Friday, April 19, 2019

Before Sunrise Bag. 2

"Kau punya daftar tempat yang ingin dikunjungi selama di Paris?" tanya Renita sambil berkali-kali memencet tombol shutter kamera Andre. Lelaki itu memang meminta difotokan berlatar belakang Menara Eiffel.
"Yah, standar lah seperti umumnya turis lainnya. Eiffel, Notre Dame, Musse de Louvre, Arc de Triomphe, Versailles." jawab Andre ketika menerima kembali kameranya yang diulurkan oleh Renita.
"Ayo, gantian kau yang berdiri di sana," ditunjuknya sebuah tempat, "biar kamu aku foto."
"Engga ah," tolak Renita. "Aku sudah punya puluhan foto berlatar belakang Eiffel."
Lalu sambil bergenggaman tangan, layaknya sudah mengenal lama, mereka melanjutkan langkah menuju tembok rendah pembatas Palace untuk memandang suasana sekitar Menara Eiffel dari kejauhan.
"Berapa hari rencana liburanmu di sini?" Renita lanjut bertanya.
"Aku hanya dapat cuti satu minggu. Tetapi aku juga berencana akan mengunjungi kakakku yang tinggal di Amsterdam. Tiket pulangku dari sana."
"Oh." Renita mengangguk. "Baiklah, sekarang aku akan menjalankan tugasku sebagai guide." Gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Andre. Kemudian dia membalikkan badan dan menunjuk ke arah gedung yang tadi berada di belakang mereka. "Jadi , dua bangunan itu, tempat tadi kita bertemu, namanya adalah Palais de Chaillot. Gedung itu lebih tinggi dibanding taman di bawah, karena sebenarnya ia berdiri di atas bukit Chaillot. Gedung itu dibangun pada tahun 1937 untuk Pameran berskala internasional. Terdiri dari dua sayap bergaya neo-klasik yang dipisahkan oleh teras lebar. Sebenarnya kedua bangunan itu cukup menarik kalau kau mau memasukinya. Di bangunan sayap selatan, ada De Musée National de la Marine atau Naval Museum. Dan De Musée de l'Homme yang merupakan museum ethnology. Sedangkan De Cité de l'Architecture et du Patrimoine, juga De Musée National des Monuments Français, berada di sayap timur. Nah, di bawah Esplanade ada pintu masuk menuju Théâtre National de Chaillot. Sebuah teater yang seringkali menjadi ajang pertunjukan seni di Paris ini. Tetapi saat ini kau pasti lebih tertarik untuk mengunjungi menara Eiffel di bandingkan melihat-lihat ke dalam museum, kan?"
Andre mengangguk. Tujuan utama ia ke Paris adalah melihat menara Eiffel dengan mata kepalanya sendiri. Mengenai keberadaan museum-museum yang tadi disebutkan oleh Renita, merupakan informasi yang baru didengarnya saat ini.
"Dan sekarang mari kita turun menuju Jardins du Trocadéro, alias Taman Trocadero." Renita kembali menggamit lengan Andre. Kini mereka menuruni anak tangga-anak tangga menuju sebuah taman.
"Place de Trocadero dibangun untuk mengenang pertempuran di Isla Del Trocadero. Sebuah pulau yang terletak di bagian selatan Spanyol. Tentara Perancis dalam pertempuran itu dipimpin oleh Duc d'Angoulême." Lalu Renita menunjuk ke sebuah kolam panjang yang terletak di tengah taman, "Jika kita sedang beruntung, air mancur di tengah kolam ini akan dinyalakan. Air mancur itu bergerak mengikuti irama lagu-lagu klasik Perancis," demikian penjelasan gadis yang sejak awal menarik hati Andre karena memiliki lesung di pipi kirinya. Setiap kali gadis itu tertawa, dekik dalam di pipinya membuat ia terlihat begitu manis.
Andre kembali mengambil beberapa foto sudut-sudut Taman Trocadero. Sebenarnya ia ingin menjadikan Renita sebagai modelnya, tetapi gadis itu bersikukuh menolak.
Tanpa model menarik ditambah sinar matahari yang kian menyilaukan, membuat Andre berkali-kali mendesah ketika menyadari hasil foto-foto itu menjadi kurang bagus.
Kini mereka berada di ujung taman bersiap akan menyeberang menuju jembatan yang melintas di atas Sungai Seine. Ketika lampu tanda boleh menyeberang jalan berwarna hijau, Andre menarik tangan Renita, sehingga tubuh gadis itu kembali mundur dan batal melangkah untuk menyeberang.
"Ren, apakah kau ada rencana lain di siang hingga malam nanti?"
"Kenapa?"
"Kupikir tur kita pagi ini disudahi dulu saja. Karena, jujur saja aku kecewa dengan hasil foto-foto dengan latar langit yang abu-abu ini. Padahal aku berharap sekali mendapatkan foto Eiffel yang cantik. Mungkin sebaiknya aku kembali ke sini pada sore hari saja."
"Kau benar. Eiffel dalam lautan cahaya lampu di malam hari, akan terlihat lebih bagus di foto."
"Nah. Itu maksudku. Jadi maukah malam nanti kau menjadi guideku lagi? Kita bisa bertemu di taman ini pada pukul lima sore, mungkin?"
Renita terdiam, tampak bimbang, "Jika siang ini aku kembali ke tempatku tinggal, aku tidak yakin bisa datang lagi pada nanti sore."
"Atau kau ada usul lain?"
Andre pun sebenarnya merasa enggan berpisah secepat itu dengan gadis yang baru ditemuinya kurang dari sejam lalu. Baginya gadis ini cukup atraktif.
"Kau kan berjanji membelikanku makan siang di McDonald? Yuk, kita ke sana saja. Mungkin diperjalanan ada obyek lain yang bisa kau foto," usul Renita.
"Oke."
"Nah, di sekitar sini cukup banyak gerai McD di sekitar sini. Ada yang di Rue Duban, Place de Passy, Avenue Victor Hugo, atau Avenue Wagram. Kau mau yang dimana?"
"Aku tidak tahu. Pilihkan saja yang terdekat," jawab Andre.
"Atau bagaimana jika kita ke McD yang di Avenue des Champs-Élysées? Setelah makan, kita bisa melihat-lihat Arc de Triomphe."
"Ide bagus, kukira. Bagaimana kita ke sana? Naik taksi?"
"Kita sewa sepeda saja."

0 komentar:

Post a Comment

 
;