Sunday, March 24, 2019

Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan

#Fiksi_Schatzi

Suara hujan yang jatuh membasahi bumi terdengar merdu. Titik-titik air itu datang bergandengan dengan angin yang mendesau. Meninggalkan jejak-jejak aliran di permukaan kaca jendela. Aku telah terjaga sejak dua puluh menit lalu. Tetapi tidak ingin beranjak dari tempat tidur.
Dia menggeliat. Bergerak ke samping. Kini memunggungiku. Aku mengetatkan pelukan, tidak ingin melepaskannya. Aku masih ingin merasakan kedamaian pagi ini.
"Selamat pagi, Sayang," aku mengecup kepalanya."Jangan bangun dulu. Diam saja begini."
"Hm... "
"Kau tahu, aku ingin suatu saat nanti, entah beberapa bulan atau beberapa tahun yang akan datang, kau mengenang pagi ini. Pagi dimana kau terbangun dalam pelukanku." 
"Aku suka dengan ide itu."
Dia mengelus lenganku. Efeknya, jantungku berdegup lebih kencang. Selalu begitu, jika ia menyentuhku.
"Terima kasih. Kenangan hari ini adalah salah satu kepingan puzzle kehidupanku."
"Tetapi ada kemungkinan, kepingan puzzle hari ini hilang suatu saat nanti, Bie. Lalu kau melupakannya. Melupakanku." 
"Tidak ada kenangan yang hilang tanpa bekas, Sayang."
"Maksudmu?"
"Jika itu terjadi, hatiku akan berlobang," aku menarik napas berat. "Aku pernah mengalaminya. Maka, aku tak ingin terjadi dua kali."
Setiap waktu, aku menyusun puzzle kehidupan satu demi satu. Aku dulu bebas menentukan kepingan pertama yang akan kususun. Tetapi kepingan kedua, ketiga dan seterusnya, insting yang menuntun. Beberapa kali aku salah memilih kepingan diantara kepingan-kepingan yang terserak. Tetapi untunglah, Tuhan memberi kesempatan untuk memperbaikinya. 
Dia diam saja. Malah kembali memejamkan matanya. Tetapi aku tahu, dia mendengarkan.
"Kau puzzle hidupku yang pernah hilang, Sayang. Untunglah aku kembali menemukanmu."
Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Aku membenamkan kepalaku ke rambutnya. Menghidu aroma rempah dari ratus rambut yang secara teratur dilakukannya. Aroma yang kini begitu kukenal.
Perempuan ini pertama kali kukenal lebih dari 20 tahun lalu. Bersamanya, aku melalui dua kali musim semi. Hingga aku tiba di hari aku melepaskan kepingan puzzleku. Dia pun pergi dan menghilang.
Ketika akhirnya kami bertemu, detik itu aku tahu, jika sekali lagi aku melepaskannya, mungkin aku mati dalam anatomi yang tidak lengkap. Karena kali ini, hatiku telah tercuri seluruhnya oleh dia.
Terkenang itu, aku memeluknya lebih erat.
"Longgarkan sedikit pelukan, Bie. Aku sesak," dia menggeliat.
Ya, ya.
Maafkan.
Mestinya aku sedikit memberi ruang bagimu. Agar kau nyaman dalam pelukanku. Agar kau tidak sesak. Hingga malah memilih melepaskan diri dariku.
Aku berterima kasih pada Pencipta hari ini. Yang telah menciptakan awal hari yang begitu sempurna buatku.
Aku berterima kasih pada perempuan yang tengah kupeluk. Hari yang kupersembahkan baginya mungkin tidaklah sempurna. Tetapi aku akan berusaha sedapat mungkin mengisinya dengan cinta terbaikku.

0 komentar:

Post a Comment

 
;