Thursday, February 14, 2019

The Assignment

"Hai! Beri merah di samping Painter Hall berbuah. Menurutmu, enakkah memakannya setelah makan siang?" Kubaca pesan yang ditulis Santoso Umardi di aplikasi Skype pada ponselku.
"Kupikir tidak ada salahnya memakan buah itu setelah makan siang. Tetapi hati-hati, jangan sampai sakit perut" jawabku juga melalui pesan di Skype.
Kutunggu lima detik hingga tanda pesanku telah terbaca. Lalu kedua pesan itu segera kuhapus.
Aku dan Santoso Umardi adalah sesama mahasiswa pascasarjana di universitas ini. Namun kami berbeda jurusan. Ia di Computer Engineering, sedangkan aku di Chemical Engineering. Dan bagiku, dia bukan sekedar teman sesama mahasiswa dari Indonesia. Dia lebih dari itu. Pesan itu bermakna, ia mengajakku bertemu di taman di samping Painter Hall setelah jam istirahat waktu perkuliahan. Yang berarti sekitar pukul 13.00
Tetapi tiga menit kemudian, nada ting kembali berbunyi, yang menandakan sebuah pesan lain masuk ke ponselku. Dari suamiku.
"Sayang, ada waktu untuk makan siang denganku? Aku akan memesan Fajita dari Juan's Corner. Atau kau mau makanan yang lain?"
Oh!
Tentu aku tidak pernah menolak undangan makan siang darinya. Karena aku tidak punya alasan yang cukup tepat untuk menolak. Selain karena dia tahu jadwal luangku, aku hanya perlu naik ke lantai 3 gedung EERC  (Engineering and Energy Research Centre) untuk mencapai kantornya. Sedangkan laboratorium yang saat ini aku pakai untuk praktikum, berada di lantai 2. Istilah teman-temanku di Jakarta, hanya perlu dua kali koprol, kami bisa bertemu.
Aku segera membuka aplikasi Skype. Mengirim pesan ke Santoso, sambil berjalan menuju tangga ke lantai 3.
"1400" tulisku.
Aku berkali-kali menyalakan LCD ponselku, menanti jawaban Santoso. Nada ting yang masuk malah membuatku resah.
"13 sharp,"  bunyi pesannya.
Menyebalkan!
Aku menarik napas panjang berkali-kali ketika mencapai lantai tiga. Aku harus menenangkan diri dan menyimpan rapat-rapat janji temu dengan Santoso. Entah bagaimana, suamiku seperti selalu bisa membaca pikiranku. Ia akan tahu ada masalah yang menggangu, jika sedikit saja aku terlihat gelisah.
Aku dan Bie, begitu aku memanggil suamiku, mengobrol tentang beberapa hal. Kami tertawa saat ia menceritakan ulah salah satu mahasiswa yang terkenal konyol, ketika ia mengajar tadi pagi. Aku menceritakan kemajuan risetku, dan ia memberikan berbagai masukan. Setelah makan, kami solat Dzuhur berjamaah.
"Aku tidak ada kelas hingga jam 3 nanti, Dik, temani di sini, ya? Aku mau minta tolong kamu bantu  mencari referensi pembanding tentang Orbital Mechanics dari database katalog perpustakaan kampus. Aku diajak Prof. Bettadpur untuk riset bareng dia, awal bulan depan."
"Aku tidak paham tentang Orbital Mechanics, Bie. Apa yang harus kucari?"
"Nanti kuberi copy abstract dari tulisan terakhir Prof. Bettadpur tentang hal ini. Jadi kau bisa mengira-ngira keyword apa yang bisa kau pakai untuk 'memanggil' referensi pembanding yang ada di database. Nanti aku yang menyeleksi, kira-kira mana yang kubutuhkan."
Aku mengangguk, "Baiklah."
Alasan apa aku menolaknya?
Aku pun jadi bingung. Entah bagaimana caranya aku mencari alasan untuk menemui Santoso. Aku juga, tentu tidak bisa menolak bertemu lelaki itu. Sementara 10 menit lagi jam satu.
"Tetapi aku akan memakai komputer juga laptopku, Sayang. Bisakah kau memakai laptopmu saja?" 
Kalimat Bie membuatku lega. 
"Ok. Aku ambil dulu laptopku di Lab."
Awalnya, ketika keluar dari ruang kantor Bie, aku berjalan dengan santai. Begitu aku menjejakkan kaki di tangga untuk turun, aku berjalan bagai setengah terbang. Taman Painter Hall berjarak dua gedung dari gedung EERC. Kurang lebih 400 meter. 
Saat aku tiba, Santoso sudah menunggu di salah satu bangku.
"Suamiku mengajak makan siang," kataku dengan napas terengah. "Sekarang dia memintaku membantunya mencari referensi tentang Orbital Mechanics. Sehingga aku tidak bisa berlama-lama. Ada apa?"
"Nanti aku aku akan bantu mencari referensi yang diminta suamimu, setelah pertemuan ini," Santoso mengelus bahuku dalam upayanya menenangkanku.
"Kau tahu Hendry Alianto?" Ia langsung bertanya begitu aku duduk di sebelahnya.
Santoso mengeluarkan segulungan kertas selebar separuh kertas A4, lalu menyerahkan kertas itu padaku. Berisi sederet angka dan potongan barcode seperti barcode pada voucher belanja. Aku membuka sebuah aplikasi tersembunyi pada ponselku, memasukkan angka dan memindai barcode tersebut untuk mengakses informasi yang disediakan bagiku.
"Siapa yang tidak tahu orang itu? Pemilik Bank Universal kan?"
"Yup. Salah satu dari 10 konglomerat paling tajir di Asia"
"Dan kupikir 3 konglomerat paling licik di Asia. Jika aku membaca track record-nya."
Salah satu kelicikan Hendry Alianto adalah mengumpulkan modal dari masyarakat melalui banknya  -dulu bernama Bank Raya,-   melalui instrumen asuransi, deposito, tabungan dan lain-lain, dengan bunga yang dijanjikan sedikit di atas bunga bank terkenal lainnya. Lalu dana masyarakat yang dihimpun, dialirkan untuk membiayai proyek-proyek pada jaringan bisninya. Ketika mata US Dollar meluncur turun, proyek-proyek tersebut merugi dan gagal bayar. Akibatnya dana nasabah tidak bisa ditarik. Terpaksa demi keamanan nasional, pemerintah mengucurkan dana talangan. Malangnya, pada rezim korup sebelumnya, aset jaminan yang diajukan ke pemerintah, nilainya real sangat jauh dari nilai yang tertera di dokumen jaminan. 
Beberapa orang dari jajaran direksi bank tersebut diperiksa. Dan akhirnya ditahan dengan hukuman cukup berat. Sementara Hendry Alianto cuci tangan. Bank Raya kemudian dijual oleh pemerintah ke lembaga keuangan asing dengan harga murah. Pemilik baru mengganti nama Bank menjadi Bank Universal. Dua tahun kemudian, Hendry Alianto membeli kembali saham mayoritas di bank tersebut. Dengan Asset dan Trust Value yang lebih besar dari sebelumnya.
Itu hanya salah satu kelicikannya. Belum lagi permainan kasarnya di industri tambang, yang seringkali 'mengunci' mata anggaran proyek tertentu agar jatuh ke salah satu perusahaannya.
"Lalu, apa perintahnya?" jelas aku menjadi penasaran. Tidak biasanya  Santoso membicarakan para pengusaha. Biasakan kami membahas para tokoh politik atau teroris.
"Kau tahu sekarang ada perang dingin antara China- Amerika gara-gara kebijakan tarif-nya Donald Trump?"
"Aku dengar berita itu. Tetapi tidak terlalu mengikuti."
"Hendry memanfaatkan situasi itu. Dia bermain di dua kaki. Salah satu corporate-nya dikabarkan akan menanamkan saham di perusahaan otomotif Amerika, sementara perusahaannya di Hongkong juga menanam saham di bisnis Start up Fintech di Indonesia. Padahal dana itu berasal dari hasil jual-beli dengan perusahaan di Indonesia. Kau tahu, segala ulahnya itu akan menyebabkan nilai tukar USD terhadap Rupiah meroket, karena USD akan mengalir keluar. Imbasnya akan panjang. Dan sebentar lagi kita akan pemilu. Pemerintah sudah memintanya menahan diri. Tetapi si Rakus itu tidak mau mendengarkan."
"Oh. Aku pusing! Kau tahu, aku bukan seorang pemerhati ekonomi." Otakku menjadi kusut menerima segala informasi yang disampaikan Santoso dengan cepat. "To the point, San, 'Pusat' memintaku melakukan apa?"
"Akan ada pertemuan KTT G20 dari 30 November sampai 1 Desember di Buenos Aires. Kami mendapat info, akan ada pertemuan antara Hendry dan beberapa staf Kementerian Perdagangan Amerika untuk membahas rencana penanaman modalnya di antara acara-acara itu. Kami akan menyelundupkanmu ke acara tersebut. Tugasmu menggagalkan pertemuan Hendry dengan Delegasi Kementerian Perdagangan Amerika.
"Ke Argentina? Alasan apa yang akan kukatakan pada suamiku?"
"Kami akan mengurusnya," Santoso menepuk pundakku lalu ia beranjak pergi.
"Jangan lupa, kirimi aku referensi tentang Orbital Mechanics!" teriakku ke punggungnya.
Tanpa menoleh, Santoso mengacungkan jempolnya ke udara.
Sipat kuping, aku menuju ke Lab untuk mengambil Laptopku, lalu kembali melesat ke kantor Bie. 
Bie sedang menghadapi komputer di meja kerjanya. Dia menoleh sejenak saat aku masuk.
"Kau lama sekali. Dari mana?" 
"Yah, dari Lab, mengambil laptop. Karena masih sepi di sana, aku menyempatkan browsing seperti permintaanmu di komputer Lab. Link-nya nanti kukirim." Ponselku barusan saja berbunyi ting beberapa kali. Kuyakin Santoso telah mengirim beberapa referensi.
Bie mengangguk.
"Tolong sekalian dicetak saja, Sayang. Aku lebih suka membaca dalam bentuk cetakan daripada dalam bentuk elektronik data, "pintanya.
Saat makan malam, Bie memberitahuku,
"Aku mendapat  undangan untuk mengisi kuliah sebagai dosen tamu di Universidad de Buenos Aires pada 30 November. Mereka bertanya, apakah aku akan membawa keluarga, karena mereka akan memesankan tiketnya sekalian. Kau mau ikut?"
"Buenos Aires itu di Argentina, kan, Bie? Aku ikut, ya, Bie? Aku belum pernah ke sana.." rayuku manja. "Berapa hari kita di sana?"
"Acara kuliahnya sih, hari Jum'at pagi. Aku akan meminta tiket balik hari Minggu sore saja. Biar kita sempat jalan-jalan di sana."
Aku mengangguk dengan antusias. Seolah hal tersebut adalah keberuntungan mendadak bagi kami. Walau sebenarnya aku tahu, siapa yang telah mengatur semua itu.
Kamis pagi aku dan Bie terbang ke Buenos Aires. Rupanya Santoso pun ikut ditugaskan bersamaku dan kami satu pesawat. Namun hingga check in di hotel yang sama, kami pura-pura tidak saling mengenal. 
Kami naik lift bersamaan dengan diantar dua petugas yang berbeda. Menyadari kami check- in dalam waktu bersamaan, suamiku menyapa Santoso, yang ditanggapi dengan keramahan orang asing. Sebelum aku dan Bie keluar dari lift, Santoso menyelipkan sebuah kartu elektronik dan secarik kertas ke genggamanku.
Saat Bie di toilet, aku mengakses aplikasi rahasia di ponselku dengan menggunakan kata kunci sekali pakai yang diberikan oleh Santoso di lift tadi. Aplikasi itu menampilkan perintah dan segala fasilitas di suatu tempat yang bisa kupakai untuk melaksanakan perintah itu.
Dengan alasan masih jetlag, dan ingin tidur lebih lama, aku tidak ikut Bie ke Universitas. Begitu mobil penjemput Bie meninggalkan hotel, aku dan Santoso berangkat ke Costa Salguero Convention Center, tempat acara KTT tersebut diadakan. Kami terdaftar dalam delegasi Mexico, sebagai staf penerjemah Bahasa Spanyol.  Di dalam gedung acara, sempat kulihat Ibu Sri Mulyani dan Pak Jusuf Kalla beserta rombongan delegasi Indonesia. Walau aku mengagumi keduanya, tentu aku tidak bisa mendekat. Bahkan sedapat mungkin kehadiranku di sini tidak terdeteksi. Tugasku pagi ini hanya untuk mempelajari situasi. 
Sore hari pukul empat, aku mulai gelisah. Aku harus kembali ke hotel karena sebentar lagi tentu acara Bie akan selesai.
"Tenang, Mira, kami sudah mengatur agar Prof. Theresa Tzu mengajaknya makan malam."
"Apa? Maksudmu, tuan rumah acara kuliah itu adalah seorang perempuan?"
Santoso tertawa kecil, "Kenapa? Kau cemburu? Dia sudah 60 tahun!"
"Kau salah jika berpikir usia 60 tahun itu sudah tua, kau tahu beberapa dosen di kampus kita masih aktif di usia 70 tahun lebih."
"Iya, sih, Prof. Tzu juga sebenarnya masih cantik."
"Tuh, kaaan...!" aku cemberut.
Sabtu pagi, saat aku dan Bie sarapan di restoran hotel, perintah baru datang dibawa oleh Santoso. Ia memberikan kertas ketika Bie mengantri di konter omelet. 
"Kita berangkat pukul 8, Mira."
"Tapi suamiku...?"
"Nanti kami yang urus."
10 menit kemudian, terjadi kegaduhan di restoran. Bie terjatuh karena kepleset saat akan mengantri mengambil air mineral. Ia pingsan.
"Cepat, Mira, kita berangkat sekarang!" Santosa berbisik di telingaku yang sedang berjongkok berusaha membangunkan Bie.
"Aku..."
"Dia hanya pingsan. Nanti sore juga bangun. Ada tim kita yang akan mengurusnya."
Dengan hati masygul aku berangkat bersama Santoso.
"Kita ke berangkat ke Alviar Palace Hotel. Lelaki tua itu menyewa beberapa suite di sana."
Sesungguhnya aku selalu merasa tidak tega setiap kali menjalankan operasi dengan target orang berusia lanjut. Demikian pula dengan Hendry. Jika kita tidak tahu bagaimana sepak terjangnya, kita akan menyangka ia adalah orang tua penyayang yang baik hati. Sedangkan bisnis moncernya merupakan balasan kebaikan dari banyaknya kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya. Ya, memang. Setiap kali ada musibah, spanduk-spanduk bantuan kemanusiaan beserta relawan dengan mengusung nama-nama perusahaan-perusahaannya adalah salah satu yang akan muncul tercepat dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Padahal hal itu salah satu caranya menghindari pajak yang tinggi.
Aku masuk ke suite Hendry sebagai petugas pengantar makanan. Stafnya memberikanku tips 1000 peso. Kulihat Hendry sedang duduk di sofa menonton tivi. Kakinya menjulur ke atas meja.
"Selamat siang, Pak Hendry," aku menyapanya dari kejauhan meja pantry.
"Selamat siang," jawabnya acuh.
"Wah, saya senang sekali bisa melayani Bapak. Salah satu pengusaha besar Indonesia yang saya kagumi. Saya pernah baca biografi Bapak, betapa Bapak memulai bisnis dari bawah. Bapak hebat sekali," pujiku.
"Sudah. Kalau tugasmu sudah selesai. Keluar sana!" Perintah staf keamanannya dengan kasar.
"Baik, Pak." Saya mengangguk dengan sopan. "Saya cuma tidak menyangka bisa melayani orang hebat Indonesia. Sebagai sesama WNI, saya bangga ada orang setanah air sehebat Pak Hendry, Pak."
"Ya sudah! Silakan keluar! Bapak sedang istirahat!"
"Eh, Jon..Jon..Jangan kasar begitu terhadap sesama orang setanah air. Sekarang semua serba gampang diviralkan. Nanti dikira aku yang mengusirnya." Hendry akhirnya berdiri dari duduknya.
"Oh, tidak, Pak. Saya tidak senaif itu." Aku mengangguk makin takjim kepada Hendry. "Saya boleh salaman, Pak? Sungguh saya mengagumi kerja keras Bapak bisa membangun konglomerasi dari perusahaan kecil hingga sehebat sekarang. Tolong doakan saya bisa sehebat Bapak kelak."
"Baik. Sini, Anak Muda. Siapa nama kamu?"
Aku mendekati Hendry. 
Aduh siapa, yah, namaku? Dengan cepat aku melirik papan nama yang terjepit di seragam pelayanku.
"Julia, Pak."
"Gajimu di sini besarkah? Kalau cuma jadi pelayan, kenapa tidak di Indonesia saja?" 
Ah, walau dibungkus kesantunan, tetap ada kesombongan dalam nada suaranya.
"Saya mahasiswa, sebenarnya, Pak. Jadi pelayan hanya pekerjaan paruh waktu,"
"Oh, bagus itu! Semoga kau berhasil." Hendry mengulurkan tangannya yang kusambut dengan kedua telapak tangan, lalu punggung tangannya kucium dengan takjim. Selayaknya seorang anak muda menghormati orang tua.
Aku menggenggam dengan lebih erat, ketika kutusukkan sebuah jarum micro yang mencuat dari gelangku, ke pembuluh darah di pergelangan tangannya bagian dalam. Akan butuh 7 hingga 8 jam bagi racun itu untuk mengalir di darahnya, merusak sawar darah otak, kemudian mempengaruhi sistem syarafnya. Aku memang hanya ingin membuatnya sakit, paling tidak selama setahun.
"Sudah... sudah...kau bisa pergi sekarang!" Stafnya kembali mengusirku. Aku mematuhi.
"Kubilang jangan begitu, Jon! Hai, siapa namamu tadi? Tunggu!" Hendry melambai padaku yang baru berjalan 5 langkah. Aku berbalik menghadapnya dengan hormat.
"Julia, Pak,"
"Iya. Julia, tunggu sebentar." Lalu Hendry berbicara pada Jon, "Berikan ia uang 100.000 peso!" Lalu ia berbicara lagi padaku, "Aku kasihan pada anak muda yang sedang berjuang jauh dari rumah."
Wow! Dia memberikan tip nyaris 40 juta rupiah!
Jon masuk ke salah satu kamar, tak lama ia kembali. Aku merapikan gelangku.
Jon menyerahkan segepok uang 100.000 peso dengan angkuh. Setelah menerima uang itu, aku menyalami Jon dengan berterima kasih. Dan dua dosis racun telah kutusukkan ke punggung tangannya. Aku benci orang angkuh.
Peraturan hotel bintang 5 ini mengharuskan pelayan memakai sarung tangan putih saat melayani tamu. Hal ini menguntungkanku sehingga aku tidak banyak meninggalkan jejak sidik jari. Aku menyelinap ke toilet salah satu kamar kosong, dengan masterkey yang digandakan oleh Santoso, berganti baju, lalu meninggalkan hotel. Santoso bertugas menghapus semua tangkapan CCTV hotel tentang keberadaanku di sana.
Menjelang petang, suamiku terbangun dari pingsannya. Dia mengeluh pusing dan merasa lapar.  Aku sudah memeriksa sendiri, tak ada benjol atau luka serius di kepalanya. Hanya ada luka memar di sikunya, akibat terantuk lantai.
Aku dengan Bie sedang  menikmati  koleksi Museo Nacional de Bella Artes di sudut Avenue del Libertador, ketika bunyi ting terdengar dari ponselku. Pesan dari Santoso. Ia memberikan link berita yang menyatakan bahwa seorang pengusaha papan atas Indonesia terserang stroke dan dilarikan ke rumah sakit dini hari tadi. 
"Pesan dari siapa?" tanya Bie. Rupanya ia penasaran melihat aku sejenak menghentikan langkah.
"Ini loh, berita dari teman. Ada pengusaha Indonesia terserang stroke semalam. Kebetulan pengusaha itu sedang di Buenos Aires juga mengikuti KTT G20."
"Kamu jangan dekat-dekat area KTT, ya. Kudengar dari Tzu kemarin, hari ini akan ada demo besar-besaran di sana."
"Oh, aku tidak akan kemana-mana hari ini. Sepulang dari Museum, aku akan berendam berlama-lama di bath tube. Memesan makanan yang paling enak. Pokoknya aku akan bersenang-senang menikmati fasilitas gratis ini." Lalu aku menatap suamiku dengan tatapan menggoda, "Dan kalau kepalamu sudah tidak pusing, hm, bagaimana jika nanti kita...."
Bie tertawa,
"Tawaran menggiurkan. Aku tidak akan menolak." 
(Tulisan ini diterbitkan juga di akun FP Mirari's Story dan akun FB saya)

0 komentar:

Post a Comment

 
;