Thursday, March 28, 2019 0 komentar

Kukirim Pagi Untukmu

Drei tercinta,
Jika kau baca kalimat-kalimat ini, telah kukirimkan pagi beruntai jutaan titik embun kepadamu. Kuharap ia bisa sedikit mendinginkan kopi panasmu, sehingga bisa kau cecap rasa pahit–manisnya. Adakah juga kau rasakan semilir angin yang bertiup dari kisi-kisi jendela ruang kerjamu? Bersamanya kusisipkan alunan do’a. Hanya do’a terbaiklah yang kukirim untuk orang yang kusayangi, tentu saja. Telah kukirimkan pula sinar mentari yang hangat, cericit burung gereja dan dengung lebah. Juga kusertai sesekali suara deru mobil dari kejauhan.
Sempurnakah pagimu, Drei?
Kuharap segala keriuhan awal hari yang kita lalui sejam lalu, tidak membuatmu sakit kepala. Sejak kita memutuskan menghadirkan manusia-manusia kecil itu, maka teriakan, rengekan, gelak tawa, bahkan rasa cemas, Tuhan kirimkan sebagai paket lengkap yang harus kita terima.
Drei, Lelaki tempatku bersandar,
Kukirimkan pagi untukmu karena aku telah terpesona padanya. Seperti aku yang terpesona padamu. Memang, pagi selalu membuatku mengingatkan dirimu.
Bagaikan pagi yang datang setelah malam, hadirmu menghalau episode gelap hidupku. Kala aku berada dalam situasi yang membuatku limbung tak tahu arah yang harus kujejak, kau berdiri di ujung lorong waktu, mengulurkan selarik harapan. Tanpa banyak kata-kata.
“Dunia ini telah penuh dengan kata-kata, Schatzi,” ucapmu ketika kita menyusuri pedestrian sepanjang University Avenue, dalam naungan rimbun pepohonan ketapang dan trembesi. “Kuyakin, segala bentuk kata telah kau dengar. Ada kata-kata yang kau ingat, ada yang kau lupakan. Apakah jika aku mengulanginya, maknanya akan berbeda? Hanya waktu yang bisa membuktikan,”
Aku mengangguk.
Aku pernah mabuk hanya dengan menyesap janji-janji. Aku pun pernah terkapar cuma oleh sembilu kalimat. Meski begitu, bukan berarti kau sama sekali tidak pernah berucap,
“Berjalanlah bersamaku, Schatzi. Entah nanti kita akan menghadapi hujan badai, salju yang mengigilkan, atau api yang menghanguskan. Berjalanlah di sisiku, Kekasih,” pintamu.
Drei yang baik hati,
Bersama ratusan huruf ini, kukirim pagi berikut dengan segala cinta yang bisa kupersembahkan. Untukmu.
Sunday, March 24, 2019 0 komentar

Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan

#Fiksi_Schatzi

Suara hujan yang jatuh membasahi bumi terdengar merdu. Titik-titik air itu datang bergandengan dengan angin yang mendesau. Meninggalkan jejak-jejak aliran di permukaan kaca jendela. Aku telah terjaga sejak dua puluh menit lalu. Tetapi tidak ingin beranjak dari tempat tidur.
Dia menggeliat. Bergerak ke samping. Kini memunggungiku. Aku mengetatkan pelukan, tidak ingin melepaskannya. Aku masih ingin merasakan kedamaian pagi ini.
"Selamat pagi, Sayang," aku mengecup kepalanya."Jangan bangun dulu. Diam saja begini."
"Hm... "
"Kau tahu, aku ingin suatu saat nanti, entah beberapa bulan atau beberapa tahun yang akan datang, kau mengenang pagi ini. Pagi dimana kau terbangun dalam pelukanku." 
"Aku suka dengan ide itu."
Dia mengelus lenganku. Efeknya, jantungku berdegup lebih kencang. Selalu begitu, jika ia menyentuhku.
"Terima kasih. Kenangan hari ini adalah salah satu kepingan puzzle kehidupanku."
"Tetapi ada kemungkinan, kepingan puzzle hari ini hilang suatu saat nanti, Bie. Lalu kau melupakannya. Melupakanku." 
"Tidak ada kenangan yang hilang tanpa bekas, Sayang."
"Maksudmu?"
"Jika itu terjadi, hatiku akan berlobang," aku menarik napas berat. "Aku pernah mengalaminya. Maka, aku tak ingin terjadi dua kali."
Setiap waktu, aku menyusun puzzle kehidupan satu demi satu. Aku dulu bebas menentukan kepingan pertama yang akan kususun. Tetapi kepingan kedua, ketiga dan seterusnya, insting yang menuntun. Beberapa kali aku salah memilih kepingan diantara kepingan-kepingan yang terserak. Tetapi untunglah, Tuhan memberi kesempatan untuk memperbaikinya. 
Dia diam saja. Malah kembali memejamkan matanya. Tetapi aku tahu, dia mendengarkan.
"Kau puzzle hidupku yang pernah hilang, Sayang. Untunglah aku kembali menemukanmu."
Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Aku membenamkan kepalaku ke rambutnya. Menghidu aroma rempah dari ratus rambut yang secara teratur dilakukannya. Aroma yang kini begitu kukenal.
Perempuan ini pertama kali kukenal lebih dari 20 tahun lalu. Bersamanya, aku melalui dua kali musim semi. Hingga aku tiba di hari aku melepaskan kepingan puzzleku. Dia pun pergi dan menghilang.
Ketika akhirnya kami bertemu, detik itu aku tahu, jika sekali lagi aku melepaskannya, mungkin aku mati dalam anatomi yang tidak lengkap. Karena kali ini, hatiku telah tercuri seluruhnya oleh dia.
Terkenang itu, aku memeluknya lebih erat.
"Longgarkan sedikit pelukan, Bie. Aku sesak," dia menggeliat.
Ya, ya.
Maafkan.
Mestinya aku sedikit memberi ruang bagimu. Agar kau nyaman dalam pelukanku. Agar kau tidak sesak. Hingga malah memilih melepaskan diri dariku.
Aku berterima kasih pada Pencipta hari ini. Yang telah menciptakan awal hari yang begitu sempurna buatku.
Aku berterima kasih pada perempuan yang tengah kupeluk. Hari yang kupersembahkan baginya mungkin tidaklah sempurna. Tetapi aku akan berusaha sedapat mungkin mengisinya dengan cinta terbaikku.

0 komentar

Tentang Hati Kita


Bagian 1
#Fiksi_Schatzi
Bayu membuka matanya. Ruangan berdinding hijau seketika menyergap pandangan. Butuh sekian detik buat otaknya mengolah informasi akan keberadaannya. 
"Mas Bayu..." selarik suara dengan nada ramah namun tegas, masuk ke gendang telinganya. "Sudah sadar?"
Tiba-tiba sesosok perempuan berbaju dan berpenutup kepala hijau, masuk ke dalam jangkauan pandangan matanya. Ia mengerjap.
"Ada keluhan atau merasakan sesak napas, Mas?"
Bayu menggeleng.
Dari baju hijau khas yang dikenakan perempuan itu, Bayu makin yakin bahwa ia berada di ruang operasi.
"Berhasilkah?" Suara yang keluar dari bibir Bayu hanya berupa bisikan. Tapi perempuan berbaju hijau itu mendengar.
"Bisa dikatakan begitu. Mas Bayu sekarang berada di ruang pemulihan. Setelah kondisi Mas Bayu stabil, nanti dipindahkan kembali ke kamar perawatan, ya."
Perempuan itu lalu melakukan serangkaian pemeriksaan. Bayu diam saja.
'Aku selamat, bagaimana dengan anak Pak Haryo? Selamat juga kah?' pikirnya, lagi.
Diam-diam, sambil menahan dinginnya suhu ruangan tempat ia dibaringkan, Bayu berdoa untuk anak itu.
***
Setiap hari pada pukul 6.30 Bayu sudah harus berada di tempatnya bekerja. Bersama teman satu tim-nya, dia sudah harus membersihkan karpet lantai, meja-meja, kaca-kaca, membersihkan toilet dan menyiram tanaman. Pokoknya kantornya itu harus sudah rapi sebelum pukul 7.30. Sebelum semua karyawan lain hadir.
Ya, Bayu adalah seorang Petugas Kebersihan. Istilah kerennya, sesuai yang tercantum di 'nametag' di bajunya, Cleaning Serviceman.
Tetapi pagi itu, ketika akan memasak sarapan di rumah kontrakannya, ternyata gas di kompornya habis. Maka Bayu memutuskan berangkat ke kantor lebih pagi untuk menumpang sarapan. Di sana ada mie instan, kopi, teh dan gula yang disediakan untuk karyawan.
Angka digital di mesin absensi belum lagi menunjukkan pukul 6 pagi, ketika Bayu menaruh telunjuk kanannya di mesin pemindan sidik jadi, di pintu masuk kantor. Bayu langsung ke pantry untuk menyeduh kopi dan memasak mie instan. 15 menit kemudian dengan tersenyum lebar karena perut telah kenyang, Bayu mendorong alat vacuum cleaner menuju ruangan Direktur Utama. Rencananya, ruangan itu yang akan dia bersihkan pertama kali.
Betapa terkejutnya Bayu, saat tangannya hendak meraih pegangan pintu, ia mendengar suara tangis yang tersedak-sedak. Lelaki yang menangis di dalam, tampaknya tengah menangis sepuas-puasnya. Bayu mundur. Tidak jadi membuka pintu. Ia menarik alat vacuum cleaner menuju ruangan lain. Lalu ia mulai bekerja.
Tetapi pikirannya tidak bisa lepas pada suara tangis yang ia dengar tadi. Itu suara Pak Haryo, Sang Bos Besar.
Apa yang membuat lelaki paruh baya yang tampak sukses dan berpengaruh itu, menjadi begitu bersedih?
Seketika Bayu menjadi cemas.  Apakah perusahaan ini akan bangkrut? Jika perusahaan ini ditutup kemana dia akan bekerja dengan hanya ijazah SMA miliknya? Bayu tahu ia bisa melamar ke pabrik di kawasan industri, tetapi tentu bukan hanya ia sendiri yang butuh pekerjaan. Ia akan berjibaku melawan para lulusan SMA lainnya yang tiap tahun jumlahnya makin meningkat.
Bayu sadar mendapat pekerjaan tidaklah mudah. Maka ia selalu bekerja dengan rajin dan jujur. Dalam beberapa tahun, ia mendapat perhatian dari karyawan-karyawan lain karena mudah dimintai tolong. Dan mereka sesekali membelikannya nasi bungkus atau memberi tip yang lumayan untuk membayar bensin motornya. Hal itu yang membuatnya gamang jika berhenti bekerja dari perusahaan ini.
Beberapa hari kemudian Bayu mendengar dari kasak-kusuk para karyawan, bahwa anak perempuan semata wayang Pak Haryo sedang sakit keras.
Hal itu kah yang membuat Pak Haryo menangis kemarin?
Bayu menarik napas dalam. Diam-diam merasa bersalah, karena ia lebih mengharapkan Pak Haryo menangis karena anaknya yang sakit, dibandingkan akibat perusahaan bangkrut.
Bersambung...
 
;