Sunday, March 24, 2019

Tentang Hati Kita


Bagian 1
#Fiksi_Schatzi
Bayu membuka matanya. Ruangan berdinding hijau seketika menyergap pandangan. Butuh sekian detik buat otaknya mengolah informasi akan keberadaannya. 
"Mas Bayu..." selarik suara dengan nada ramah namun tegas, masuk ke gendang telinganya. "Sudah sadar?"
Tiba-tiba sesosok perempuan berbaju dan berpenutup kepala hijau, masuk ke dalam jangkauan pandangan matanya. Ia mengerjap.
"Ada keluhan atau merasakan sesak napas, Mas?"
Bayu menggeleng.
Dari baju hijau khas yang dikenakan perempuan itu, Bayu makin yakin bahwa ia berada di ruang operasi.
"Berhasilkah?" Suara yang keluar dari bibir Bayu hanya berupa bisikan. Tapi perempuan berbaju hijau itu mendengar.
"Bisa dikatakan begitu. Mas Bayu sekarang berada di ruang pemulihan. Setelah kondisi Mas Bayu stabil, nanti dipindahkan kembali ke kamar perawatan, ya."
Perempuan itu lalu melakukan serangkaian pemeriksaan. Bayu diam saja.
'Aku selamat, bagaimana dengan anak Pak Haryo? Selamat juga kah?' pikirnya, lagi.
Diam-diam, sambil menahan dinginnya suhu ruangan tempat ia dibaringkan, Bayu berdoa untuk anak itu.
***
Setiap hari pada pukul 6.30 Bayu sudah harus berada di tempatnya bekerja. Bersama teman satu tim-nya, dia sudah harus membersihkan karpet lantai, meja-meja, kaca-kaca, membersihkan toilet dan menyiram tanaman. Pokoknya kantornya itu harus sudah rapi sebelum pukul 7.30. Sebelum semua karyawan lain hadir.
Ya, Bayu adalah seorang Petugas Kebersihan. Istilah kerennya, sesuai yang tercantum di 'nametag' di bajunya, Cleaning Serviceman.
Tetapi pagi itu, ketika akan memasak sarapan di rumah kontrakannya, ternyata gas di kompornya habis. Maka Bayu memutuskan berangkat ke kantor lebih pagi untuk menumpang sarapan. Di sana ada mie instan, kopi, teh dan gula yang disediakan untuk karyawan.
Angka digital di mesin absensi belum lagi menunjukkan pukul 6 pagi, ketika Bayu menaruh telunjuk kanannya di mesin pemindan sidik jadi, di pintu masuk kantor. Bayu langsung ke pantry untuk menyeduh kopi dan memasak mie instan. 15 menit kemudian dengan tersenyum lebar karena perut telah kenyang, Bayu mendorong alat vacuum cleaner menuju ruangan Direktur Utama. Rencananya, ruangan itu yang akan dia bersihkan pertama kali.
Betapa terkejutnya Bayu, saat tangannya hendak meraih pegangan pintu, ia mendengar suara tangis yang tersedak-sedak. Lelaki yang menangis di dalam, tampaknya tengah menangis sepuas-puasnya. Bayu mundur. Tidak jadi membuka pintu. Ia menarik alat vacuum cleaner menuju ruangan lain. Lalu ia mulai bekerja.
Tetapi pikirannya tidak bisa lepas pada suara tangis yang ia dengar tadi. Itu suara Pak Haryo, Sang Bos Besar.
Apa yang membuat lelaki paruh baya yang tampak sukses dan berpengaruh itu, menjadi begitu bersedih?
Seketika Bayu menjadi cemas.  Apakah perusahaan ini akan bangkrut? Jika perusahaan ini ditutup kemana dia akan bekerja dengan hanya ijazah SMA miliknya? Bayu tahu ia bisa melamar ke pabrik di kawasan industri, tetapi tentu bukan hanya ia sendiri yang butuh pekerjaan. Ia akan berjibaku melawan para lulusan SMA lainnya yang tiap tahun jumlahnya makin meningkat.
Bayu sadar mendapat pekerjaan tidaklah mudah. Maka ia selalu bekerja dengan rajin dan jujur. Dalam beberapa tahun, ia mendapat perhatian dari karyawan-karyawan lain karena mudah dimintai tolong. Dan mereka sesekali membelikannya nasi bungkus atau memberi tip yang lumayan untuk membayar bensin motornya. Hal itu yang membuatnya gamang jika berhenti bekerja dari perusahaan ini.
Beberapa hari kemudian Bayu mendengar dari kasak-kusuk para karyawan, bahwa anak perempuan semata wayang Pak Haryo sedang sakit keras.
Hal itu kah yang membuat Pak Haryo menangis kemarin?
Bayu menarik napas dalam. Diam-diam merasa bersalah, karena ia lebih mengharapkan Pak Haryo menangis karena anaknya yang sakit, dibandingkan akibat perusahaan bangkrut.
Bersambung...

0 komentar:

Post a Comment

 
;