Thursday, February 14, 2019

Kini Tak Ada Lagi Bulan

Senja itu aku pulang. Aku mengetuk pintu yang tertutup, berkali-kali. Tetapi tidak ada yang membukakan. Dengan ragu, aku menarik pegangan pintu. Ternyata mudah saja pintu itu terdorong hingga terbuka. Tak ada siapa-siapa. Kucari di setiap sudut rumah, tetapi dia tak ada. Dari selembar kertas yangditulisnya dengan kalimat pendek yang memedihkan, aku tahu kini ia pergi. Aku ingin mati. 
Berminggu-minggu aku membiarkan diriku tergulung kesedihan, sebelum mengisi koper dan pergi ke Texas. Karena aku ingin melihat garis-garis padang rumput mencapai cakrawala. Melupakan segala tentang hijaunya pegunungan atau semilir angin pantai, tempat dia dulu sering mengajakku. Mungkin jika Dago tidak sejuk atau pantai di Belitung tidak seindah itu, semua ini tidak akan terjadi.
Ternyata kota Austin yang kupilih, justru lebih hijau dari Jakarta. Rupanya pemerintah kota ini serius ingin menurunkan suhu kota yang sering terasa mendidih di musim panas. Aku tidak tahu akan berapa lama berada di sini. Meski jauh di lubuk hati aku tahu, bahwa aku tidak akan mampir berlama-lama. Aku menyewa kamar di sebuah hotel tua . Petugas hotel menempatkanku di lantai dua. 
Malam sudah mulai larut, namun kafe-kafe yang berderet di seberang sudut jalan, masih hinggar-bingar. Aku berdiri di tubir jendela yang kubuka lebar-lebar. Menatap kerlip lampu neon di pusat kota. Melihat ke bawah, ke jalan yang tidak pernah lengang. Tiga orang lelaki muda yang melintas sambil tertawa-tawa, menengadah. Mereka melambai dengan genit, menggodaku. Meminta aku turun atau mereka yang akan naik. Mereka berhenti berteriak dan bersuit-suit, ketika seorang lelaki berdiri di sampingku. Mengirimkan tatapan mengancam.
Kini mata lelaki itu menangkap mataku, yang tiba-tiba -tanpa kuharapkan- membasah.
"Bagaimana kau bisa masuk?"
Ia mengacungkan sebuah kartu kunci,
"Aku terkenal di kota ini," jawabnya menyombongkan diri. Tiba-tiba lengannya terbuka membentangkan jalan untuk merasakan kehangatan jiwanya. Mata birunya adalah mata tercemerlang dalam hari-hari kelabuku belakangan ini. Tenggelam dalam pelukannya bagai membunuh kobaran api yang telah membakar dada dan kepalaku hingga benakku hangus menghitam. Ia membiarkan aku membuka bendungan tangis.
"Akhirnya, aku dikalahkan," isakku.
Tak banyak yang dikatakannya untuk menghiburku, selain menawarkan berhelai-helai tisu. Selewat petang, ia membawaku ke sebuah restoran di tepi danau untuk makan malam. Kemudian kami menonton pertunjukan musik. Ia juga membeli semangkuk es krim yang kami makan sambil berjalan kembali ke hotel. 
"Akan kupikirkan apa yang bisa kulakukan untukmu," ujarnya sambil mengelus kepalaku penuh sayang di depan pintu kamar hotel.
"Tak perlu kau lakukan apa-apa. Kehadiranmu seperti hari ini, sudah menghiburku. Aku hanya butuh melarikan diriku sejenak."
"Aku akan kembali besok sore pukul lima," ia berjanji. "Kita akan makan malam dan berjalan-jalan seperti tadi."
Setelah berminggu-minggu, aku tidur nyenyak malam ini. 
Pagi hari, aku memutuskan akan mengelilingi kota. Dengan memakai topi lebar dan kacamata hitam, aku berjalan kaki tak tentu arah. Mengikuti naluriku yang memerintah untuk berbelok ke kiri atau menuju ke kanan. Tengah hari aku membeli sebuah burger dan air mineral di  sebuah restoran bernama Schlotzsky's. Sambil  menikmati sejenaksejuknya hembusan udara ber-AC sebelum kembali melanjutkan petualangan di hari yang cukup terik ini.
Di sebuah sudut jalan, aku membaca plang nama sebuah museum. Aku bermaksud melangkahkan kaki menuju ke situ. 
Aku menunggu lampu lalu lintas yang menunjukkan pejalan kaki boleh melintas. 
"Bulan..." 
Aku bagai tercerabut ketika sebuah suara bariton yang sangat kukenal terdengar memanggil. Suara yang berbelas tahun menemani hariku.  Dadaku berdetak kencang. Kuputar kepalaku ke segala arah mencari sumber suara yang terasa begitu dekat di telinga. Tetapi orang-orang di sekitarku saat ini, tak ada yang kukenal.
"Bulan..."
Suara itu kembali menggetarkan gendang telingaku. Aku melepas kaca mata hitam, menajamkan mata mencari ke segala arah. Aku tidak mungkin keliru mengenali suara itu.
"Bulan! Menyingkir dari situ!"
Kusadari sekarang, suara itu bukan berasal dari orang-orang di sekitarku. Tetapi berasal dari dalam dadaku. Bergema berdentang -dentang di otakku. Sedetik kemudian, kudengar suara letusan yang memekak telinga, diikuti decitan menyayat akibat gesekan ban mobil dan aspal. Setelahnya aku merasakan tubuhku terhantam benda keras, lalu terbang ke udara. 
Saat itu aku tersenyum. Aku kini merasa bebas bagai burung. Aku lega, karena keinginanku berminggu-minggu lalu, akan segera tercapai begitu tubuhku kembali jatuh menghantam aspal.
Senja hari pukul lima. Lelaki bermata biru cemerlang itu kembali datang menemuiku di ruang putih yang tak kukenali. Ia memelukku dengan rasa sayang. Wajahnya bersimbah air mata. 
"Aku akan mengirimmu pulang," bisiknya di telingaku yang kini telah dingin membeku.  

0 komentar:

Post a Comment

 
;