Friday, April 19, 2019

Before Sunrise Bagian 1

Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi ketika taksi yang ditumpangi Andre berhenti tepat di depan Palais de Chaillot. Argo menunjukkan angka 37.20, maka diulurkan selembar 50 euro kepada Pak Sopir.
"Gardez la monnaie," katanya agar supir taksi agar menyimpan kembaliannya.
"Merci.  Soyez prudent lorsque vous ouvrez la porte."  Supir taksi meminta penumpangnya berhati-hati saat membuka pintu mobil. Karena seperti halnya di Jakarta, pengendara motor di Paris seringkali menyalip seenaknya.
Andre tidak menjawab. Ia sedang berkonsentrasi memastikan uang dan paspornya tersimpan dengan aman dalam tas pinggang sebelum turun dari taksi. Ini Paris. Kota yang terkenal dengan copetnya yang ganas.
Menyadari dirinya kini berdiri di pelataran Palais de Chaillot yang megah, dada Andre bergemuruh. Menjejakkan kaki di tempat ini adalah impiannya selama lima tahun terakhir. Walau sebelumnya dalam rangka tugas kerja untuk menghadiri workshop, ia telah tiga kali mengunjungi  Lyon dan Toulouse, kota lain di negara Perancis. Tetapi jadwal yang ketat menyebabkan ia tidak sempat mampir kemari. Ia ingat, saat-saat itu setiap kali pesawat meninggalkan bandara negara klub sepak bola Les Blues ini, diam-diam Andre merutuki bosnya yang tidak mau memberikan tambahan waktu tinggal.
Namun sekarang, impiannya itu terkabul!  
Tiba-tiba Andre merasakan tenggorokannya tercekat. Rasa yang ia kenali setiap kali bersuka-cita. Ia bersyukur di sudut pelataran, bersisian dengan tenda penjual suvenir, ada sebuah kedai kecil bernama Les Gourmandises Du Trocadero. Dibelinya sebotol air mineral dan sebuah nutella crepe di situ. 
Saat sedang menunggu pesanannya disiapkan, seorang gadis yang berdiri di sudut kedai tengah meneguk soda, menegurnya.
"Dari Indonesia, kan, Mas?"
"Koq, tau?" 
Andre merasa tergoda dengan cara gadis itu tersenyum setelah menjilati bibirnya yang tersisa tetes-tetes soda. Seksi yang natural.
"Wajahmu," gadis itu menunjuk Andre dengan telunjuk pada tangan yang masih memegang kaleng soda.
"Kenapa? Wajah ndeso?" Sekali lagi Andre meneguk air mineralnya banyak-banyak.
"Bukan begitu. Kau tahu, walau sama-sama berkulit kuning dan bermata sipit, secara instingtif, kau akan bisa membedakan apakah seseorang yang kau temui berasal dari Cina, Korea atau Jepang. Begitupun saat melihatmu. Aku tahu kau bukan berasal dari Filipina atau Malaysia."
Gaya gadis itu yang santai, makin menarik hati Andre.
"Rupanya kau sudah banyak bertemu orang. Kau sering traveling?"
"Hm, cukup lumayan untuk membuat pasporku penuh dengan berbagai jenis stempel imigrasi. Dan mungkin aku bisa menyombong, aku pasti lebih mengenal Paris dibandingkan tour leader itu," gadis berpakaian serasi dengan jaket berwarna cokelat muda selutut dengan celana legging dan sepatu bot hitam, menunjuk seseorang yang sedang memegang tiang bendera kecil tinggi-tinggi di depan serombongan turis yang baru turun dari sebuah bus besar. 
Ketika pelayan kedai akhirnya mengulurkan Crepe pesanannya, Andre merasa menyesal karena harus segera berpisah dengan gadis menarik yang tiba-tiba muncul dalam perjalanannya kali ini.
"Begini," ucap Andre buru-buru setelah berpikir cepat. "Kalau kau ada waktu luang saat ini, maukah kau menjadi guide-ku? Ini kunjungan pertamaku ke Paris. Tentu akan mengerikan jika aku sampai tersesat di kota ini." 
Andre menatap penuh harap pada gadis yang dari raut mukanya sekarang terlihat bimbang. "Sebenarnya aku sudah dari sana tadi." Gadis itu menunjuk Palais de Chaillot
Nada mengelak gadis itu malah membuat Andre makin mendesaknya, "Ke sana sekali lagi saat sendiri dan saat menjadi guide tentu akan berbeda. Kau bisa membagikan pengetahuanmu padaku."
Tiba-tiba gadis itu tergelak, "kau berani membayar aku berapa untuk menjadi guidemu?"
"Oh. Itu tak terpikir olehku." Kini giliran Andre yang salah tingkah. Ia mengira tentu upah kerja di Paris jauh lebih mahal daripada di Jakarta. Walau ia telah mempersiapkan perjalanan ini sejak setahun sebelumnya dengan menabung, tetap saja ia harus berhemat. "Apakah kau tahu berapa tarip seorang guide di Paris, katakanlah untuk selama satu jam?"
Gadis itu menggeleng, "Aku tidak tahu." Lalu kembali berkata sambil tertawa, "bagaimana kalau dua botol air mineral ini dan sebungkus Pistachio sebagai uang muka," gadis itu mengambil dua botol air mineral dan sebungkus makanan dari konter di kedai. "Dan sebuah paket makan siang di McDonald untuk nanti siang?"
"Hanya itu?" Andre terbelalak.
"Hm... Kalau kau mau memberiku tip sebuah crème brulee untuk desert nanti, aku tidak akan menolak."
"Deal!" sambar Andre seketika.
Mereka bersalaman, lalu tertawa bersama ketika menyadari mereka telah membuat kesepakatan yang unik.
"Bienvenue à Paris, monsieur. Je suis Renita" Gadis berjaket berambut sebahu itu mengangguk takjim. Lalu tersenyum manis.
"Moi c'est Andre. Ravis de vous connaitre." Andre membalas dengan mengambil  punggung tangan Renita lalu menecupnya
"De même."
Dengan langkah ringan, mereka meninggalkan kedai lalu mulai menaiki tangga-tangga pelataran Palais de Chaillot. Andre menarik napas tajam, ketika beberapa detik kemudian, ia melihat 'itu'!
Sebuah bangunan menara dari besi yang menjulang setinggi lebih dari 300 meter, kini terpampang di depan matanya. Berdiri dari jarak kurang dari satu kilometer dari tempatnya berpijak sekarang.
Ketika ia masih tengah terkesima, tiba-tiba sebuah suara lembut terdengar di telinganya, "Andre, kau sudah menikah?" 
"Belum. Kenapa?" jawabnya seketika.
"Tidak apa-apa. Mari kita berkeliling menikmati Paris." 
Renita menyelipkan tangannya ke lengan Andre. Menuntun lelaki itu menuju Jardins du Trocadéro.

Bersambung....

Gardez la monnaie: Simpan kembaliannya.
Merci. Soyez prudent lorsque vous ouvrez la porte.: Terima kasih. Harap berhati-hati saat membuka pintu (mobil).
Bienvenue à Paris, monsieur. Je suis Renita: Selamat datang di Paris. Namaku Renita
Moi c'est Andre. Ravis de vous connaitre: Saya Andre. Senang berkenalan denganmu.
De même : Saya juga.

0 komentar:

Post a Comment

 
;