Thursday, February 14, 2019

The Cracker

#Fiksi_Schatzi
*The Cracker*
Paula Brighton berjalan santai di dalam North Park Centre, salah satu mall terbesar di Dallas. Kedua tangannya penuh dengan berbagai tas kertas berlogo merek-merek terkenal. Macy's, GAP, Sephora, Kate Spade dan lainnya. Ia tampaknya sedang sangat menikmati saatnya berbelanja untuk hadiah Natal.
Gadis berkulit putih itu begitu antusias menatapi etalase-etalase toko. Tetapi setiap kali melihat bayangan tubuhnya tertangkap cermin, ia akan menyeka hidung atau mengusap pipinya yang memerah akibat terpapar udara dingin. Rona yang justru membuatnya makin cantik. Dengan tinggi 175 cm, rambut pirang sepunggung dan tubuh langsing, ia tampak bagai peragawati. Sorot matanya yang polos seperti bayi, seringkali menjebak persepsi orang yang belum mengenalnya. Di balik penampilan dan caranya tertawa yang terputus-putus, kau tak akan menyangka jika ia adalah seorang yang sangat cerdas.
Walau kedua tangannya sudah dipenuhi oleh jinjingan, Paula masih ingin berbelanja. Dalam hati ia berhitung jumlah kado yang harus dibeli untuk serombongan keponakan, sepupu, paman, tante, dan tentu kedua orang tua beserta tiga orang adik lelakinya. Uangnya lebih dari cukup saat ini . Hasil kerjanya selama 7 menit semalam, bisa membayar semua barang belanjaan itu.
Sementara di bagian lain Texas, tepatnya di Austin, Mira sedang memasak untuk makan malam ketika suaminya keluar dari kamar tidur mereka. Lelaki itu menuruni anak tangga dengan tergesa,
"Telepon dari pamanmu di Indonesia." Bie -ia menyebut suaminya begitu- menyerahkan ponsel Mira yang bernomor operator Indonesia.
Seketika Mira paham.
Sesungguhnya Mira tidak memiliki 'Paman'. Almarhum ayahnya adalah sulung yang hanya memiliki satu orang adik perempuan. Bibinya sudah meninggal sebelum menikah. Sedangkan pada saudara-saudara lelaki ibunya, ia memanggil mereka dengan Oom. Suaminya mengenal mereka semua, dan juga ikut-ikutan memanggil mereka dengan Oom. Dan Oom-oomnya itu sampai detik ini belum pernah sekalipun menelponnya. Kalaupun keluarga Oom-nya akan mengundang ke sebuah acara keluarga, misalnya, yang menelpon untuk memberitahu selalu tantenya.
Mira mematikan kompor, mengambil ponsel dari Bie dengan riang, seolah akan berbicara dengan keluarga yang dirindukannya. Lalu menghempaskan pantatnya di sofa yang terletak di samping lemari buku. Karena dengan duduk di situ, Bie akan susah untuk ikut mengintip ke layar ponselnya.
Dengan tersenyum lebar, Mira menjawab telepon itu,
"Assalamu'alaikum, Paman."
"8756324510980023," jawab suara lelaki di seberang sana.
Mira segera memencet 16 angka tersebut di 'keypad' ponsel, sebagai kata kunci untuk masuk ke jalur komunikasi aman. Nomor itu hanya bisa dipakai satu kali dan tidak boleh salah. Jika ia salah memasukkan satu angka saja, maka pembicaraan tersebut akan terputus. Dan apakah ia akan dihubungi kembali atau tidak, tergantung hasil analisa dari 'Pusat'. Maka ketika disebutkan, saat itu juga ia harus menghapal nomor-nomor yang diberikan.
Setelah ia selesai memasukkan sederet angka, terdengar bunyi dengung sedetik. Lalu hening.
"Mira," suara lelaki yang berbicara dari jalur telepon di seberang sana, kini terdengar bergema dengan aneh. Ia seperti sedang berbicara di ruang kosong.
"Sejam lalu Aditya sudah mendarat di Bandara DFW. Kau dan Santoso Umardy harus segera menemuinya di Dallas. Kami harap paling telat jam enam besok pagi, kalian bertiga harus sudah di berkumpul di Sheraton DFW. Instruksi berikutnya akan kami berikan pada pukul 6 pagi."
"Baik, Paman. Saya paham." Lalu Mira menoleh pada suaminya yang sekarang sedang berada di depan kompor. Lelaki itu melanjutkan tugas memasaknya. "Bie, Paman titip salam buatmu."
Padahal sambungan telepon itu sudah ditutup.
"Salam kembali dariku," jawab Bie. "Cepat sekali teleponnya. Ada kabar apa dari Indonesia?" Lelaki itu menyerahkan sepiring tumis jamur dan brokoli pada Mira, yang baru saja dimasaknya. Mira meletakkan piring itu di meja makan.
"Yah, kau tahu, orang tua kan? Mereka khawatir dengan mahalnya biaya sambungan internasional. Paman cuma mengabari bahwa salah satu sepupuku baru saja tiba di Dallas. Ada urusan pekerjaan. Beliau memintaku menemani satu dua hari saat Si Bengal itu berada di sana. Kau mau ikut, Bie?"
Mira seolah menawari. Padahal yang diinginkan justru sebaliknya. Apapun urusan yang akan dikerjakan nanti di Dallas, ia tidak ingin melibatkan suaminya.
Bie menarik napas berat. "Kamu harus,ya, berangkat ke sana?"
"Paman sendiri yang menelpon. Aku tidak enak hati jika menolaknya. Paling lama dua hari, Bie."
"Aku ingin ikut. Tetapi, yah, kau tahu aku masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di kampus."
"Oke, kalau begitu. Tidak masalah kan jika aku pergi sendiri?"
Bie tersenyum pasrah.
Mira memakan porsi bagiannya dengan lahap. Mereka mengobrol tentang rencana libur Natal dan Tahun Baru di Utah. Kampung halaman Bie.
"Ting!" Ponsel Mira berbunyi. Ia melihat ke layar LCD ponselnya.
"Email dari Paman. Ia akan mengirimkan mobil sewaan. Mobil itu akan datang jam 11 malam ini." Mira menunjukkan isi email yang diterima pada suaminya, dengan nada santai.
"Hah! Malam ini juga kau akan berangkat? Kukira besok atau lusa," Bie nampak terkejut campur kecewa.
"Yah... kan kubilang sepupuku itu sudah ada di Dallas sekarang. Aku janji, Bie, lusa aku pulang. Ya?"
"Yah, sudahlah. Inilah salah satu susahnya menikah dengan perempuan Indonesia. Kalian begitu terikat kekeluargaan," desah Bie.
"Kau menyesal nih?" Rajuknya pura-pura.
"Bukan begitu. Tapi..." Lelaki itu menarik napas panjang kembali. "Ya sudah. Berangkatlah. Hati-hati,ya. Jangan lama-lama di Dallas." Suami Mira akhirnya mengalah.
Jam 11 kurang 5 menit, mobil sewaan datang. Mira sudah menyiapkan koper kecil berisi tiga pasang baju. Bie membantunya mengangkat koper ke bagasi. Dengan wajah yang menunjukkan ia berat hati ditinggalkan, lelaki itu melambai saat mobil itu melaju.
Mira mengisi bensin di Pom bensin sebelum masuk ke jalan tol. Lalu ia menuju Lantatur Starbucks. Dengan sabar ia mengantri untuk segelas Coffee Latte dan sebuah roti sebagai bekal di perjalanan menuju Dallas.
Begitu mobilnya berada di bawah naungan atap Lantatur, Mira langsung bergerak turun dan segera pindah ke mobil yang mengantri di depannya. Sedangkan posisinya di kemudi mobil sewaan, digantikan oleh perempuan lain yang turun dari mobil yang sekarang dinaikinya.
Ini dilakukannya untuk melepaskan diri dari pengawasan suaminya. Bie adalah seorang profesor Aerospace Engineering. Ia mengizinkan Mira berangkat sendiri ke luar kota yang berjarak lebih dari 300 km itu, karena ia pasti berpikir bisa diam-diam mengamati dari pergerakan GPS mobil dan ponsel Mira dengan seperangkat alat monitor yang dimilikinya. Padahal, Mira tidak ingin suaminya tahu ia terlibat dalam tugas-tugas yang seringkali menantang bahaya.
Mira menyimpan ponselnya dalam dashboard mobil sewaan, yang tetap melaju ke Dallas. Sementara Mira dan Santoso berbalik arah kembali ke Austin.
"Rencana berubah," kata Santoso barusan. "Target kita berencana mengajak keluarganya menonton Trail of Lights di Zilker Park besok petang. Mereka sudah memesan 24 Platinum Pass."
Mira terbelalak. Paket tiket Platinum Pass untuk 4 orang adalah $260. Berarti untuk tiket masuk menonton lampu-lampu hias itu si Target harus merogoh $1.500 lebih. Belum makanan. Dan hotel jika mereka menginap. Karena berdasarkan data yang dikirim dari pusat, Target dan keluarganya tinggal di Dallas. Tampaknya Target kali ini memiliki banyak uang yang akan dihamburkan di perayaan Natal.
"Lalu bagaimana dengan Aditya?"
Hanya Mira dan Santoso di dalam Mazda hitam yang saat ini mereka kendarai.
"Dia akan melakukan bagiannya di Dallas sana. Jika kita membutuhkan, dia bisa datang menyusul kesini, besok."
"Lalu gadis tadi, siapa?" Mira belum pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Dia mau menyerahkan kunci mobil -yang di dalamnya ada ponselnya- karena menuruti perintah Santoso.
Santoso tertawa kecil. Agak melecehkan. 
"Dia sudah kukasih uang untuk berbelanja di Dallas. Dia senang sekali kubilang boleh memakai mobil itu sepuasnya selama dua hari. Aku juga sudah memesankan kamar hotel buatnya. Walau dia harus meminjam namamu untuk check in."
"Pacarmu, ya?"
"Kau tahu, aku tidak sebodoh kau!" Santoso memelototi Mira. Ketika disadarinya jalanan sedang padat, pandangannya kembali ke jalan raya. "Awalnya kupikir kau cuma naksir saja karena Profesormu itu memang tampan. Tetapi ketika kudengar kau bersedia dinikahinya, ingin rasanya aku menembak kepala tololmu itu. Bukannya aku tidak suka melihat kau bahagia. Tetapi, resikomu akan jauh lebih besar jika kau berkeluarga."
Mira mendesah, ia mengakui perkataan Santoso itu benar.
"Aku jatuh cinta padanya. Dan sebelum memutuskan menerima lamarannya, aku sudah berencana berhenti dari pekerjaan ini. Tetapi..."
"Kau pikir, bisa segampang itu?" Sambar Santoso dengan gemas.
"Bantulah aku, Santoso."
Santoso menggeleng, "Aku belum tahu ada orang yang sukses pensiun dari pekerjaan ini tanpa cacat atau meninggal, Mira."
"Kau jangan menakut-nakutiku!"
"Yah... Aku berkata jujur." Santoso tertawa pahit.
Mereka sama-sama menarik napas berat. Sadar dengan konsekwensi pekerjaan mereka.
"Kalau perempuan tadi bukan pacarmu, dia siapa?" Mira masih penasaran. Memang wataknya selalu ingin tahu.
"Dia siapa? Ya, dia perempuan. Kau lihat kan?"
"Bayaran? Dia dibayar hanya untuk membawa mobil ke Dallas, atau...?"
"Kau cerewet sekali! Hei dengar, aku bukan Pastor. Dan aku 'straight'. Artinya, aku butuh perempuan, Mira! Jadi yah, begitu deh..." Santoso tertawa dengan malu-malu. Mira hanya mengangkat alis sebagai respon bahwa dia mengerti maksud Santoso.
Mira sebenarnya sering kesal pada kebiasaan partnernya yang kerap memanfaatkan perempuan dengan status tidak jelas, untuk peran-peran kecil di tugas yang mereka emban. Mira khawatir perempuan lugu itu akan jadi korban atau bahkan tidak mungkin buka suara jika mendapat tekanan dari lawan mereka.
Hampir pukul satu dini hari ketika Mira check in di hotel dekat Zilker Park. Sebenarnya jarak ke rumahnya tidak sampai 10 km. Tetapi ia sengaja tidak pulang, agar tidak perlu bersusah payah mencari alasan pada Bie, jika ia harus ke luar rumah selama menjalankan tugas ini.
Sedangkan Santoso pulang ke apartemennya.
Keesokan harinya, Santoso datang ke hotel menjelang pukul 1 siang. Ia dan Mira masih sempat untuk makan siang, sebelum mereka berdandan mengubah penampilan.
Austin adalah kota tempat mereka beraktifitas. Dan di Zilker Park sedang ada acara Festival Lampu Hias tahunan "Trail of Lights". Sehingga sangat memungkinkan nanti bertemu dengan orang-orang yang mengenal mereka. Padahal saat beraksi, tentu mereka tidak ingin dikenali.
Dengan memakai make up, mereka berdandan seolah adalah pasangan turis Jepang. Mereka membawa paspor bernama Mr. Kotaro Hiroshi dan Neima Hiroshi sebagai identitas mereka. Berdasarkan stempel imigrasi, mereka baru tiba di Bandara Bergstorm kemarin pagi.
Target operasi mereka hari ini adalah Paula Brighton.
Dibalik penampilan sebagai seorang gadis yang tengah menikmati masa-masa baru selesai kuliah, sesungguhnya Paula adalah seorang cracker yang sadis. Di komunitas Hacker dan Cracker Internasional, ia menamai dirinya Fairyfly. Karena ia yakin, dengan kecerdikan dan kecerdasan yang dimilikinya ia akan selalu bisa lolos dari lubang jarum sekalipun.
Selama ini tidak ada seorangpun yang tahu identitas aslinya, hingga tiga hari lalu ia membobol sistem keamanan sebuah bank swasta di Indonesia. Bank Adiunggul adalah bank swasta dengan jaringan terbesar dengan jumlah nasabah terbanyak di Indonesia.
Celah keamanan bank tersebut sempat terbuka hanya selama 7 menit. Para ahli IT bank harus berjibaku melawan Fairyfly untuk memulihkan kondisi tersebut. Nampaknya Fairyfly adalah Cracker yang tahu kapan harus berhenti'. Ia selalu segera mundur sebelum terdeteksi.
Namun kerusakan 7 menit itu menyebabkan hilangnya nyaris 50 milyar uang nasabah. Dan penghentian layanan online selama 30 jam. 
Dengan tanpa ribut-ribut, bank segera mengganti uang nasabah. Bank tentu tidak ingin publik menjadi resah karena menyadari bank tempat mereka mempercayai uang mereka disimpan, bisa dibobol oleh cracker. Maka kasus ini hanya diketahui oleh segelintir pihak.
Dan yang tidak diketahui oleh Fairyfly adalah sistem keamanan bank itu dibangun oleh perusahaan dimana Santoso menjadi salah satu developer sistem tersebut. Memang, sebagai kamuflase dari pekerjaan sebagai agen rahasia pemerintah, Santoso menjadi mahasiswa dan bekerja pada perusahaan 'yang seolah-olah' memberi beasiswa kuliahnya.
Dari situlah Santoso menemui 'signature' pembobolnya. Ternyata antara Santoso dan Fairyfly memiliki satu profesor pembimbing yang sama.
Bank tentu sangat tidak suka jika mereka kebobolan. Karena sesungguhnya bisnis bank adalah bisnis kepercayaan. Tak terbayangka jika masyarakat tahu bahwa uang mereka bisa hilang sewaktu-waktu gara-gara ulah cracker. Begitu pun efek ini akan berimbas bagi pemerintah. Bisa terjadi devaluasi sebagai akibat tidak percaya pada bank, masyarakat menarik uangnya secara serentak.
Maka, keputusan bulat adalah Paula Brighton harus dimintai 'pertanggungjawabannya'.
Ah, sebetulnya pihak bank sudah menduga, kemungkinan uang yang dibobol oleh Paula, sebagian besar sudah habis. Tentu difoya-foyakan. Begitulah sifat pencuri. Ketika sekali berhasil melakukan aksinya, mereka akan ketagihan untuk melakukan pencurian lagi dan lagi. Hormon adrenalin yang membanjiri saat beraksi, bisa menjadi candu.
Di lain pihak, tentu pemerintah Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika ada warga negaranya yang diculik.
Maka, pertanggungjawaban itu berarti hukuman. Dan hukuman berarti eksekusi.
Tetapi nampaknya Paula tahu bahwa dirinya tidak aman saat berada di tengah keramaian kali ini. Nalurinya merasa bahwa ia diawasi. Maka ia selalu berada pada posisi di tengah-tengah rombongan keluarganya. Hal ini menyulitkan Mira dan Santoso untuk mendekatinya.
Telah beberapa kali Mira hampir bisa mendekati Paula. Diantaranya ketika rombongan mereka sedang berfoto di bawah pohon Oak besar yang penuh dengan gelayutan lampu-lampu yang setiap dua detik warnanya berubah. Mira pura-pura minta di foto juga oleh 'suaminya' Kotaro-san. Tetapi, kemudian Paula karena tubuh tingginya, ia didorong salah satu anak kecil untuk pindah ke bagian belakang rombongan yang sedang di foto itu.
Begitupun ketika mereka bermaksud mengantri di Bianglala. Antrian dengan dibatasi pagar besi itu memaksa pengantri berdiri satu persatu. Mira dan Santoso berpikir, suatu saat mereka akan bersisian dalam barisan antrian. Maka keduanya buru-buru mengambil posisi. Tetapi ternyata, dengan akses Platinum Pass, rombongan keluarga Paula tidak perlu mengantri. Petugas mengarahkan mereka agar masuk melalui pintu yang berbeda. Mau tidak mau Mr dan Mrs Hiroshi harus tetap naik Bianglala, agar tidak mencurigakan.
Turun dari Bianglala, hampir satu setengah jam mereka kehilangan jejak rombongan tersebut. Pengunjung festival begitu padat.
Sebetulnya, mereka berdua sudah bermaksud menghindari mengunjungi anjungan UT Austin, ketika tanpa disengaja terdengar suara anak kecil memanggil Paula agar mendekat, karena di anjungan tersebut ada Bevo si Banteng sedang diberi makan. Keponakan Paula meminta dipotret di dekat kandang Banteng itu.
Maka -walau dengan enggan, Mr. dan Mrs. Hirochi juga ingin berfoto dan berkunjung ke anjungan tersebut. Sejujurnya mereka tidak ingin beraksi di sana. Ada semacam rasa hormat pada kampus tempat mereka menuntut ilmu. Mereka cuma tidak ingin Paula lepas dari pandangan mata.
Dan betapa terkejutnya Mira, ketika dilihatnya Bie berdiri di salah satu sudut anjungan UT Austin. Rupanya ia menjadi wakil dari universitas yang bertugas menjelaskan program-program pendidikan tempatnya bekerja. Lelaki itu memakai kemeja oranye -warna khas universitas- dengan jas dan celana hitam. Mira sempat terpesona lagi dengan penampilan suaminya malam ini.
Dan sudah tentu Paula menghampiri Bie.
"Hallo, apa kabar Prof. Senang bisa bertemu anda lagi."
Rupanya Bie langsung mengenali mantan mahasiswinya itu. Seorang guru biasanya akan sangat ingat pada beberapa murid diantara ratusan murid lain yang pernah dididiknya, jika ia adalah murid yang istimewa. Entah karena murid itu adalah murid yang paling bandel, paling lucu, atau paling pintar. Dan akan makin mudah diingat jika punya beberapa kelebihan seperti Paula. Mantan mahasiswa dan dosen itu segera terlibat dalam percakapan akrab. Hanya mereka berdua, berdiri berhadap-hadapan. Sedangkan anggota keluarga Paula berpencar melihat koleksi-koleksi replika hasil riset universitas.
Dan detik itu, Mira menyadari bahwa saat inilah kesempatannya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Mira melirik ke Santoso. Santoso mengangguk.
Mereka berjalan dengan santai sambil mengobrol, melihat-lihat benda yang dipamerkan.
" Youkoso," kata Bie kepada pasangan berasal dari Jepang itu, ketika keduanya makin mendekat. "Konbanwa."
Paula menoleh ke belakang. Melihat kepada para tamu, lalu ia tersenyum ramah dan bergeser ke samping Bie.
"Kami dari UT Austin memperagaan beberapa benda hasil riset mahasiswa kami, jika anda tertarik, saya bisa membantu untuk sedikit menjelaskan," kata Bie dalam bahasa Jepang yang terpatah-patah. Ia memang menguasai beberapa bahasa, seperti Jerman, Spanyol dan Perancis.
"Ah.. dalam bahasa Inggris saja." Santoso -Kotaro-berbicara dalam bahasa Inggris berlogat Jepang. Mira nyaris terkikik geli mendengarnya. "Sekalian memperlancar bahasa Inggrisku," kata Kotaro-san sambil memberi isyarat pada Bie untuk ke salah satu model hasil riset yang dipamerkan.
"Sebentar aku kembali, Paula. Dan kita bisa mengobrol lagi. Aku juga ingin tahu kabarmu setelah lulus. Mungkin kau bisa menemani ibu ini," kata Bie pada Paula.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba mencubit hatiku.
"Hm.., Prof, saya pamit saja. Keluarga saya menanti di sana," Paula menunjuk serombongan keluarganya yang tampak masih asik mengobrol dan tertawa-tawa."
"Tidak sopan meninggalkan tamu. Temanilah ibu itu sebentar."
Mira tersenyum melihat suaminya menunjukkan otoritasnya. Walau Paula bukan lagi mahasiswanya. Dan mungkin karena rasa hormat, Paula mematuhi. Mereka saling melempar senyum
Itu adalah senyum terakhir Paula.
Karena begitu gadis itu memalingkan kepalanya ke arah mantan dosennya, Mira beraksi. Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan sebuah tabung obat dan segera membuka tutupnya. 3 ekor kecoa melompat ke luar jatuh ke dada Paula. Gadis itu terbelalak kaget. Detik itu juga Mira menusukkan sebuah jarum micro dengan pen seukuran setengah ruas ibu jari ke pembuluh darah Arteri Karotis Paula. Dihabiskannya seluruh isi pen ke dalam aliran darah menuju otaknya. Hanya butuh 3 detik untuk melakukan hal itu. Perempuan itu menjerit. Sejak awal Mira tahu, Paula pasti akan menjerit karena rasa sakit di lehernya. Untuk itu Mira membutuhkan kehadiran kecoa.
Mira ikut menjerit sambil teriak, "Gokiburi!"
Dengan seolah menepis kecoa, ia menusukkan lagi sebuah jarum ke arah Arteri vertebralis di belakang leher Paula.
Sebentar lagi fungsi-fungsi tubuh gadis ini akan rusak. Dia akan terserang stroke sekaligus serangan jantung. Malam ini Mira diperintahkan mengekseksusi targetnya dengan cepat.
Diinjaknya ketiga ekor kecoa malang itu. Lalu Mira mendudukkan Paula yang tiba-tiba merasa sangat pusing, di kursi terdekat. Kini Santoso, Bie serta seluruh keluarga Paula telah mengelilingi kedua perempuan itu.
Saat Paula mulai kehilangan fokus. Mira memberi isyarat pada Santoso untuk pergi. Bie tampak malu dengan insiden kehadiran kecoa itu. Dia tahu, bagi orang Jepang kebersihan sangat dijaga. Dan kehadiran kecoa menunjukkan area tersebut tidak bersih.
"Tunggu!" dengan bergegas Bie berusaha menahan langkah mereka, "Rasanya saya seperti mengenal kalian. Apakah kita pernah bertemu? Tahun ini saya beberapa kali ke Jepang untuk mengisi workshop. Mungkin kita pernah bertemu di salah satu acara tersebut?"
Tiba-tiba dari arah gerombolan keluarga Paula, terdengar suara seseorang muntah. Lalu orang itu muntah berkali-kali lagi. Bie menoleh ke arah Paula. Saat itulah Santoso menarik tangan partnernya agar cepat pergi dari anjungan tersebut.
Angka jam LED di dashboard mobil yang disewanya menunjukkan angka 23. 13 menit ketika Mira memarkir kendaraan yang dikemudikannya di depan rumah. Ia sudah menelpon pihak rental agar segera mengambil mobil itu. Mereka berjanji akan mengirim petugas penjemput paling telat 30 menit lagi.
Di carport tidak ada mobil yang terparkir. Berarti Bie belum pulang. Mungkin ia masih mengurus Paula. Hm, kini -jika sesuai rencana- jenazah Paula.
Mira masuk ke rumah, mandi, menyalakan HBO di TV ruang duduk, hanya sekedar supaya ada suara di dalam rumah sunyi ini. Lalu sambil memasak mie instan, ia memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci.
Bertepatan penjemput mobil rental datang, Ford hitam Bie memasuki carport. 
"Sudah semua barangmu kau angkut keluar dari mobil, Sayang?" Ketika bertanya Bie melingkarkan lengannya di bahu istrinya.
"Sudah, Bie. Malah baju kotorku sedang kucuci."
"Pastikan lagi. Terutama jangan sampai ponselmu tertinggal di dashboard mobil."
Walau terkejut mendengar kalimat suaminya, tetapi Mira memasang wajah tanpa bersalah. Seolah yang Bie ucapkan hanya lelucon.
"Hm, bau mie instan." Bie membaui aroma ruang makan mereka. "Tolong buatkan untukku juga, Sayang. Aku lapar sekali. "
Mira melangkah ke dapur. Secara sambil lalu, ia bertanya, "Dari mana, Bie? Koq pulangnya malam sekali?"
"Dari Dell Seton Hospital. Juga melapor ke polisi untuk kematian mendadak Paula. Menghadapi berlusin-lusin pertanyaan menyelidik mereka. Aku juga berusaha sedikit memberi penghiburan kepada keluarga gadis malang itu."
Mira memasang wajah prihatin. Bie berjalan mendekati istrinya. Lalu ia memeluk dan mencium bibir perempuan itu.
"Aku sudah mencuci bersih piring kotor yang kau dan Santoso tinggalkan setelah berpesta di Zilker Park, Sayang."
"Apa maksudmu, Bie!"
Tiba-tiba Mira menjadi gemetar.
"Kau istriku. Aku tahu siapa sesungguhnya dirimu sejak sebelum melamarmu. Dan aku tidak mungkin menjadi seorang profesor, jika aku begitu bodoh dikelabui mahasiswaku."
Mira tergugu.
"Magdalena, kontakku di FBI juga sudah tahu sepak terjang Paula beberapa hari lalu. Tadi dalam perjalanan pulang, dia menelponku. Katanya, dia sudah menyangka kalian akan bertindak," Lanjut Bie dengan kalem.
Tentu aku jadi cemas.
"Paula tidak berarti apa-apa bagi FBI. Jadi, yah, kematian seorang warga yang nakal, tidak akan membuat mereka marah. Sepanjang tidak ada yang memblow-up kasus ini."
"Bie, jadi kau tahu aku..."
"Sudah. Buatkan aku mie instan! Aku butuh vetsin sekarang!" Perintah Bie dengan galak. Tetapi di sudut bibirnya ia tersenyum. "Kita akan bahas itu setelah perutku kenyang."
*Gokiburi: Kecoa
*Youkoso: Selamat Datang
*Konbanwa: Selamat Malam
(Tulisan ini diterbitkan di FP Mirari's Story, juga di akun FB saya)

0 komentar:

Post a Comment

 
;