Tuesday, September 10, 2019 0 komentar

Perahu Lain


”Mega, kalau misalkan aku, kamu, dan ibumu sedang naik perahu, lalu perahu itu akan tenggelam, sementara kita cuma punya satu pelampung, kepada siapa pelampung itu akan kau berikan?” suatu hari Tristan bertanya pada istrinya.

“Gimana, sih? Kamu ngga tau peraturan keselamatan apa? Udah tahu yang mau berlayar lebih dari satu orang, kenapa pelampungnya cuma satu?” jawab Mega dengan nada bercanda.

“Andaikan kita berada dalam kondisi begitu. Tolong jawab aja pertanyaanku.” desak Tristan.

“Hm, aku yang akan memakai pelampung itu. Karena jika aku selamat, aku bisa menyelamatkan orang lain,” jawab Mega.

“Siapa orang yang akan kau selamatkan? Aku atau ibumu?”

Pertanyaan ini membuat Mega terkesima. Ia tentu tidak ingin dianggap lebih mementingkan salah satunya, karena mereka sama pentingnya dalam hidup Mega.

“Aku tidak ingin mengesampingkanmu, Mas. Kau penting bagi hidupku. Tetapi ibuku telah sepuh. Ia belum tentu punya tenaga yang cukup untuk bertahan, maka prioritasku adalah menyelamatkan ibu. Kutahu, kau kan cukup mahir berenang. Kau akan bisa berjuang sendiri mencapai pantai. Aku juga akan berharap ada perahu lain segera datang menyelamatkanmu. Jika tidak ada, aku akan segera kembali untuk menyelamatkanmu.”

“Hm, begitu ya?”
Lalu Tristan diam termenung. Membuat Mega merasa bersalah atas jawaban yang diberikan. Ia begitu khawatir suaminya merasa tersinggung.

“Tidak... tidak... aku tidak marah. Itu kan hanya pengandaian, Sayang,” ucap Tristan ketika Mega berkali-kali membujuk meminta maaf atas jawabannya.

Mega menyeka airmatanya ketika mendengar keputusan Tristan. Ia memohon agar Tristan membatalkan niatnya. Ia mengiba. Ia hancur ketika suaminya bergeming.

“Ibuku akan tenggelam dalam kesedihannya, Mega. Ia merasa bersalah, karena ia yang menyuruh bahkan memaksa Taufik berangkat menjemputnya. Padahal adikku itu sedang sakit kepala saat menyetir. Akibatnya Taufik lalai. Dan kecelakaan itu merenggut nyawanya. Aku harus mematuhi permintaan ibuku, Mega, untuk menebus rasa bersalahnya.”

“Tetapi, mengapa keputusan itu yang kau ambil?”

“Kau tidak akan bisa kan menerima separuh aku?”
Mega menggeleng.

“Kalau begitu keputusanmu, aku yang akan tenggelam dalam kesedihan, Mas. Belum-belum hatiku sudah hancur begini.” Mega bersimpuh di lantai. Memegang lutut suaminya.

“Kau tidak akan hancur, Mega. Kau perempuan paling kuat yang kukenal. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu ada untuk membantumu, jika kau butuhkan.”

Mendengar kalimat itu, Mega seolah telah terhempas dari perahu. Jeritan minta tolong menggema di dadanya. Tetapi tidak ada yang mendengar. Karena secara perlahan, ia mulai tenggelam dalam keputusasaan.
Gelap!
Sunyi!
Dunianya mati!
Ia pun akan segera mati...
Tiba-tiba sebuah hentakan keras membawanya kembali ke permukaan kehidupan,
“Bertahanlah, Mega!” Samar-samar ia mendengar suara dari kejauhan.
Sepasang tangan terus menarik tubuhnya, menjauhkannya dari gelombang lautan tanpa harapan. Membawa Mega yang penuh luka.

“Bernapaslah. Buka matamu. Hiduplah, Mega! Kau akan baik-baik saja,” sebuah suara berbisik di telinganya. Menenangkan.

Mega membuka mata. Ia tersenyum melihat ke sekitar.
Lalu menarik napas dalam-dalam.
“Ya, aku akan terus bertahan hidup,” ucapnya dalam hati.
Ada perahu lain datang menyelamatkannya.
Monday, September 9, 2019 0 komentar

Pekerjaan Terakhir


#Fiksi_Schatzi
Kebudayaan dan perilaku manusia dari zaman ke zaman semakin berubah. Manusia yang semula adalah makhluk sosial, yang saling akrab dengan lingkungan, semakin lama kian terasing satu sama lain. Mereka terisolasi oleh beban pekerjaan demi mendapatkan uang pembeli benda-benda yang menaikkan status sosial mereka. Makhluk-makhluk sosial yang kini menjadi yang berubah menjadi masyarakat materialis.
Ah, ya, maaf. Mereka tidak 100 persen berubah. Mereka tetap dengan fitrah yang selalu ingin bersosialisasi. Tapi sosialisasi dalam kungkungan semesta material. Manusia sekarang bertemu, bercakap-cakap, bercanda bahkan menangis melalui komputer, laptop, dan terbanyak melalui ponsel.
Manusia sekarang juga relatif pendiam. Mereka berbicara melalui tulisan, mengungkapkan emosi melalui simbol lingkaran kecil, atau menceritakan aktifitas melalui video beberapa detik yang bergerak berulang-ulang, yang disebut teknik boomerang.
Teknologi terbaru terus ditemukan. Maka orang modern harus juga terus memperbarui sarana penggunaan teknologi tersebut. Gawai-gawai harus selalu terkini.
Semua itu ditebus dengan harga yang tidak murah. Maka manusia modern butuh bekerja keras.
Memang para pekerja tidak perlu lagi datang ke kantor dan berdiam di sana antara pukul 9 pagi hingga 5 sore. Segala data telah terkoneksi secara online, tersimpan dalam 'cloud store', sehingga bisa diunduh dan diunggah dari mana saja.
Bekerja bisa dilakukan di kafe, di taman, di kamar tidur, atau di lobi bioskop. Bahkan kini sudah tak heran lagi jika toilet dipakai berlama-lama, karena seseorang yang sedang berada di dalam sana, melakukan aktifitas buang kotoran sambil terhubung dengan entah siapa, yang entah berada di bagian dunia mana.
Terlihat asik, tetapi sesungguhnya mereka membawa beban stress kemana-mana. Ke kafe, ke taman, ke kamar tidur, ke bioskop, termasuk juga ke toilet.
Begitulah. Manusia sekarang terkoneksi global, sekaligus kesepian. Banyak terlihat bersantai dan berlibur, namun kepalanya berputar aneka hal yang menjadi beban stres bahkan depresi.
Aku memiliki sebuah perusahaan jasa pembersihan rumah dan apartemen, berlokasi di Otorii. Bisnis ini sudah berjalan selama 7 tahun. Anak buahku 3 orang. Belakangan, Karena melihat peluang kebutuhan pelanggan, bisnisku melebar ke jasa pergudangan.
Para pelanggan kami biasanya para pekerja bujangan, yang menjadikan apartemennya hanya sebagai tempat untuk mandi dan tidur pada malam hari. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dan nongkrong di pub.
Kami jarang bertemu dengan pelanggan secara langsung. Mereka mengorder jasa kami melalui aplikasi, memilih jenis layanan yang mereka inginkan, lalu membayar. Kunci apartemen mereka titipkan di suatu tempat, sehingga kami bisa mengerjakan tugas di saat mereka sedang berkegiatan di luar rumah. Memang integritas dan kepercayaan pelanggan menjadi  modal utama kami.
Hingga di suatu hari terjadi hal yang tidak kami duga.
Sore hari itu ketika aku dan karyawanku tengah berkemas setelah selesai membersihkan sebuah apartemen di Ota-ku Nishikōjiya, seseorang mengaku inspektur dari Kepolisian menelponku.
Inspektur Hashida mengatakan bahwa ia dan anak buahnya sedang mengidentifikasi sesosok mayat yang telah membusuk di sebuah apartemen di kawasan Omorinaka. Dari ponsel yang berada di saku mayat, didapati nomor telepon perusahaan kami adalah nomor yang terakhir dihubungi dan menghubungi balik ke ponsel itu.
Sore itu juga aku dan ketiga karyawanku diinterogasi di Kantor Polisi Omori di Ota-City. Kami dicurigai karena sidik jari kami bertebaran di TKP. Kami dikenai tahanan kota dan wajib melapor setiap 2 hari sekali hingga didapat bukti kami tidak bersalah. Untunglah tidak sampai seminggu kemudian, polisi memperoleh saksi yang memberi keterangan bahwa korban, Yashori Isigawa, masih hidup dan sarapan di kedai langganannya di pagi hari setelah kami bertugas membersihkan apartemen lelaki itu.
Sebagai rasa syukur karena terbebas dari tuduhan, aku menawarkan jasa membersihkan apartemen Yashori. Polisi mengizinkan dan pemilik apartemen menyetujui.
Tak perlu waktu lama setelah membuka pintu apartemen yang telah tak berpenghuni itu, ketiga pegawaiku muntah-muntah. Bau protein dan lemak yang telah membusuk benar-benar membuat isi perut memberontak. Belatung sebesar kelingking bergeliat di berbagai sudut rumah. Dengan memakai masker oksigen kami membersihkan setiap sudut rumah.
Kami mengepak dan mencatat daftar jumlah dan merek pakaian dan sepatu. Membuat katalog buku-buku, lukisan, foto-foto, hingga peralatan makan. Kami mencatat dengan detil jenis dan jumlah setiap benda yang ada di dalam apartemen. Jika suatu saat kerabat atau ahli waris Yashori ditemukan, seluruh benda itu akan diserahkan. Butuh bekerja dua hari penuh untuk membersihkan apartemen 3 ruang itu.
Walau semula kuniatkan mengerjakan dengan gratis, namun pemilik apartemen memaksaku menerima imbalan jasa yang lumayan besar. 5 kali dari tarip normal. Dia senang melihat apartemennya telah rapi dan bersih, sehingga bisa segera disewakan kembali.
Malam hari setelah kami serah terimakan kunci apartemen yang telah bersih ke pemiliknya, aku dan ketiga karyawanku mengobati mual kami dengan meneguk bercangkir-cangkir sake di izakaya.
Sejak itu perusahaanku sering mendapat pekerjaan membersihkan apartemen atau rumah yang menjadi TKP dimana ditemukan mayat yang telah membusuk. Pekerjaan berat,  terbukti tak banyak perusahaan pembersih yang bersedia mengerjakan pekerjaan menjijikan ini.
Dari satu tugas pembersihan ke tugas pembersihan, membuat perusahaanku terkenal. Para pemilik apartemen puas dengan pekerjaan kami, karena apartemen mereka menjadi lebih bersih, dan benda-benda yang ditinggalkan tercatat dengan baik. Permintaan membersihkan bukan hanya dari Tokyo dan sekitarnya. Tak jarang kami ke Osaka, Minami Uonuma, atau Matsumoto yang berjarak ratusan kilometer dari Otorii.
Dari tugas-tugas itu aku mengamati persamaan para 'kastemer' kami. Mereka adalah orang-orang yang hidup sendiri di tengah hiruk-pikuk dan sibuknya kota Tokyo. Kerabat dan teman membersamai dalam bentuk foto-foto dalam suasana ceria yang terpajang di pigura atau tersimpan rapi dalam album foto. Kami nyaris selalu mendapati benda-benda berteknologi tinggi di dalam tas kerja atau di kamar tidur mereka. Dan sesekali boneka seukuran manusia, sebagai teman tidur.
Hingga suatu hari aku menyadari bahwa diriku tak ubahnya dengan para 'kastemer-kastemer' kami itu. Kastemer yang kutulis dengan tanda petik, karena mereka memberi kami pekerjaan justru setelah mereka tinggal berupa jasad terabaikan. Mereka membuat aku sadar, bahwa hidupku tidak ubahnya seperti mereka.
Aku telah berusia 48 tahun. Setelah lulus kuliah, aku bekerja apa saja. Dari mulai menjadi pramuniaga di toko swalayan, sales mainan anak-anak yang berjualan dari pintu ke pintu, petugas pengantar barang, hingga akhirnya aku membuat perusahaan sendiri.
Menjadi pemilik bisnis justru membuatku sibuk luar biasa. Aku harus berjuang mendapatkan order agar para karyawanku bisa digaji tepat waktu, membayar cicilan peralatan, membayar sewa kantor, biaya operasional, juga menopang biaya hidup ibu yang tinggal di Utsunomiya, kampung halaman beliau.
Maka hari-hariku dilewati dengan bekerja dan bekerja. Aku jarang berlibur karena di akhir pekan justru permintaan membersihkan apartemen lebih banyak. Aku pun lupa, kapan terakhir kali aku memiliki pacar.
Aku pun memutuskan merubah kebiasaanku. Aku tidak lagi memenuhi ajakan minum di izakaya, dan berhenti mengunjungi pink salon untuk mendapatkan kenikmatan seksual. Aku kini memulai rutinitas harian dengan jogging di pagi hari, lebih rajin menelpon ibu dan para tetua keluarga. Dan mulai mendelegasikan sebagian tugas kepada pegawai senior agar aku punya waktu mengunjungi kerabat dan teman.
Aku hanya tidak ingin mengalami nasib seperti para 'kastemer'ku.
Tetapi tidak sepenuhnya upayaku berhasil. Sebagian besar orang-orang yang kukunjungi tampak terganggu dengan kedatanganku. Walaupun ketika aku memberitahukan akan menjenguk, mereka tidak menolak. Maka kunjungan-kunjunganku hanyalah bertamu secara singkat. 30 menit adalah rekor terlama. Aku tidak sedih, karena aku paham mereka orang-orang sibuk. Sama seperti aku dulu.
Hari ini aku datang ke kantor setelah lebih dari seminggu berlibur. Hari masih sangat pagi ketika aku membuka pintu. Ruangan-ruangan masih lengang. Aku mengamati papan jadwal pekerjaan dengan tersenyum puas. Jadwal kerja kami penuh hingga 3 bulan ke depan.
Aku menuju ruang peralatan, dan kembali tersenyum puas. Perusahaanku telah memiliki alat-alat pembersih dengan teknologi baru, yang sebagian besar diantaranya telah dibayar lunas. Bisa dikatakan hutang usahaku kini sangat sedikit jika dibandingkan beberapa tahun terakhir saat bisnis kami melesat.
Jam 7.30, dari depan kudengar suara klik pintu terbuka, lalu dengungan suara-suara karyawanku masuk.
Aku sedikit terkejut ketika Kisenoshato membuka pintu ruang kerjaku, dia tersenyum ke arahku lalu membungkuk mengucapkan selamat pagi. Lalu berturut-turut karyawanku yang kini berjumlah 15 orang, muncul di pintu, membungkuk dan mengucapkan selamat pagi juga.
Jam 7.40 aku mendengar Shato mengumumkan rapat harian akan dilangsungkan 5 menit lagi.
Pukul 7.45 saat aku memasuki ruang rapat, kelimabelas karyawanku telah berkumpul. Aku mendengar suara napas tertahan dan sekilas tatapan terkejut dari mereka ketika aku duduk di kursi kosong di ujung meja rapat.
Setelah berdeham, Shato berdiri,
"Ah, Pak Bos, tidak kami sangka anda akan hadir di rapat hari ini. Izinkan saya memimpin rapat pagi ini." Karyawan paling seniorku itu kembali membungkuk ke arahku. Karyawan lain pun mengikuti. Aku membalas membungkuk pada mereka.
"Silakan," jawabku.
"Selamat pagi semua," Ujar Shato membuka rapat. Wajahnya tiba-tiba menjadi keruh, "Sebenarnya, aku berat menyampaikan pengumuman ini. Yah, sama seperti tiap kali kita mendapatkan pekerjaan seperti ini. Jadi pada pukul 9 semalam, aku mendapat telepon dari Inspektur Hashida. Ia mengabarkan bahwa mereka telah selesai memindahkan jenazah dari sebuah rumah di jalan Haginaka, kemarin sore. Dan menanyakan apakah kita akan mengambil pekerjaan membersihkan rumah itu? Inspektur mengatakan bahwa pihak asuransi akan membayar biayanya."
"Sudah tentu kita akan mengambil pekerjaan itu. Seandainya pun kita tidak dibayar, aku mau melakukannya."
Aku tersenyum lebar mendengar semangat dalam suara Kitaro. Tetapi tentu aku tidak setuju jika kami tidak dibayar. 
"Baiklah, Isei dan Miya, kau yang memimpin jadwal pembersihan kita di kastemee lain. Aku sendiri yang akan memimpin pembersihan rumah di Haginaka itu. Baiklah begitu saja rapat hari ini. Ayo kira bergegas." Lalu Shato membungkuk ke arahku, "Demikian rapat pagi ini, Bos." Kemudian ia ke luar ruangan.
Karyawan lain ikut membungkuk, dan pergi.
Aku terkejut.
"Hai, Shato! Hai! Kau anggap aku sudah jompokah sehingga kau tidak mengajakku melakukan pembersihan hari ini? Aku ikut!"
Tetapi tentu Shato tidak mendengar teriakanku. Ia sudah menuju ke gudang untuk mengambil peralatan kerja.
Aku menggigil ketika truk yang dikemudikan Shato berhenti di depan sebuah rumah. Tampak beberapa helai sisa pita kuning garis polisi menempel di pagar rumah, yang dicabut asal-asalan.
Shato yang telah mengambil kunci rumah di kantor polisi sebelum ke sini tadi, membuka pintu dengan tangisan tersedak-sedak di tenggorokannya. Dadaku pun serasa tercabik.
Bagaimana bisa ini terjadi?
Berapa lamakah mayat itu baru ditemukan? Apakah sudah membusuk?
Mengikuti Shato, aku masuk ke rumah yang telah sangat kukenal. Tetapi berbeda dengan suasana dulu, rumah ini sekarang tampak sangat lengang. Ruang duduk terasa lapang tanpa berbagai perabotan yang biasa kulihat.
Kemudian Shato dengan dibantu dua karyawan lain, menurunkan peralatan dari truk, lalu mereka bekerja dalam diam.
"Pekerjaan di rumah ini akan cepat selesai." Ujar salah satu karyawanku saat memandangi kotak-kotak kayu di kamar tidur. "Bos telah melakukan sebagian besar pekerjaan ini sebelum kita."
"Ya, kau benar. Bos bahkan sudah membuat katalog dan menuliskan alamat-alamat panti sosial dan perpustakaan di masing-masing kotak. Sehingga kita bisa dengan mudah menentukan akan mengirim barang-barang ini sesuai kehendaknya."
Bos? Apakah aku yang mereka maksud?
"Andaikan aku sedikit peka, mestinya aku mengeceknya ketika ia tidak datang ke kantor," Shato berujar saat ia berada di dalam ruang tidur, sambil merapikan setumpuk foto-foto.
"Kau tidak bersalah, Pak Sato, karena Bos kan pamit mau berlibur. Dan memang dia sudah pergi berlibur 2 kali dalam dua tahun ini. Dan setiap kali selalu membawa oleh-oleh buat kita." Salah satu anak buahku menghibur Shato.
"Yah, kau tahu Wan, aku berharap mengharapkan oleh-oleh darinya. Bukan berita duka cita tentangnya." Timbal karyawanku lainnya.
"Hush! Sudah-sudah!" Hardik Shato. "Kau tahu, aku masih saja merasa ia berada di kantor setiap hari. Itulah sebabnya aku selalu mampir ke ruangannya untuk mengucapkan selamat pagi dan selamat petang."
Dan lalu segalanya menjadi jelas bagiku.
Ya, Memang. Di hari ulang tahunku ke 50, aku memutuskan mengakhiri cerita hidupku di dunia ini.
Aku izin cuti selama 3 hari, yang kupakai untuk merapikan barang-barangku, memasuki ke kotak-kotak dan melabeli kotak tersebut. Semula aku ingin mengirimkan sendiri barang-barang tersebut melalui jasa kurir, tetapi aku khawatir di saat terakhir aku berubah pikiran. Tak mungkin kan meminta kembali barang-barang yang sudah kau sumbangkan? Sedangkan barang itu bermanfaat saat kau hidup, yang jika kau membeli baru, tentu akan menghabiskan sebagian tabunganmu.
Maka aku membuat surat wasiat mengenai seluruh harta bendaku, dan melimpahkan operasional perusahaan kepada Shato.
Segala hal ini kupelajari semua dari mantan-mantan kastemerku, yang seringkali meninbulkan begitu banyak masalah di akhir dan setelah kehidupan mereka. Bukan hanya masalah mengurus jenazah yang telah membusuk karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu tak diketahui kematiannya. Namun seringkali barang-barang peninggalan mereka tak terurus, dan memenuhi gudang penyimpanan perusahaan kami. Karena bertahun-tahun barang tersebut tak bertuan, dengan persetujuan pengacara, satu persatu barang-barang yang memiliki nilai, kami jual sebagai biaya ganti sewa gudang.
Aku tak ingin semua itu terjadi padaku. Maka aku memutuskan sendiri akhir cerita hidupku.
Ketika seluruh barang-barang telah selesai kukemas dan kulabeli, serta seluruh sudut rumah telah bersih kusikat dan kuseka, sebelum menelan segenggam pil tidur, aku membuat email yang kuatur akan mengirim surat elektronik itu pada waktu tertentu, meminta inspektur agar memeriksa rumahku, sehingga ia bisa menemukan jenazahku ketika tubuhku masih hangat dan bakteri pembusuk belum sempat menggerogoti daging-dagingku.
Aku puas dengan pekerjaan terakhirku
0 komentar

Biaya Masuk SMK Caraka Nusantara

Memilih sekolah yang tepat adalah salah satu tugas orang tua dalam mempersiapkan masa depan anak-anaknya. Sekolah menengah tingkat atas adalah titik awal yang cukup menentukan arah sebelum anak duduk di bangku kuliah. Sehingga sejak di SMA anak diarahkan untuk mengambil jurusan IPA, IPS atau Bahasa. Penjurusan ini memberikan pondasi bagi anak jika ingin mengikuti perkulihan sesuai minatnya.

Namun, selain SMA Umum, pemerintah juga menyediakan alternatip sekolah tingkat menengah yang mengajari keahlian dan keterampilan tertentu, yang disebut dengan Sekolah Menengah Kejuruan, atau disingkat SMK, yang bertujuan menyiapkan tenaga kerja muda yang berketerampilan dan handal.

Menurut pendapat penulis, salah satu SMK terbaik di Jakarta adalah SMK Caraka Nusantara.

SMK Caraka Nusantara memiliki 2 jurusan yaitu Kimia Analisis dan Farmasi. 

Adapun kesempatan bekerja bagi jurusan Kimia Analisis adalah:
- Industri Kimia
- Industri makanan dan minuman
- Industri Farmasi
- Industri Kosmetik
- Industri Plastik
- dan sebagainya.

Sedangkan para lulusan SMK jurusan Farmasi dapat bekerja pada
- Apotek
- Rumah Sakit
- Industri Farmasi
- Industri Alat Kesehatan
- Industri Kosmetik
- Industri Jamu

Bersekolah di SMK sangat membantu berakselerasi jika siswa bermaksud melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Adapun persyaratan masuk sekolah ini adalah:

-Memiliki Ijazah SMP dengan nilai Matematika dan IPA minimal 7.
-Umur maksimal 16 tahun
-Berkelakuan baik
-Dinyatakan oleh pihak berwenang bahwa calon siswa bebas dari penggunaan narkoba
-Tidak buta warna, tidak tuna fisik dan tidak ada gangguan pendengaran
-Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama pendidikan.
-Bersedia ditempatkan di luar wilayah DKI Jakarta saat Praktek Kerja Industri

Adapun biaya masuk SMK Carana Nusantara untuk tahun ajaran 2020-2021 adalah sebesar Rp. 7.500.000
Biaya tersebut sudah termasuk
-SPP bulan Juli 2020
-Biaya Praktikum
-Biaya Ekstrakuliler : OSIS, Mading, Marching Band.

Namun belum termasuk
-Buku-buku
-Pakaian seragam (kurang lebih 1.2 juta rupiah ).

Lama Pendidikan:
Jurusan Kimia Analisis : 4 tahun
Jurusan Farmasi: 3 tahun

Catatan:
-Bagi murid yang membawa 1 orang teman, akan dikenakan potongan bea masuk sebesar Rp. 1.000.000,-
-Early Bird untuk pendaftaran adalah sebesar 6.500.000 (masa akhir program ini bisa ditanyakan langsung ke pihak sekolah.)

Informasi pendaftaran bisa langsung ke
Komplek Pulogebang Permai Blok H4 No. 10, Kec. Cakung,  Jakarta Timur

Monday, September 2, 2019 0 komentar

Pelangi Hitam (Bagian 1)


Aku berbaring di kamarku di Moore-Hill Dormitory dengan pikiran lalu-lalang. Menimbang-nimbang apakah akan turun ke kantin untuk membeli makanan, atau mengisi lambungku dengan minum berliter-liter air hangat saja. Selain karena sedang malas untuk bergerak ke kantin, aku juga tahu bahwa sisa uang jatah bulan ini mulai menipis. Memang aku bisa menelpon ke Jakarta untuk minta tambahan uang saku, tetapi aku merasa gengsi. Masak aku tidak bisa seperti ribuan mahasiswa lain yang sanggup membiayai hidup hanya dengan mengandalkan uang beasiswa.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarku
"Siapa?" Tanyaku setengah berteriak.
"Special delivery service," jawab suara dari arah depan pintu.
"Sebentar!"
Aku segera gerubukan mengganti kaos usang dan celana pendekku dengan pakaian yang lebih pantas. Dengan terburu-buru aku memupurkan bedak ke wajah dan mengoleskan lipstik ke bibirku.
Aku mengenali suara itu.
Aku membuka pintu dengan senyum lebar, karena yakin pertolongan terhadap laparku telah datang.
Benar saja. "Chicken fajita dari Arturo's," seru orang yang berdiri di depan pintu sambil mengulurkan kantong kertas berwarna cokelat. "Aku tahu pemalas sepertimu pasti belum makan karena enggan beranjak ke kantin."
Dengan suka cita aku membongkar bungkusan itu.
"Oh, Drei. Kau memang penyelamat hidupku. Kau selalu bisa membaca jalan pikiranku."
"Tidak gratis, Nona." Drei ikut mengambil satu potong Chicken Fajita, lalu duduk di sebelahku. "Aku sedang suntuk. Dua pekan ini tugas bertubi-tubi datang ke mejaku. Jadi aku membawa ini sebagai sogokan agar kau mau menemaniku jalan-jalan."
"Ke mana?" tanyaku sambil mengunyah.
"Entah. Aku juga belum punya ide. Kita ke Zilker, atau keliling kota? Aku cuma ingin ada seseorang duduk di sisiku, berbagi cerita tentang apa saja."
"Oh, kasihan sekali. Kau jomblo yang merana."
"Jangan didramatisir. Hidupku tidak sesengsara itu. Aku punya seseorang yang bisa kuandalkan."
"Kalau itu, aku sudah tahu. Betapa berartinya aku bagimu kan?" Aku berkata dengan nada bangga, sambil mengambil sepotong lagi fajita.
"Jangan besar kepala! Hei, jangan dihabiskan! Aku juga masih mau!" Ia menatap fajita terakhir yang siap masuk ke mulutku.
"Nih, kubagi separuh." Aku menggigit separuh dan sisanya kusuapkan ke mulutnya. Ia mengunyah dengan cepat lalu minum dari gelasku.
"Aku masih lapar. Cari makanan, yuk." Drei menarik tanganku agar aku berdiri. Aku buru-buru meraih sandal di bawah meja dengan kakiku.
"Cari? Beli!" Godaku.
"Iya, kita beli makanan. Kau yang bayar." ujarnya sambil mengunci pintu kamarku.
"Kau tak kasihan padaku, mahasiswa bermodalkan beasiswa? Kalau malam ini aku mentraktirmu, bisa-bisa aku akan menanggung kelaparan selama dua minggu tersisa hingga jatah beasiswa bulan depan datang."
"Oh, air mataku hampir jatuh mendengar penderitaanmu," olok Drei.
Lelaki itu meraih bahuku saat kami berjalan bersisian di sepanjang lorong kamar-kamar asrama yang riuh. Beberapa kali ia mengangguk dan membalas sapaan teman-teman yang berpapasan dengan kami.
Kami memutuskan membeli kebab dari food truck yang parkir tidak jauh dari asrama. Lalu memakan makanan yang rasanya telah dimodifikasi menjadi lebih mirip daging barbeque ala Texas, namun dengan tambahan kulit kebab, sambil berkendara menuju ke pusat kota.
"Kita akan kemana, Drei?"
"Entah. Nanti aku akan berhenti, kalau ingin berhenti. Yang jelas, aku tidak akan menculikmu."
"Aku tidak khawatir soal itu."
"Oya? Kenapa?"
"Kalau kau menculikku, tak ada jalan lain, orang tuaku akan memaksamu menikahiku. Enak saja, mana bisa kau lolos setelah menculik anak perempuan orang?"
"Aku pernah berpikir, mungkin sebaiknya aku menikahimu saja, daripada pacaran dan putus berkali-kali karena merasa tidak cocok dengan mereka."
Aku tertawa tergelak-gelak hingga air mataku menggenang.
"Lalu kau akan melepas predikat high quality jomblomu, yang telah kau pertahankan bertahun-tahun? Kau akan kehilangan kesempatan menaklukan para barbie dengan lirikan mautmu, Drei."
"Brengsek! Aku tidak pernah memacari barbie!"
"Yah, satu-dua orang diantaranya memang punya otak. Tetapi sebagian besar mereka hanya bermodalkan dada membusung dan tubuh aduhai."
"Tidak semua perempuan bisa membahas tentang teori quantum-nya Planck atau tentang fotolistrik sebagai obrolan kala senggang, sepertimu, Jihan!" Balasnya dengan kesal.
"Aku seburuk itukah bagimu, Drei?" Aku menatapnya pura-pura ngeri.
"Bagiku, efek kehadiranmu jauh lebih mengerikan dibandingkan mereka, Jihan. Belakangan kusadari, aku takut jika hidup tanpamu. Lihatlah pada siapa aku berlari setiap kali aku mengalami saat-saat berat dalam hidup? Padamu. Begitupun, kau orang pertama yang selalu kucari jika aku mendapat kabar gembira. Aku selalu ingin membagikannya kepadamu, sebelum kepada orang lain. Bukan kepada orang tuaku atau pacarku saat itu."
Aku tergagap.
"Kurasa itu karena kebiasaan kita bertahun-tahun saja, Drei."
"Ya, kita sudah terbiasa bersama bertahun-tahun. Lalu bagaimana jika suatu saat nanti kau menikah, lalu suamimu melarang aku menemuimu lagi? Atau jika istriku cemburu padamu?"
"Jika saat itu tiba, mungkin kita akan berubah, Drei," jawabku dengan lemah. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan hal itu mungkin terjadi kelak.
Drei terdiam. Ia berkonsentrasi pada lalu lintas yang macet. Menyetir di sini, harus ekstra waspada. Karena tak jarang mobil di depan menyalakan lampu sinyal akan berbelok, hanya sedetik sebelum sopir memutar setirnya.
Setelah hampir satu jam kami membelah keramaian lalu lintas kota yang masih sangat padat pada pukul sepuluh malam itu, Drei memutuskan memarkirkan mobilnya di tepi jalan di samping Zilker Park.
"Melanjutkan pembicaraan kita tadi," Drei menarik napas dalam. Setelah menghembuskannya perlahan, dia mengucapkan kalimat yang membuatku tergugu, "Menikahlah denganku, Jihan. Agar hal itu tidak terjadi pada kita."
Apa-apa ini?
Aku kalut ketika kulihat ada keseriusan di matanya.
Oh, tidak!
Tidak!
Aku bukan perempuan setipe pacar-pacar Drei selama ini. Jauh dari itu.
"Kita tidak saling mencintai, Drei."
"Tetapi setidaknya kita saling menyayangi," bantah Drei dengan keras kepala. "Dengan meyayangi, kita tidak akan saling menyakiti, Jihan. Seperti halnya yang telah pernah kita alami dengan kekasih-kekasih kita sebelumnya."
"Kau memaksa, ya? Seperti biasa." Aku memelototinya.
"Aku berjanji akan berubah. Apapun, agar kau lebih nyaman. Karena kalau kita bertengkar terus, kepada siapa lagi aku akan mengadu nanti?"
"Rayuan gombal! Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Grace, pacar edisi terbarumu?"
"Oh." Drei nyengir. "Kami bertengkar beberapa hari lalu."
"Tentang?"
"Kami berbantahan gara-gara kebijakan imigrannya Trump si Brengsek itu. Dan perempuan itu, kau tahu, pendukung berat Trump. Huh! Dengan kulit pucatnya, dia pikir dia warga asli Amerika, sehingga merasa lebih superior dibanding para imigran? Kukatakan padanya, untuk menelusuri nenek moyangnya, bukan tidak mungkin mereka berasal dari Inggris atau negara Eropa lain. Tapi yah..." dia mengangkat bahunya.
Aku tergelak-gelak, "Kau memutuskan pacarmu hanya gara-gara dia pendukung Trump?"
"Kau tahu, aku selalu alergi berhadapan dengan orang rasis."
"Tapi kau pernah jatuh cinta padanya kan?"
"Mungkin baru sampai pada tahap menyukainya. Belum benar-benar mencintainya. Buktinya aku baik-baik saja ketika putus darinya," jawab Drei.
"Karena ada aku yang selalu jadi tempat pelarianmu untuk curhat." Kataku menyombongkan diri.
"Ya, Jihan, ya. Dalam keadaan bagaimana pun, aku akan selalu baik-baik saja. Karena aku tahu, aku memiliki sahabat terbaikku." Drei mengenggam tanganku, lalu mengecupnya.
Aku menarik napas panjang. Sebal pada irama jantungku yang tiba-tiba berdebar kencang.
Bukan baru sekali ini Drei melakukannya, biasanya aku menanggapinya dengan tanpa pretensi. Tetapi kenapa sekarang aku merasa berbeda?
Malam Sabtu, suara keramaian anak-anak asrama yang sedang bercengkerama dan membakar sosis di taman Moore Hills terdengar riuh hingga ke kamarku di lantai 3. Biasanya aku ikut bergabung dengan mereka. Bergosip atau bermain kartu. Tetapi malam ini aku ingin segera tidur.
"Ting!"
Suara tanda ada pesan masuk ke ponselku.
"Kau punya janji kencan malam ini?"
Demikian isi pesan pendek dari Drei, yang baru masuk di aplikasi WeChat.
"Aku ngantuk. Semalam begadang, dan tadi nyaris 6 jam aku bekerja di lab membantu Kate," balasku.
"Oke. Kubawakan TacoBell saja, ya. Tidak ada pilihan lain, karena aku sudah order." Isi pesan berikutnya dari Drei.
Begitulah cara kami bertukar pesan. Sering tak 'nyambung', tapi kami saling paham maksud yang tersirat.
Sambil makan makanan yang dibawa Drei, kami nonton film di Netflix. Tiba-tiba, aku teringat pada tugas kuliahku, aku segera menyalakan komputer di meja belajar.
"Drei, aku punya pertanyaan yang kuyakin kau bisa membantu menjawabnya. Begini, jika ada masalah di operation unit yang mengalami triple efek dari evaporator yang biasanya menggunakan 7% sodium hidroxide, lalu...."
Drei memperhatikan layar komputer dari belakang punggungku, ikut menganalisa masalah yang kuperlihatkan padanya.
"Kenapa?" bisiknya di telingaku.
"Apakah dibutuhkan pemanasan agar efek yang diinginkan bisa memberikan hasil seperti yang diharapkan? Uap panas dari boiler terpasang sebesar 125 psi..."
"Bukan itu pertanyaanku. Kenapa kamu gemetar?"
"Sialan! Karena kamu menempel di punggungku!"
"Biasanya tidak berpengaruh padamu. Kenapa sekarang berbeda?"
"Entah. Aku..."
Tiba-tiba aku merasa seperti tercekat dan sesak napas sekaligus, ketika kusadari bibir Drei mendarat di bibirku.
"Haha, bernapas, Jihan. Bernapas." Drei menepuk-nepuk pipiku. "Aku cuma mengecupmu. Belum menciummu."
Aku belum benar-benar pulih dari shock, saat terdengar suara pintu kamarku ditutup, dan langkah ringan Drei menjauh.
Brengsek kau, Drei!
0 komentar

Pelangi Hitam (Bagian 2)


Aku menyalakan aplikasi Deezer di laptop, memilih beberapa judul lagu untuk diputar berurutan. Kemudian aku mengklik tombol 'Play'. Setelah intro lagu, aku pun bersenandung mengikuti Michael Learns to Rock. Lenganku bergerak-gerak, dan ekspresi wajahku mengikuti nada lagu itu. Tak peduli walau beberapa pasang mata mahasiswa yang juga sedang praktikum menontonku beraksi.
"Baby won't you tell me why
there is sadness in your eyes
I don't wanna say goodbye to you
Love is one big illusion I should try to forget
But there is something left in my head"
Setelah menyanyikan sepenggal bait tersebut, aku meluncur seolah memakai sepatu roda, menuju alat ekstraksi. Sambil memperhatikan larutan mengaliri ekstraktor, aku melanjutkan bersenandung,
"You're the one who set it up now
you're the one to make it stop
I'm the one who's feeling lost right now
Now you want me to forget
every little thing you said
But there is something left in my head."
"Woi, Jihan! Berisik! Pelankan suara speakermu!" Suara Bastian bergema dari meja lab di dekat pintu masuk. Aku menoleh padanya, memeletkan lidah, tanpa berniat memenuhi protesnya.
"I won't forget the way you're kissing
The feeling's so strong were lasting for so long
But I'm not the man your heart is missing
That's why you go away I know..."
lanjutku bernyanyi dengan suara tinggi.
"Ya ampun, Jihan. Emang siapa sih yang sudah menciummu? Sampai terbayang-bayang gitu," kali ini suara Kate yang mengolokku.
"Sweet Johnny, ya, Jihan?" Reba, asisten Kate, ikut-ikutan meledekku.
Ngawur!" Aku memelototi Reba. Perempuan tomboi itu tergelak.
Sweet Johnny adalah julukan untuk John Richardson, kepala asrama Moore Hills.
Dinamai Sweet Johnny karena walau lelaki itu bertubuh tinggi besar dan konon memegang sabuk hitam Taekwondo, ia adalah orang yang sangat ramah, agak gemulai dan senang menebar pujian.
"Hai, Jihan! Melihat kau memakai blus oranye begitu, pagiku tiba-tiba menjadi cerah," ucapnya dengan senyum lebar.
Maka jawabanku akan, "Aaahhh, you're so sweet, John."
Begitulah.
"Baiklah, aku menyerah jika kau menolak tebakanku bahwa yang menciummu bukan Sweet Johnny. I have no clue. Soalnya, pasti juga bukan Drei. Karena sejam yang lalu aku melihat ia tengah berduaan dengan Dr. Nath di Terowongan Angin," lanjut Reba.
"Mungkin mereka sedang mendiskusikan tentang pekerjaan yang dilalukan di tempat situ," bela Kate. Dia pasti melihat wajahku yang bersemu merah.
"Aku bisa membedakan bahasa tubuh orang yang sedang serius diskusi, atau sedang saling menggoda, Kate." Reba ngotot. "Kamu hebat ya, Jihan, bisa terus bersahabat dengan Drei tanpa pernah jatuh cinta pada lelaki itu. Kalau aku, asalkan Drei mau jadi pacarku, disuruh memakai rok pun aku mau."
Kami semua tahu, adalah hal yang nyaris tidak mungkin jika Reba mau memakai rok.
Aku pura-pura serius mencatat hasil ekstraksi, agar Reba berhenti mengolok-olokku.
Ah, Drei, andai kau tidak lancang menciumku, duniaku tidak gonjang-ganjing sekarang.
Aku mengenal Drei saat orientasi mahasiswa baru. Dia salah satu senior yang kemudian mengasisteni mata kuliah Hidrokarbon. Diajari oleh asisten dosen yang tampan, seketika semua mahasiswi teman sekelasku berusaha menarik perhatiannya. Aku yang merasa tak akan sanggup bersaing dengan mereka, memilih melipir.
Namun nilai-nilai kuis dan tugasku yang selalu nyaris sempurna, malah membuat Drei memberi perhatian lebih. Aku menerima perhatian dari asisten dosen itu tanpa pretensi ingin memikatnya.
Tahun demi tahun kami terus bersama sebagai sahabat dekat. Segalanya berlangsung seperti yang seharusnya.
Namun kini aku tengah berjuang sekeras mungkin mempertahankan persahabatan ini, tanpa dinodai rasa cinta antara lelaki dan perempuan.
——
Aku kembali ke asrama pada pukul 9 malam. Tak lagi kaget ketika mendapati pintu kamarku sedikit terbuka. Drei sering merayu Sweet Johnny agar mau membukakan pintu kamarku untuknya.
"Mr. Richardson tahu aku tidak akan mencuri di kamarmu, Jihan," jawab Drei ketika dulu aku mengomel tentang kelancangannya ini.
"Tetapi ini kamar perempuan, Drei. Sedangkan kamu lelaki," sentakku.
Drei mengerutkan keningnya.
"Bermasalahkah?"
"Tentu. Bagaimana sih kau!"
"Aku tidak pernah menganggap kita berbeda jenis kelamin, Jihan." Lalu Drei tersenyum miring, "Entah, ya Jihan, terhadapmu sensor libidoku rasanya error."
"Iya deeeeh... Aku kan ngga secantik atau seseksi barbie-barbiemu itu, Drei."
"Bukan. Bukan karena itu. Tetapi karena aku menganggapmu tidak berbeda denganku. Kau telah menjadi bagianku, Jihan. Maka tak mungkin aku... Ah, bagaimana aku menjelaskan apa yang kurasakan? Masak kau tidak paham?"
Aku buru-buru mengangguk.
"Ya... ya... Drei. Aku paham sekali. Aku pun merasakan begitu."
Saat itu aku pun begitu. Aku tidak pernah merasa naluri erotis pada Drei walau kami duduk menempel bersisian berjam-jam menonton film di layar televisi kamarku, atau kami ngobrol berdua tentang berbagai hal, di ruang duduk rumahnya.
Hingga ia melontarkan ide ingin menikahiku.
Hingga ia mengecupku.
Segala kemewahan rasa persahabatan menghilang sejak kecupan itu. Drei memang beberapa menciumku sebelumnya. Tetapi di pipi atau dahiku. Saat ia tengah bergembira, atau saat ia tengah menghiburku. Yang kurasakan pada ciumannya dulu itu hanya rasa sayang. Tidak ada debar-debar cinta.
Sekarang, lelaki yang membuatku kalut itu tengah tidur nyenyak di sofa. Layar televisi menyala dengan volume suara disenyapkan. Sesaat aku tergoda ingin mengecup pipinya.
Ah!
"Drei, bangun, Drei! Jangan ngorok di kamarku!" Aku menggoyang-goyangkan kakinya.
Dengan tergeragap, Drei langsung duduk. Matanya memerah.
"Jam berapa?" tanyanya dengan suara serak. Tampak agak linglung.
Aku mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air hangat, lalu mengulurkan gelas itu kepada Drei. Ia menghabiskan isi gelas dengan sekali teguk.
"Jam 9.17," aku melirik jam digital di dinding. "Jam berapa kau datang ke sini tadi?" Kataku sambil memasukkan jas lab ke dalam kotak laundry. Lalu menata buku dan tas di atas meja belajar.
"Kau baru tiba?"
Aku mengangguk.
"Dari mana saja? Aku di sini sejak jam 6. Kau tidak membaca pesanku?"
"Aku di Lab 302 bersama Kate dan Reba, dan beberapa mahasiswa lainnya. Sepanjang sore aku memang tidak membuka ponsel."
"Aku ke 302 tadi. Sekitar jam 5. Reba mengatakan kau sudah pergi," kalimat Drei yang bernada tinggi, membuatku kesal. Ada apa sih dengannya?
Aku mengambil ponsel, lalu menghubungi Reba. Kunyalakan speaker telepon saat berbicara.
"Reba, bisakah kau jelaskan, aku berada di Lab bersamamu hingga pukul berapa?" kataku begitu sambungan telepon itu tersambung.
"Astaga! Kau tidak bisa membaca jam ya Jihan?"
"Bukan begitu. Tapi karena..."
"Sebentar, sebentar! Apakah kau menelpon karena pacarmu sedang menginterogasimu? Oh, Honey, aku tidak akan ikut-ikutan." jawab Reba dengan nada yang menyebalkan.
"Reba, ini Drei." Tiba-tiba Drei menyela pembicaraan kami. Aku mendengar Reba mendengus sebal. "Kau katakan tadi Jihan tidak ada di 302, kenapa kau berbohong?"
"Pada bagian mana aku berbohong, Drei? Saat kau datang, dia tidak ada di Lab. Kau lihat sendiri kan?" Reba menjawab dengan intonasi tinggi.
"Tetapi mestinya kau..." Nada suara Drei pun sama gusarnya.
"Oke..oke...terima kasih, Reba." Aku buru-buru menutup sambungan telepon.
Drei kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Mungkin, kau datang saat aku sedang keluar lab, Drei," kataku mencoba membujuknya. "Aku memang benerapa kali mencari udara segar di taman, menghilangkan kesuntukan.
"Sungguh tak enak, bangun tidur aku harus berkonflik denganmu." Drei mendesah.
"Kau sendiri yang..."
"Abaikan pertanyaanku tadi. Duduk sini," Drei menepuk sofa di sisinya. "Sebenarnya tadi aku bermaksud mengajakmu makan malam ke Jester. Tapi sekarang waktunya sudah mepet, aku harus segera pulang dan berkemas. Aku perlu bangun dini hari untuk berangkat ke bandar."
"Kau mau kemana?"
"Besok subuh aku akan ke Novorossiysk. Aku dan beberapa teman akan melakukan riset di Laut Hitam." Drei berdiri, dan mengeluarkan dompetnya dari saku celana. "Aku sudah mentransfer $200 ke akun Bevo Buck-mu. Dan ini $300 untuk membeli keperluanmu. Aku akan pergi kira-kira selama 10 hari hingga 2 minggu. Aku tidak ingin saat kembali nanti, aku menemukanmu tergeletak lemas karena tidak makan berhari-hari."
"Masih ada deposit lebih dari $100 di Bevo Buck-ku, Drei. Aku juga masih punya beberapa puluh dollar di rekening bank. Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan mati kelaparan hingga beasiswaku masuk ke rekening."
"Aku tadi berbicara dengan Nath," kalimat Drei membuatku tiba-tiba tercekat. Aduh, koq aku cemburu sih? "Dia bilang, hari Jum'at akan memberi kalian tugas membuat prototipe desain RO. Kau tentu perlu membeli beberapa pipa, katup dan alat monitor laju alir."
"Aku bisa meminjam properti Foundry untuk mengerjakan tugas itu. Jadi kau tidak perlu sampai meminjami aku uang, Drei."
"Aku tidak meminjami uang padamu. Aku memberikan."
"Itu lebih menghinaku, Drei! Kau pikir aku fakir miskin?"
"Bukan begitu. Aku tahu kau tidak punya cukup uang jika tiba-tiba ada pengeluaran mendadak. Terima saja, kenapa sih? Apa-apaan jalan pikiranmu, sampai mengira aku berniat menghinamu!"
Drei membuka pintu kamar dengan menghentakkan gagangnya. Lalu tanpa menutupnya kembali, ia pergi.
Aku mematung.
Tentu selama bertahun-tahun bersahabat, kami kerap bertengkar. Tetapi baru kali ini aku merasa sakit hati seperti ini.
Aku mengambil tiga lembar uang seratus dollar yang diletakkan Drei di meja, lalu memasukkan lembaran-lembaran itu ke dalam dompet. Besok sore sepulang praktikum, aku berniat ke bank untuk menyetorkan uang itu ke dalam rekening bank milik Drei.
Dengan langkah berat, aku menuju balkon untuk mengambil handuk. Saat itu aku melihat mobil Drei melaju meninggalkan tempat parkir. Entah mengapa, aku merasa ditinggalkan.
Di kamar mandi, aku menangis untuk sesuatu yang aku sendiri merasa absurd.
Saat berjalan pulang dari lab tadi, aku berniat akan mengerjakan laporan praktikum yang tertunda, setelah makan malam. Namun ternyata saat ini aku tidak merasa lapar, juga keinginan belajar telah terbang. Aku memutuskan untuk tidur saja.
Baru saja mengklik tombol lampu tidur, pintu kamarku diketuk dengan keras.
"Siapa?"
"Tolong buka pintu, Jihan. Ini penting." Suara Drei.
"Ya, Drei?" Aku berdiri di ambang pintu.
Lelaki itu mendorongku pelan agar tidak menghalanginya menerobos masuk, lalu dengan sekali sepak, dia menutup pintu.
"Aku sudah sampai di University Avenue, tetapi memutuskan untuk kembali ke sini. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu sejak berminggu-minggu lalu. Namun, jujur, aku sempat merasa takut."
"Apa?" Tidak banyak hal yang kutahu membuat sahabatku ini takut.
"Ng... Begini, Jihan." Drei tampak bimbang sesaat. Lalu sorot matanya bersinar lemah seolah pasrah. "Kupikir aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu."
"Kenapa, Drei? Pacarmu melarangmu? Kau bilang kau sudah putus dari Grace. Kalian balik lagi? Atau pacar barumu lainnya? Nath kah?" Tanyaku dengan suara getas. Andai Drei mengatakan hal ini sebulan lalu, aku yakin tidak akan sesakit yang kurasakan sekarang.
Betapa sedihnya aku harus melepas harapan yang baru saja berani kuangankan.
Air mataku pun bercucuran. Tak bisa disembunyikan lagi.
Drei mengulurkan tangannya mencoba memelukku. Namun aku bergerak menjauh.
"Seharusnya kau tidak usah datang lagi ke sini, Drei, " dengan susah payah kutahan isakku. "Di balkon tadi saat melihat mobilmu pergi, aku sudah merasa akan kau tinggalkan. Seharusnya kau menghilang saja atau menjauhiku, tanpa mengucapkan apa-apa, Drei?"
"Maafkan aku, Jihan. Aku tidak ingin melukaimu. Tetapi aku harus jujur," sekali lagi Drei berusaha meraihku. Aku kembali mundur dari jangkauannya. Aku tentu tidak ingin berada dalam pelukannya sementara hatiku berdarah-darah. "Menurut pendapatmu, apakah memungkinkan kita terus bersahabat, jika ternyata aku jatuh cinta padamu?"
Aku terbelalak. "Bagaimana mungkin?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kau yakin, Drei?"
"Aku menyadari, perasaanku kini telah berbeda padamu. Ada keinginan yang berbeda terhadapmu. Aku bukan hanya ingin bisa berdekatan denganmu. Tetapi aku ingin semua perhatianmu untukku. Aku inginkan seluruh waktu luangmu. Aku ingin kau menjadi milikku, Jihan. Perasaan yang kurasakan kini lebih egois dari biasanya."
Aku terdiam. Dia terdiam.
Dari luar kamar terdengar teriakan, gelak tawa, dan dengungan orang-orang ngobrol. Suara-suara khas yang selalu terdengar di asrama. Riuh. Tetapi suara-suara itu hanya lewat sambil lalu di gendang telingaku.
Entah berapa menit kami habiskan berdiam diri. Berdiri berhadap-hadapan tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun.
Aku tidak berani bersuara, karena aku takut jika aku merespon ucapannya, tiba-tiba saja ia berseru: "It's a Prank!"
"Drei, ini bulan apa?" suaraku jelas terdengar tercekat.
"Maret."
"Ah, beberapa hari lagi April ya?"
"Kau mengira jika yang kukatakan tadi adalah bagian dari April Fools?"
"Iya, kan?"
"Bukan."
"Serius?"
"Seserius aku mengerjakan proyek Hoover-ku."
Aku tahu bagaimana jungkir baliknya upaya yang Drei lakukan agar prototipe Hoover yang ia buat, diterima oleh NASA.
"Baiklah. Lalu jawaban apa yang kau harapkan?"
"Oh, Jihan... "Drei menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka ada kentang yang bisa diterima kuliah doktoral di universitas ini."
Aku tergelak. Kami biasa mengolok seorang mahasiswa bebal dengan julukan Potato Head
Aku menghembuskan napas. Lega karena perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.
"Ya, Drei. Aku pun mencintaimu. Cinta dan yang berbeda dari cinta terhadap seorang sahabat." Aku kaget sendiri dengan nada kalimat tegas yang kuucapkan. Ingin rasanya aku menoyor kepalaku sendiri. Tahan diri, dong Jihan!
Kali ini aku tidak menolak uluran tangan Drei. Kubiarkan tubuhku dipeluknya. Bertahun-tahun kami lewati waktu bersama, belum pernah Drei mendekapku seperti ini. Seolah ia ingin membenamkan tubuhku ke dalam dadanya.
"Boleh aku menciummu?" bisik Drei.
Tak perlu aku mengangguk. Aku mendongak dan memejamkan mata. Mencicipi madu yang ditawarkan melalui pagutan bibir Drei. Saat kubalas ciumannya, dengan segera aku melupakan tempatku berpijak. Seumur hidup aku belum pernah mabuk, mungkin seperti ini rasanya.
Logikaku terbang menjauh. Kepalaku terasa ringan, ketika perlahan darah yang mengalir di pembuluhku mulai menghangat. Aku menginginkan lebih dari sekedar ciuman Drei. Aku menginginkan Drei. Aku menghirup dalam-dalam aroma Bleu de Chanel dari leher dan dada lelaki itu. Aku nyaris terkapar dalam mabukku. Siap memberikan segalanya.
Aku merasa terhempas ketika Drei melepaskan pelukannya, lalu menjauh. Aku mendesah protes.
"Jangan cemberut begitu, Sayang. 5 detik lagi kita masih berciuman, mungkin aku akan mulai melolosi pakaianmu. Lalu mungkin kita akan bercinta. Tetapi aku tidak akan melakukannya padamu. Tidak."
"Kenapa? Apa karena aku tidak seseksi para mantan pacarmu sehingga kau tidak menghendakiku? Apakah aku..."
"Ssst... Tolonglah berbaik hati sedikit padaku, Jihan. Jangan membahas mereka. Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Kehidupan kita akan kita susun mulai malam ini dan seterusnya. Entah sampai kapan. Aku berniat menjadikanmu istriku. Kita akan membahasnya setelah aku pulang dari tugasku di Laut Hitam. Oke, Sayang?"
Aku mengangguk karena otak memberi perintah ke kepalaku untuk mengangguk.
Drei bangkit dari duduknya, mengecup pipiku, lalu melangkah keluar dari kamarku. Baru selangkah melewati ambang pintu, dia berbalik.
"Kau lapar?"
"Iya. Aku belum sempat makan, tadi."
"Yuk, ke The Oasis."
"Di Lake Travis? Jauh, Drei. Kan katamu kau harus bersiap-siap akan berangkat besok subuh."
"Aku mengambil resiko begadang malam ini. Ayolah..."
"Aku ganti baju dulu."
"Oke. Kutunggu di mobil."
—-
The Oasis adalah restoran masakan Texas Mexico yang berada di perbukitan, menghadap Danau Travis. Di restoran ini kita bisa mendapatkan pemandangan terbaik saat matahari terbenam.
Kami memilih duduk di balkon. Walau pemandangan yang kami dapatkan malam itu hanya gelapnya danau Travis, dan langit Austin di ujung musim semi.
Kusesap Apple Sunset, sari buah apel bercampur strawberry. Rasa manis asamnya tiba-tiba membuat otakku terang. Tanpa bisa kucegah, aku tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa?" tanya Drei menatapku dengan mimik waswas.
"Sialan kau, Drei!" Kupukul lengan lelaki itu keras-keras
"Kenapa?" dia penasaran.
"Di kamarku tadi, aku nyaris hilang kendali. Ah, kau!" Sungguh, aku tertawa begini untuk menutupi rasa maluku.
"Nyaris?" Drei mencibir. "Untung itu aku, Jihan. Kalau lelaki lain..."
"Yah... Kau baik padaku, Drei." Aku menepuk-nepuk tangannya. "Kau memang lelaki yang baik."
"Itulah kalau terlalu lama menjomblo, Jihan. Kau kurang belaian."
"Berengsek!" Aku menginjak kakinya di bawah meja.
"Aduh! Baru satu jam menjadi pacarku, kau telah 2 kali melakukan kekerasan. Dan entah sudah berapa kali kau memakiku. Ckckck... pacar model apa begini ini? Ngga ada sopan-sopannya."
Aku tidak tersinggung oleh kalimat Drei. Aku sudah cukup lama mengenal manusia ini, sehingga cukup tebal kuping terhadap segala kritiknya.
"Kau tahu kan Drei, kalau selain padamu aku itu perempuan yang lembut, ramah, baik hati, tidak kasar..."
"Rajin menabung, gemar menolong, dan selalu ingat janji pramuka," sambungnya.
"Iya. Aku begitu."
Kami tertawa berderai. Entah mengapa, kurasakan malam ini adalah malam terindah semenjak aku menginjakan kaki di bumi para cowboy ini.
Langit di atas danau yang begitu pekat, justru menampilkan keindahan gemerlap bintang di malam itu.
"Drei, memandang langit malam ini, membuat aku teringat salah satu episode kehidupanku."
Drei menatapku lekat. Ekspresinya menunjukkan ia siap mendengarkan.
"Aku pernah berada di suatu masa, dimana setiap malam aku begitu berharap bintang dan bulan datang bersinar terang seperti malam ini."
"Kenapa begitu?"
"Saat itu keluargaku tinggal di pedalaman Kalimantan. Tidak ada listrik. Kami tidak mungkin menyalakan api dengan obor di dalam rumah, karena seluruh bagian rumah kecuali atap, terbuat dari kayu, sehingga kami takut jika jilatan api obor yang melenggak-lenggok sesuka arah angin, malah melalap tiang-tiang rumah. Namun kami juga tidak bisa memakai lampu templok. Saat itu Ibu merasa minyak tanah untuk bahan bakar lampu, terlalu mahal buat kami."
"Oh."
Hanya itu tanggapannya. Aku tidak tahu apakah ia bisa membayangkan kondisi yang aku ceritakan. Aku paham jika ia kesulitan memahami hal tersebut, karena sepanjang hidupnya ia berkelimpahan listrik sebagai sumber energi penerangan.
"Tetapi ada juga episode di hidupku, dimana aku bertahun-tahun abai pada cahaya dari langit malam. Kalaupun aku mengagumi purnama, bukan karena pendaran cahaya darinya. Tetapi karena aku merasa 'harus' kagum saja. Seolah, sepantasnyalah aku harus mengagumi ciptaan Illahi itu. Padahal cahaya rembulan yang kukenal kini, telah terkalahkan oleh sinar ribuan lampu warna-warni metropolitan tempatku tinggal," lanjutku.
"Kalau begitu, episode hidupmu lengkap. Dari hidup tanpa listrik, menjadi, yah, kau nyaris tergantung pada listrik kan sekarang."
Ia menatapku sekilas dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Karena wajahnya tertutup oleh bayang-bayang fasad bangunan restoran. Tetapi aku tahu dari nada suaranya, ia sedang tersenyum.
Aku menggeleng.
"Aku memang pernah mendiami rumah di tengah hutan. Ah, hanya hitungan bulan, sebenarnya. Tetapi episode itu membuatku agar selalu ingat untuk tetap menjejak tanah, ketika mataku menatap terkagum-kagum pada pendar cahaya di New York, London, Tokyo, atau kota kosmopolitan lainnya. Agar aku selalu ingat, bahwa aku dari gelap, untuk nanti kembali menuju gelap. Saat aku mencapai titik itulah, barulah episode hidupku paripurna."
"Hm, sebaiknya aku mulai makan dulu. Kalau kau sudah mulai berfilosofi, aku akan membutuhkan energi banyak untuk memahami kalimat-kalimatmu," Drei mulai menyuap Grande Oasisnya. Campuran Angus Ribeye panggang dan udang yang diolah dengan berbagai bumbu yang tak kukenal namanya.
"Koq kau bisa nyasar mempelajari Aerospace Engineering, sih, Drei? Teknik Kimia belum cukup membuatmu pusing, ya?" Pertanyaan yang sebenarnya bertujuan untuk mengalihkan otakku agar tidak mengirimkan sinyal rasa mual setiap kali mencium aroma dari piring di hadapanku. Aku memesan Tilapia del Mar. Nasi campur ikan, udang, kerang dan sayuran. Aku harus menambahkan banyak saos sambal agar rasa amisnya tertutupi. Diam-diam aku menyesal telah memesan makanan ini, hanya gara-gara ada tulisan 'rice' sebagai keterangannya.
"Ada satu episode hidupku dimana belajar dan belajar adalah cara pelarianku," jawab Drei
"Kau sebegitu patah hatinya ya, saat itu?"
"Bisa dikatakan begitu. Tapi tolong jangan lagi dibahas, ya. Aku menikmati hidupku yang sekarang."
"Baiklah," aku mengangguk paham. Aku pun punya beberapa hal yang tidak pernah kulupakan, tetapi tidak suka jika harus mengenangnya kembali.
Kehabisan bahan obrolan aku menatap langit kembali. Ada satu bagian langit berwarna lebih merah.
"Drei, kau lihat, bukankah di langit sebelah sana sedang turun hujan?"
"Kemungkinan begitu."
"Kalau di sebelah sana sedang hujan, sedangkan di bagian ini penuh cahaya bulan dan gemintang, mestinya akan muncul pelangi."
"Ji..haaan... Aku tidak perlu kan memberimu kuliah tambahan tentang spektrum warna?" Drei menatapku dengan mimik seorang dosen terhadap mahasiswa yang sok tahu.
"Drei, pernahkah kau melihat-lihat di toko online yang menjual pakaian perempuan? Di situ sering ada palet warna untuk menunjukkan perbedaan gradasi warna baju yang mereka jual. Kau tahu ngga, untuk merah saja, ada 24 jenis warna?"
Drei menatapku dengan binar seolah dia akhirnya tahu, ternyata aku adalah perempuan yang senang berbelanja.
"Nah, aku tahu bahwa cahaya putih yang kita lihat saat hari terang, sesungguhnya terdiri dari warna merah, jingga, kuning, dan seterusnya itu, yang membentuk pelangi. Lalu warna hitam yang kita lihat ketika gelap, bisa saja kan sesungguhnya terdiri dari spektrum warna juga? Abu-abu seulas, abu-abu muda, abu-abu tua, hitam seulas, hitam muda, hitam tua," kataku berargumen.
Drei terbahak. "Hitam muda kalau tidak salah kita menyebutnya abu-abu, Sayang."
"Ah, kau berarti belum pernah melihat palet warna di toko online, Drei. Tiap tingkatan warna, ada namanya sendiri-sendiri."
"Baiklah. Seorang peneliti memang harus berpikir out of the box, Honey. Kau akan menyebut apa pelangimu itu?"
Aku mengangkat bahu, "Pelangi Hitam, mungkin."
Drei mengangkat alis, lalu mengangguk takzim.
"Pelangi Hitam. Hm, kau harus mulai memikirkan untuk mengurus patennya, Jihan."
 
;