suite di sana."
Sesungguhnya aku selalu merasa tidak tega setiap kali menjalankan operasi dengan target orang berusia lanjut. Demikian pula dengan Hendry. Jika kita tidak tahu bagaimana sepak terjangnya, kita akan menyangka ia adalah orang tua penyayang yang baik hati. Sedangkan bisnis moncernya merupakan balasan kebaikan dari banyaknya kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya. Ya, memang. Setiap kali ada musibah, spanduk-spanduk bantuan kemanusiaan beserta relawan dengan mengusung nama-nama perusahaan-perusahaannya adalah salah satu yang akan muncul tercepat dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Padahal hal itu salah satu caranya menghindari pajak yang tinggi.
Aku masuk ke suite Hendry sebagai petugas pengantar makanan. Stafnya memberikanku tips 1000 peso. Kulihat Hendry sedang duduk di sofa menonton tivi. Kakinya menjulur ke atas meja.
"Selamat siang, Pak Hendry," aku menyapanya dari kejauhan meja pantry.
"Selamat siang," jawabnya acuh.
"Wah, saya senang sekali bisa melayani Bapak. Salah satu pengusaha besar Indonesia yang saya kagumi. Saya pernah baca biografi Bapak, betapa Bapak memulai bisnis dari bawah. Bapak hebat sekali," pujiku.
"Sudah. Kalau tugasmu sudah selesai. Keluar sana!" Perintah staf keamanannya dengan kasar.
"Baik, Pak." Saya mengangguk dengan sopan. "Saya cuma tidak menyangka bisa melayani orang hebat Indonesia. Sebagai sesama WNI, saya bangga ada orang setanah air sehebat Pak Hendry, Pak."
"Ya sudah! Silakan keluar! Bapak sedang istirahat!"
"Eh, Jon..Jon..Jangan kasar begitu terhadap sesama orang setanah air. Sekarang semua serba gampang diviralkan. Nanti dikira aku yang mengusirnya." Hendry akhirnya berdiri dari duduknya.
"Oh, tidak, Pak. Saya tidak senaif itu." Aku mengangguk makin takjim kepada Hendry. "Saya boleh salaman, Pak? Sungguh saya mengagumi kerja keras Bapak bisa membangun konglomerasi dari perusahaan kecil hingga sehebat sekarang. Tolong doakan saya bisa sehebat Bapak kelak."
"Baik. Sini, Anak Muda. Siapa nama kamu?"
Aku mendekati Hendry. 
Aduh siapa, yah, namaku? Dengan cepat aku melirik papan nama yang terjepit di seragam pelayanku.
"Julia, Pak."
"Gajimu di sini besarkah? Kalau cuma jadi pelayan, kenapa tidak di Indonesia saja?" 
Ah, walau dibungkus kesantunan, tetap ada kesombongan dalam nada suaranya.
"Saya mahasiswa, sebenarnya, Pak. Jadi pelayan hanya pekerjaan paruh waktu,"
"Oh, bagus itu! Semoga kau berhasil." Hendry mengulurkan tangannya yang kusambut dengan kedua telapak tangan, lalu punggung tangannya kucium dengan takjim. Selayaknya seorang anak muda menghormati orang tua.
Aku menggenggam dengan lebih erat, ketika kutusukkan sebuah jarum micro yang mencuat dari gelangku, ke pembuluh darah di pergelangan tangannya bagian dalam. Akan butuh 7 hingga 8 jam bagi racun itu untuk mengalir di darahnya, merusak sawar darah otak, kemudian mempengaruhi sistem syarafnya. Aku memang hanya ingin membuatnya sakit, paling tidak selama setahun.
"Sudah... sudah...kau bisa pergi sekarang!" Stafnya kembali mengusirku. Aku mematuhi.
"Kubilang jangan begitu, Jon! Hai, siapa namamu tadi? Tunggu!" Hendry melambai padaku yang baru berjalan 5 langkah. Aku berbalik menghadapnya dengan hormat.
"Julia, Pak,"
"Iya. Julia, tunggu sebentar." Lalu Hendry berbicara pada Jon, "Berikan ia uang 100.000 peso!" Lalu ia berbicara lagi padaku, "Aku kasihan pada anak muda yang sedang berjuang jauh dari rumah."
Wow! Dia memberikan tip nyaris 40 juta rupiah!
Jon masuk ke salah satu kamar, tak lama ia kembali. Aku merapikan gelangku.
Jon menyerahkan segepok uang 100.000 peso dengan angkuh. Setelah menerima uang itu, aku menyalami Jon dengan berterima kasih. Dan dua dosis racun telah kutusukkan ke punggung tangannya. Aku benci orang angkuh.
Peraturan hotel bintang 5 ini mengharuskan pelayan memakai sarung tangan putih saat melayani tamu. Hal ini menguntungkanku sehingga aku tidak banyak meninggalkan jejak sidik jari. Aku menyelinap ke toilet salah satu kamar kosong, dengan masterkey yang digandakan oleh Santoso, berganti baju, lalu meninggalkan hotel. Santoso bertugas menghapus semua tangkapan CCTV hotel tentang keberadaanku di sana.
Menjelang petang, suamiku terbangun dari pingsannya. Dia mengeluh pusing dan merasa lapar.  Aku sudah memeriksa sendiri, tak ada benjol atau luka serius di kepalanya. Hanya ada luka memar di sikunya, akibat terantuk lantai.
Aku dengan Bie sedang  menikmati  koleksi Museo Nacional de Bella Artes di sudut Avenue del Libertador, ketika bunyi ting terdengar dari ponselku. Pesan dari Santoso. Ia memberikan link berita yang menyatakan bahwa seorang pengusaha papan atas Indonesia terserang stroke dan dilarikan ke rumah sakit dini hari tadi. 
"Pesan dari siapa?" tanya Bie. Rupanya ia penasaran melihat aku sejenak menghentikan langkah.
"Ini loh, berita dari teman. Ada pengusaha Indonesia terserang stroke semalam. Kebetulan pengusaha itu sedang di Buenos Aires juga mengikuti KTT G20."
"Kamu jangan dekat-dekat area KTT, ya. Kudengar dari Tzu kemarin, hari ini akan ada demo besar-besaran di sana."
"Oh, aku tidak akan kemana-mana hari ini. Sepulang dari Museum, aku akan berendam berlama-lama di bath tube. Memesan makanan yang paling enak. Pokoknya aku akan bersenang-senang menikmati fasilitas gratis ini." Lalu aku menatap suamiku dengan tatapan menggoda, "Dan kalau kepalamu sudah tidak pusing, hm, bagaimana jika nanti kita...."
Bie tertawa,
"Tawaran menggiurkan. Aku tidak akan menolak." 
(Tulisan ini diterbitkan juga di akun FP Mirari's Story dan akun FB saya)

0 komentar

The Cracker

#Fiksi_Schatzi
*The Cracker*
Paula Brighton berjalan santai di dalam North Park Centre, salah satu mall terbesar di Dallas. Kedua tangannya penuh dengan berbagai tas kertas berlogo merek-merek terkenal. Macy's, GAP, Sephora, Kate Spade dan lainnya. Ia tampaknya sedang sangat menikmati saatnya berbelanja untuk hadiah Natal.
Gadis berkulit putih itu begitu antusias menatapi etalase-etalase toko. Tetapi setiap kali melihat bayangan tubuhnya tertangkap cermin, ia akan menyeka hidung atau mengusap pipinya yang memerah akibat terpapar udara dingin. Rona yang justru membuatnya makin cantik. Dengan tinggi 175 cm, rambut pirang sepunggung dan tubuh langsing, ia tampak bagai peragawati. Sorot matanya yang polos seperti bayi, seringkali menjebak persepsi orang yang belum mengenalnya. Di balik penampilan dan caranya tertawa yang terputus-putus, kau tak akan menyangka jika ia adalah seorang yang sangat cerdas.
Walau kedua tangannya sudah dipenuhi oleh jinjingan, Paula masih ingin berbelanja. Dalam hati ia berhitung jumlah kado yang harus dibeli untuk serombongan keponakan, sepupu, paman, tante, dan tentu kedua orang tua beserta tiga orang adik lelakinya. Uangnya lebih dari cukup saat ini . Hasil kerjanya selama 7 menit semalam, bisa membayar semua barang belanjaan itu.
Sementara di bagian lain Texas, tepatnya di Austin, Mira sedang memasak untuk makan malam ketika suaminya keluar dari kamar tidur mereka. Lelaki itu menuruni anak tangga dengan tergesa,
"Telepon dari pamanmu di Indonesia." Bie -ia menyebut suaminya begitu- menyerahkan ponsel Mira yang bernomor operator Indonesia.
Seketika Mira paham.
Sesungguhnya Mira tidak memiliki 'Paman'. Almarhum ayahnya adalah sulung yang hanya memiliki satu orang adik perempuan. Bibinya sudah meninggal sebelum menikah. Sedangkan pada saudara-saudara lelaki ibunya, ia memanggil mereka dengan Oom. Suaminya mengenal mereka semua, dan juga ikut-ikutan memanggil mereka dengan Oom. Dan Oom-oomnya itu sampai detik ini belum pernah sekalipun menelponnya. Kalaupun keluarga Oom-nya akan mengundang ke sebuah acara keluarga, misalnya, yang menelpon untuk memberitahu selalu tantenya.
Mira mematikan kompor, mengambil ponsel dari Bie dengan riang, seolah akan berbicara dengan keluarga yang dirindukannya. Lalu menghempaskan pantatnya di sofa yang terletak di samping lemari buku. Karena dengan duduk di situ, Bie akan susah untuk ikut mengintip ke layar ponselnya.
Dengan tersenyum lebar, Mira menjawab telepon itu,
"Assalamu'alaikum, Paman."
"8756324510980023," jawab suara lelaki di seberang sana.
Mira segera memencet 16 angka tersebut di 'keypad' ponsel, sebagai kata kunci untuk masuk ke jalur komunikasi aman. Nomor itu hanya bisa dipakai satu kali dan tidak boleh salah. Jika ia salah memasukkan satu angka saja, maka pembicaraan tersebut akan terputus. Dan apakah ia akan dihubungi kembali atau tidak, tergantung hasil analisa dari 'Pusat'. Maka ketika disebutkan, saat itu juga ia harus menghapal nomor-nomor yang diberikan.
Setelah ia selesai memasukkan sederet angka, terdengar bunyi dengung sedetik. Lalu hening.
"Mira," suara lelaki yang berbicara dari jalur telepon di seberang sana, kini terdengar bergema dengan aneh. Ia seperti sedang berbicara di ruang kosong.
"Sejam lalu Aditya sudah mendarat di Bandara DFW. Kau dan Santoso Umardy harus segera menemuinya di Dallas. Kami harap paling telat jam enam besok pagi, kalian bertiga harus sudah di berkumpul di Sheraton DFW. Instruksi berikutnya akan kami berikan pada pukul 6 pagi."
"Baik, Paman. Saya paham." Lalu Mira menoleh pada suaminya yang sekarang sedang berada di depan kompor. Lelaki itu melanjutkan tugas memasaknya. "Bie, Paman titip salam buatmu."
Padahal sambungan telepon itu sudah ditutup.
"Salam kembali dariku," jawab Bie. "Cepat sekali teleponnya. Ada kabar apa dari Indonesia?" Lelaki itu menyerahkan sepiring tumis jamur dan brokoli pada Mira, yang baru saja dimasaknya. Mira meletakkan piring itu di meja makan.
"Yah, kau tahu, orang tua kan? Mereka khawatir dengan mahalnya biaya sambungan internasional. Paman cuma mengabari bahwa salah satu sepupuku baru saja tiba di Dallas. Ada urusan pekerjaan. Beliau memintaku menemani satu dua hari saat Si Bengal itu berada di sana. Kau mau ikut, Bie?"
Mira seolah menawari. Padahal yang diinginkan justru sebaliknya. Apapun urusan yang akan dikerjakan nanti di Dallas, ia tidak ingin melibatkan suaminya.
Bie menarik napas berat. "Kamu harus,ya, berangkat ke sana?"
"Paman sendiri yang menelpon. Aku tidak enak hati jika menolaknya. Paling lama dua hari, Bie."
"Aku ingin ikut. Tetapi, yah, kau tahu aku masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di kampus."
"Oke, kalau begitu. Tidak masalah kan jika aku pergi sendiri?"
Bie tersenyum pasrah.
Mira memakan porsi bagiannya dengan lahap. Mereka mengobrol tentang rencana libur Natal dan Tahun Baru di Utah. Kampung halaman Bie.
"Ting!" Ponsel Mira berbunyi. Ia melihat ke layar LCD ponselnya.
"Email dari Paman. Ia akan mengirimkan mobil sewaan. Mobil itu akan datang jam 11 malam ini." Mira menunjukkan isi email yang diterima pada suaminya, dengan nada santai.
"Hah! Malam ini juga kau akan berangkat? Kukira besok atau lusa," Bie nampak terkejut campur kecewa.
"Yah... kan kubilang sepupuku itu sudah ada di Dallas sekarang. Aku janji, Bie, lusa aku pulang. Ya?"
"Yah, sudahlah. Inilah salah satu susahnya menikah dengan perempuan Indonesia. Kalian begitu terikat kekeluargaan," desah Bie.
"Kau menyesal nih?" Rajuknya pura-pura.
"Bukan begitu. Tapi..." Lelaki itu menarik napas panjang kembali. "Ya sudah. Berangkatlah. Hati-hati,ya. Jangan lama-lama di Dallas." Suami Mira akhirnya mengalah.
Jam 11 kurang 5 menit, mobil sewaan datang. Mira sudah menyiapkan koper kecil berisi tiga pasang baju. Bie membantunya mengangkat koper ke bagasi. Dengan wajah yang menunjukkan ia berat hati ditinggalkan, lelaki itu melambai saat mobil itu melaju.
Mira mengisi bensin di Pom bensin sebelum masuk ke jalan tol. Lalu ia menuju Lantatur Starbucks. Dengan sabar ia mengantri untuk segelas Coffee Latte dan sebuah roti sebagai bekal di perjalanan menuju Dallas.
Begitu mobilnya berada di bawah naungan atap Lantatur, Mira langsung bergerak turun dan segera pindah ke mobil yang mengantri di depannya. Sedangkan posisinya di kemudi mobil sewaan, digantikan oleh perempuan lain yang turun dari mobil yang sekarang dinaikinya.
Ini dilakukannya untuk melepaskan diri dari pengawasan suaminya. Bie adalah seorang profesor Aerospace Engineering. Ia mengizinkan Mira berangkat sendiri ke luar kota yang berjarak lebih dari 300 km itu, karena ia pasti berpikir bisa diam-diam mengamati dari pergerakan GPS mobil dan ponsel Mira dengan seperangkat alat monitor yang dimilikinya. Padahal, Mira tidak ingin suaminya tahu ia terlibat dalam tugas-tugas yang seringkali menantang bahaya.
Mira menyimpan ponselnya dalam dashboard mobil sewaan, yang tetap melaju ke Dallas. Sementara Mira dan Santoso berbalik arah kembali ke Austin.
"Rencana berubah," kata Santoso barusan. "Target kita berencana mengajak keluarganya menonton Trail of Lights di Zilker Park besok petang. Mereka sudah memesan 24 Platinum Pass."
Mira terbelalak. Paket tiket Platinum Pass untuk 4 orang adalah $260. Berarti untuk tiket masuk menonton lampu-lampu hias itu si Target harus merogoh $1.500 lebih. Belum makanan. Dan hotel jika mereka menginap. Karena berdasarkan data yang dikirim dari pusat, Target dan keluarganya tinggal di Dallas. Tampaknya Target kali ini memiliki banyak uang yang akan dihamburkan di perayaan Natal.
"Lalu bagaimana dengan Aditya?"
Hanya Mira dan Santoso di dalam Mazda hitam yang saat ini mereka kendarai.
"Dia akan melakukan bagiannya di Dallas sana. Jika kita membutuhkan, dia bisa datang menyusul kesini, besok."
"Lalu gadis tadi, siapa?" Mira belum pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Dia mau menyerahkan kunci mobil -yang di dalamnya ada ponselnya- karena menuruti perintah Santoso.
Santoso tertawa kecil. Agak melecehkan. 
"Dia sudah kukasih uang untuk berbelanja di Dallas. Dia senang sekali kubilang boleh memakai mobil itu sepuasnya selama dua hari. Aku juga sudah memesankan kamar hotel buatnya. Walau dia harus meminjam namamu untuk check in."
"Pacarmu, ya?"
"Kau tahu, aku tidak sebodoh kau!" Santoso memelototi Mira. Ketika disadarinya jalanan sedang padat, pandangannya kembali ke jalan raya. "Awalnya kupikir kau cuma naksir saja karena Profesormu itu memang tampan. Tetapi ketika kudengar kau bersedia dinikahinya, ingin rasanya aku menembak kepala tololmu itu. Bukannya aku tidak suka melihat kau bahagia. Tetapi, resikomu akan jauh lebih besar jika kau berkeluarga."
Mira mendesah, ia mengakui perkataan Santoso itu benar.
"Aku jatuh cinta padanya. Dan sebelum memutuskan menerima lamarannya, aku sudah berencana berhenti dari pekerjaan ini. Tetapi..."
"Kau pikir, bisa segampang itu?" Sambar Santoso dengan gemas.
"Bantulah aku, Santoso."
Santoso menggeleng, "Aku belum tahu ada orang yang sukses pensiun dari pekerjaan ini tanpa cacat atau meninggal, Mira."
"Kau jangan menakut-nakutiku!"
"Yah... Aku berkata jujur." Santoso tertawa pahit.
Mereka sama-sama menarik napas berat. Sadar dengan konsekwensi pekerjaan mereka.
"Kalau perempuan tadi bukan pacarmu, dia siapa?" Mira masih penasaran. Memang wataknya selalu ingin tahu.
"Dia siapa? Ya, dia perempuan. Kau lihat kan?"
"Bayaran? Dia dibayar hanya untuk membawa mobil ke Dallas, atau...?"
"Kau cerewet sekali! Hei dengar, aku bukan Pastor. Dan aku 'straight'. Artinya, aku butuh perempuan, Mira! Jadi yah, begitu deh..." Santoso tertawa dengan malu-malu. Mira hanya mengangkat alis sebagai respon bahwa dia mengerti maksud Santoso.
Mira sebenarnya sering kesal pada kebiasaan partnernya yang kerap memanfaatkan perempuan dengan status tidak jelas, untuk peran-peran kecil di tugas yang mereka emban. Mira khawatir perempuan lugu itu akan jadi korban atau bahkan tidak mungkin buka suara jika mendapat tekanan dari lawan mereka.
Hampir pukul satu dini hari ketika Mira check in di hotel dekat Zilker Park. Sebenarnya jarak ke rumahnya tidak sampai 10 km. Tetapi ia sengaja tidak pulang, agar tidak perlu bersusah payah mencari alasan pada Bie, jika ia harus ke luar rumah selama menjalankan tugas ini.
Sedangkan Santoso pulang ke apartemennya.
Keesokan harinya, Santoso datang ke hotel menjelang pukul 1 siang. Ia dan Mira masih sempat untuk makan siang, sebelum mereka berdandan mengubah penampilan.
Austin adalah kota tempat mereka beraktifitas. Dan di Zilker Park sedang ada acara Festival Lampu Hias tahunan "Trail of Lights". Sehingga sangat memungkinkan nanti bertemu dengan orang-orang yang mengenal mereka. Padahal saat beraksi, tentu mereka tidak ingin dikenali.
Dengan memakai make up, mereka berdandan seolah adalah pasangan turis Jepang. Mereka membawa paspor bernama Mr. Kotaro Hiroshi dan Neima Hiroshi sebagai identitas mereka. Berdasarkan stempel imigrasi, mereka baru tiba di Bandara Bergstorm kemarin pagi.
Target operasi mereka hari ini adalah Paula Brighton.
Dibalik penampilan sebagai seorang gadis yang tengah menikmati masa-masa baru selesai kuliah, sesungguhnya Paula adalah seorang cracker yang sadis. Di komunitas Hacker dan Cracker Internasional, ia menamai dirinya Fairyfly. Karena ia yakin, dengan kecerdikan dan kecerdasan yang dimilikinya ia akan selalu bisa lolos dari lubang jarum sekalipun.
Selama ini tidak ada seorangpun yang tahu identitas aslinya, hingga tiga hari lalu ia membobol sistem keamanan sebuah bank swasta di Indonesia. Bank Adiunggul adalah bank swasta dengan jaringan terbesar dengan jumlah nasabah terbanyak di Indonesia.
Celah keamanan bank tersebut sempat terbuka hanya selama 7 menit. Para ahli IT bank harus berjibaku melawan Fairyfly untuk memulihkan kondisi tersebut. Nampaknya Fairyfly adalah Cracker yang tahu kapan harus berhenti'. Ia selalu segera mundur sebelum terdeteksi.
Namun kerusakan 7 menit itu menyebabkan hilangnya nyaris 50 milyar uang nasabah. Dan penghentian layanan online selama 30 jam. 
Dengan tanpa ribut-ribut, bank segera mengganti uang nasabah. Bank tentu tidak ingin publik menjadi resah karena menyadari bank tempat mereka mempercayai uang mereka disimpan, bisa dibobol oleh cracker. Maka kasus ini hanya diketahui oleh segelintir pihak.
Dan yang tidak diketahui oleh Fairyfly adalah sistem keamanan bank itu dibangun oleh perusahaan dimana Santoso menjadi salah satu developer sistem tersebut. Memang, sebagai kamuflase dari pekerjaan sebagai agen rahasia pemerintah, Santoso menjadi mahasiswa dan bekerja pada perusahaan 'yang seolah-olah' memberi beasiswa kuliahnya.
Dari situlah Santoso menemui 'signature' pembobolnya. Ternyata antara Santoso dan Fairyfly memiliki satu profesor pembimbing yang sama.
Bank tentu sangat tidak suka jika mereka kebobolan. Karena sesungguhnya bisnis bank adalah bisnis kepercayaan. Tak terbayangka jika masyarakat tahu bahwa uang mereka bisa hilang sewaktu-waktu gara-gara ulah cracker. Begitu pun efek ini akan berimbas bagi pemerintah. Bisa terjadi devaluasi sebagai akibat tidak percaya pada bank, masyarakat menarik uangnya secara serentak.
Maka, keputusan bulat adalah Paula Brighton harus dimintai 'pertanggungjawabannya'.
Ah, sebetulnya pihak bank sudah menduga, kemungkinan uang yang dibobol oleh Paula, sebagian besar sudah habis. Tentu difoya-foyakan. Begitulah sifat pencuri. Ketika sekali berhasil melakukan aksinya, mereka akan ketagihan untuk melakukan pencurian lagi dan lagi. Hormon adrenalin yang membanjiri saat beraksi, bisa menjadi candu.
Di lain pihak, tentu pemerintah Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika ada warga negaranya yang diculik.
Maka, pertanggungjawaban itu berarti hukuman. Dan hukuman berarti eksekusi.
Tetapi nampaknya Paula tahu bahwa dirinya tidak aman saat berada di tengah keramaian kali ini. Nalurinya merasa bahwa ia diawasi. Maka ia selalu berada pada posisi di tengah-tengah rombongan keluarganya. Hal ini menyulitkan Mira dan Santoso untuk mendekatinya.
Telah beberapa kali Mira hampir bisa mendekati Paula. Diantaranya ketika rombongan mereka sedang berfoto di bawah pohon Oak besar yang penuh dengan gelayutan lampu-lampu yang setiap dua detik warnanya berubah. Mira pura-pura minta di foto juga oleh 'suaminya' Kotaro-san. Tetapi, kemudian Paula karena tubuh tingginya, ia didorong salah satu anak kecil untuk pindah ke bagian belakang rombongan yang sedang di foto itu.
Begitupun ketika mereka bermaksud mengantri di Bianglala. Antrian dengan dibatasi pagar besi itu memaksa pengantri berdiri satu persatu. Mira dan Santoso berpikir, suatu saat mereka akan bersisian dalam barisan antrian. Maka keduanya buru-buru mengambil posisi. Tetapi ternyata, dengan akses Platinum Pass, rombongan keluarga Paula tidak perlu mengantri. Petugas mengarahkan mereka agar masuk melalui pintu yang berbeda. Mau tidak mau Mr dan Mrs Hiroshi harus tetap naik Bianglala, agar tidak mencurigakan.
Turun dari Bianglala, hampir satu setengah jam mereka kehilangan jejak rombongan tersebut. Pengunjung festival begitu padat.
Sebetulnya, mereka berdua sudah bermaksud menghindari mengunjungi anjungan UT Austin, ketika tanpa disengaja terdengar suara anak kecil memanggil Paula agar mendekat, karena di anjungan tersebut ada Bevo si Banteng sedang diberi makan. Keponakan Paula meminta dipotret di dekat kandang Banteng itu.
Maka -walau dengan enggan, Mr. dan Mrs. Hirochi juga ingin berfoto dan berkunjung ke anjungan tersebut. Sejujurnya mereka tidak ingin beraksi di sana. Ada semacam rasa hormat pada kampus tempat mereka menuntut ilmu. Mereka cuma tidak ingin Paula lepas dari pandangan mata.
Dan betapa terkejutnya Mira, ketika dilihatnya Bie berdiri di salah satu sudut anjungan UT Austin. Rupanya ia menjadi wakil dari universitas yang bertugas menjelaskan program-program pendidikan tempatnya bekerja. Lelaki itu memakai kemeja oranye -warna khas universitas- dengan jas dan celana hitam. Mira sempat terpesona lagi dengan penampilan suaminya malam ini.
Dan sudah tentu Paula menghampiri Bie.
"Hallo, apa kabar Prof. Senang bisa bertemu anda lagi."
Rupanya Bie langsung mengenali mantan mahasiswinya itu. Seorang guru biasanya akan sangat ingat pada beberapa murid diantara ratusan murid lain yang pernah dididiknya, jika ia adalah murid yang istimewa. Entah karena murid itu adalah murid yang paling bandel, paling lucu, atau paling pintar. Dan akan makin mudah diingat jika punya beberapa kelebihan seperti Paula. Mantan mahasiswa dan dosen itu segera terlibat dalam percakapan akrab. Hanya mereka berdua, berdiri berhadap-hadapan. Sedangkan anggota keluarga Paula berpencar melihat koleksi-koleksi replika hasil riset universitas.
Dan detik itu, Mira menyadari bahwa saat inilah kesempatannya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Mira melirik ke Santoso. Santoso mengangguk.
Mereka berjalan dengan santai sambil mengobrol, melihat-lihat benda yang dipamerkan.
" Youkoso," kata Bie kepada pasangan berasal dari Jepang itu, ketika keduanya makin mendekat. "Konbanwa."
Paula menoleh ke belakang. Melihat kepada para tamu, lalu ia tersenyum ramah dan bergeser ke samping Bie.
"Kami dari UT Austin memperagaan beberapa benda hasil riset mahasiswa kami, jika anda tertarik, saya bisa membantu untuk sedikit menjelaskan," kata Bie dalam bahasa Jepang yang terpatah-patah. Ia memang menguasai beberapa bahasa, seperti Jerman, Spanyol dan Perancis.
"Ah.. dalam bahasa Inggris saja." Santoso -Kotaro-berbicara dalam bahasa Inggris berlogat Jepang. Mira nyaris terkikik geli mendengarnya. "Sekalian memperlancar bahasa Inggrisku," kata Kotaro-san sambil memberi isyarat pada Bie untuk ke salah satu model hasil riset yang dipamerkan.
"Sebentar aku kembali, Paula. Dan kita bisa mengobrol lagi. Aku juga ingin tahu kabarmu setelah lulus. Mungkin kau bisa menemani ibu ini," kata Bie pada Paula.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba mencubit hatiku.
"Hm.., Prof, saya pamit saja. Keluarga saya menanti di sana," Paula menunjuk serombongan keluarganya yang tampak masih asik mengobrol dan tertawa-tawa."
"Tidak sopan meninggalkan tamu. Temanilah ibu itu sebentar."
Mira tersenyum melihat suaminya menunjukkan otoritasnya. Walau Paula bukan lagi mahasiswanya. Dan mungkin karena rasa hormat, Paula mematuhi. Mereka saling melempar senyum
Itu adalah senyum terakhir Paula.
Karena begitu gadis itu memalingkan kepalanya ke arah mantan dosennya, Mira beraksi. Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan sebuah tabung obat dan segera membuka tutupnya. 3 ekor kecoa melompat ke luar jatuh ke dada Paula. Gadis itu terbelalak kaget. Detik itu juga Mira menusukkan sebuah jarum micro dengan pen seukuran setengah ruas ibu jari ke pembuluh darah Arteri Karotis Paula. Dihabiskannya seluruh isi pen ke dalam aliran darah menuju otaknya. Hanya butuh 3 detik untuk melakukan hal itu. Perempuan itu menjerit. Sejak awal Mira tahu, Paula pasti akan menjerit karena rasa sakit di lehernya. Untuk itu Mira membutuhkan kehadiran kecoa.
Mira ikut menjerit sambil teriak, "Gokiburi!"
Dengan seolah menepis kecoa, ia menusukkan lagi sebuah jarum ke arah Arteri vertebralis di belakang leher Paula.
Sebentar lagi fungsi-fungsi tubuh gadis ini akan rusak. Dia akan terserang stroke sekaligus serangan jantung. Malam ini Mira diperintahkan mengekseksusi targetnya dengan cepat.
Diinjaknya ketiga ekor kecoa malang itu. Lalu Mira mendudukkan Paula yang tiba-tiba merasa sangat pusing, di kursi terdekat. Kini Santoso, Bie serta seluruh keluarga Paula telah mengelilingi kedua perempuan itu.
Saat Paula mulai kehilangan fokus. Mira memberi isyarat pada Santoso untuk pergi. Bie tampak malu dengan insiden kehadiran kecoa itu. Dia tahu, bagi orang Jepang kebersihan sangat dijaga. Dan kehadiran kecoa menunjukkan area tersebut tidak bersih.
"Tunggu!" dengan bergegas Bie berusaha menahan langkah mereka, "Rasanya saya seperti mengenal kalian. Apakah kita pernah bertemu? Tahun ini saya beberapa kali ke Jepang untuk mengisi workshop. Mungkin kita pernah bertemu di salah satu acara tersebut?"
Tiba-tiba dari arah gerombolan keluarga Paula, terdengar suara seseorang muntah. Lalu orang itu muntah berkali-kali lagi. Bie menoleh ke arah Paula. Saat itulah Santoso menarik tangan partnernya agar cepat pergi dari anjungan tersebut.
Angka jam LED di dashboard mobil yang disewanya menunjukkan angka 23. 13 menit ketika Mira memarkir kendaraan yang dikemudikannya di depan rumah. Ia sudah menelpon pihak rental agar segera mengambil mobil itu. Mereka berjanji akan mengirim petugas penjemput paling telat 30 menit lagi.
Di carport tidak ada mobil yang terparkir. Berarti Bie belum pulang. Mungkin ia masih mengurus Paula. Hm, kini -jika sesuai rencana- jenazah Paula.
Mira masuk ke rumah, mandi, menyalakan HBO di TV ruang duduk, hanya sekedar supaya ada suara di dalam rumah sunyi ini. Lalu sambil memasak mie instan, ia memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci.
Bertepatan penjemput mobil rental datang, Ford hitam Bie memasuki carport. 
"Sudah semua barangmu kau angkut keluar dari mobil, Sayang?" Ketika bertanya Bie melingkarkan lengannya di bahu istrinya.
"Sudah, Bie. Malah baju kotorku sedang kucuci."
"Pastikan lagi. Terutama jangan sampai ponselmu tertinggal di dashboard mobil."
Walau terkejut mendengar kalimat suaminya, tetapi Mira memasang wajah tanpa bersalah. Seolah yang Bie ucapkan hanya lelucon.
"Hm, bau mie instan." Bie membaui aroma ruang makan mereka. "Tolong buatkan untukku juga, Sayang. Aku lapar sekali. "
Mira melangkah ke dapur. Secara sambil lalu, ia bertanya, "Dari mana, Bie? Koq pulangnya malam sekali?"
"Dari Dell Seton Hospital. Juga melapor ke polisi untuk kematian mendadak Paula. Menghadapi berlusin-lusin pertanyaan menyelidik mereka. Aku juga berusaha sedikit memberi penghiburan kepada keluarga gadis malang itu."
Mira memasang wajah prihatin. Bie berjalan mendekati istrinya. Lalu ia memeluk dan mencium bibir perempuan itu.
"Aku sudah mencuci bersih piring kotor yang kau dan Santoso tinggalkan setelah berpesta di Zilker Park, Sayang."
"Apa maksudmu, Bie!"
Tiba-tiba Mira menjadi gemetar.
"Kau istriku. Aku tahu siapa sesungguhnya dirimu sejak sebelum melamarmu. Dan aku tidak mungkin menjadi seorang profesor, jika aku begitu bodoh dikelabui mahasiswaku."
Mira tergugu.
"Magdalena, kontakku di FBI juga sudah tahu sepak terjang Paula beberapa hari lalu. Tadi dalam perjalanan pulang, dia menelponku. Katanya, dia sudah menyangka kalian akan bertindak," Lanjut Bie dengan kalem.
Tentu aku jadi cemas.
"Paula tidak berarti apa-apa bagi FBI. Jadi, yah, kematian seorang warga yang nakal, tidak akan membuat mereka marah. Sepanjang tidak ada yang memblow-up kasus ini."
"Bie, jadi kau tahu aku..."
"Sudah. Buatkan aku mie instan! Aku butuh vetsin sekarang!" Perintah Bie dengan galak. Tetapi di sudut bibirnya ia tersenyum. "Kita akan bahas itu setelah perutku kenyang."
*Gokiburi: Kecoa
*Youkoso: Selamat Datang
*Konbanwa: Selamat Malam
(Tulisan ini diterbitkan di FP Mirari's Story, juga di akun FB saya)
 
;