Monday, September 2, 2019

Luka Hati Andhita


Dia tersenyum puas menutup materi presentasinya. Semua masalah di lapangan dan pertanyaan yang diajukan oleh kliennya terjawab dengan baik. Satu persatu peserta rapat keluar ruangan untuk melanjutkan aktifitas mereka di lokasi kerja masing-masing. Hanya tersisa seorang supervisor Process Engineering dan seorang Project Manager yang masih mengajak berdiskusi dengan lebih mendetil. Ia dan rekannya melayani dengan tangkas dan cermat. Hingga akhirnya dengan wajah yang terlihat puas, kedua ujung tombak kliennya itu pamit.

"Kami tinggal, enggka apa-apa ya, Pak, Bu? Masih ada rapat internal di lapangan yang harus kami hadiri 5 menit lagi. Nanti ruangan ini biar dirapikan oleh OB."

"Silakan, Pak. Kami tahu pintu keluarnya, koq," ia menanggapi dengan bercanda.

"Ya mosok ngga tahu, kita sudah bekerja sama lebih dari 7 tahun kan? Bapak-Ibu sudah puluhan kali kami undang presentasi ke sini," imbuh Project Manager sambil menyalami mereka berdua.
Mereka menanggapi dengan tertawa, lalu saling mengucapkan salam perpisahan dengan akrab.

Kini tinggal ia dan Rizal, rekannya satu perusahaan, di dalam ruang rapat untuk merapikan peralatan presentasi mereka.

"Andhita, apa kabar anak-anak?" ia yang tengah menggulung kabel laptop, terkejut mendengar pertanyaan mendadak itu.

"Hhm, baik," ia melanjutkan kegiatannya merapikan dokumen-dokumen. "Kakak bulan lalu batuk selama nyaris sebulan. Dedek ketularan juga. Tapi enggka separah Kakak."

"Koq, aku ngga dikabari?" Ada nada panik dalam suara Rizal. "Sekarang bagaimana keadaannya? Sudah dibawa ke dokter?"

Setelah menutup tasnya dengan rapi, Andhita menatap lelaki itu,
"Kau tak perlu khawatir. Aku sudah membawa Kakak ke dokter 3 kali. Dia sudah dirontgen, sudah cek darah, hasilnya semua masih dalam batas normal. Kecuali memang ada bakteri pada sistem pernapasan atasnya. Dedek hanya kena flu ringan. Jadi tak ada yang serius."

"Aku ingin tahu segala hal yang terjadi pada anak-anak. Aku tidak suka kau abaikan seperti ini, Dhit."

"Kau kan bisa menelpon atau menemui anak-anak itu kapanpun kau mau," jawabnya. "Aku tidak pernah melarang kan?"

Mereka sama-sama menarik napas dalam, lalu mengubah ekspresi tegang di wajah mereka. Dengan keramahan sepantasnya, mereka menyerahkan kartu tamu dan meregistrasi jam keluar di resepsionis.

Rizal menelpon sopir yang tengah menanti, agar menjemput di pintu keluar Lobi. Tidak sampai 5 menit, mobil perusahaan datang menjemput.

"Kau mau makan siang denganku, Andhita?" Rizal yang duduk di samping sopir menoleh ke belakang. Ia melihat mula-mula lelaki itu tersenyum. Tetapi lalu sinar matanya meredup.

Rizal pasti bisa membaca jalan pikirannya.

Dulu, setiap mereka selesai melakukan presentasi di klien pertanyaan Rizal adalah,
"Makan siang di mana kita?" dengan lengan kiri melingkar di bahunya. Lalu sebuah kecupan ringan akan mendarat di keningnya. "Kau hebat. Kau selalu bisa melewati saat-saat begini dengan mulus. Aku bangga padamu."

Pujian yang sudah ratusan kali ia terima dari orang yang sama. Tetapi selalu saja setiap kali mendengarnya, membuat perasaannya melambung.

Kali ini pertanyaan itu menikam jantungnya. Ia menggeleng.
"Aku lelah. Semalaman aku begadang di kereta, tidak bisa tidur karena kedinginan. Jadi aku ingin makan siang di hotel saja, setelah itu tidur."

"Kau kan memang jarang bisa tidur di kereta." Kalimat lelaki itu yang malah memedihkan hatinya.

Ia memang jarang bisa tertidur saat di kereta. Tetapi biasanya ada lengan yang memeluknya ketika ia kedinginan. Dan ada dada tempatnya menyadarkan kepala.

"Jadi kita langsung ke hotel, Pak?" tanya Pak Sopir.

"Iya, langsung ke hotel saja. Pak Saman juga bisa beristirahat dulu. Kita pulang ke Jakarta besok setelah solat subuh saja, Pak."

"Baik, Pak."

"Tapi jangan lupa, nanti setelah solat Maghrib antar aku ke Kroya, loh, Pak Saman," kata Andhita.
Pak Saman mengangguk.

"Setelah makan malam saja. Kan keretamu jam 10?" Rizal menimpali. "Jadi kamu bisa makan malam dengan kami dulu. Marwah tadi pagi bilang kangen ingin bertemu kamu."

Saat mengatakan itu, wajah Rizal sedang menatap ke depan. Andai ia memandangnya, ia akan melihat airmatanya tergenang.

Pak Saman menurunkan mereka di lobi hotel. Andhita berjalan cepat mendahului langkah Rizal menuju lift.

Pintu lift terbuka, seorang perempuan dengan tiga orang anaknya berada di dalam lift bersiap melangkah keluar. Ketika melihatnya, perempuan itu terkejut lalu menyapanya dengan takzim.
"Kak Dhita."

Dengan tersenyum, Andhita menerima uluran tangan Marwah dan membiarkan perempuan itu mencium tangannya.

"Ayo, cium tangan Uwak," perintah Marwah pada ketiga anaknya.

Anak-anak itu mencium tangannya dengan secepat kilat, setelahnya berlarian menghambur ke arah Rizal.

"Abah... Abah...ayo kita berenang," teriak manusia-manusia kecil itu, mengajak Rizal..

Marwah terlihat kikuk berdiam diri di muka pintu lift. Andhita mengabaikannya. Ia terus melangkah ke dalam lift, menekan tombol angka 5, lalu menutup pintu lift.

Di kamar hotel yang di sewanya di lantai 5, Andhita duduk terpaku. Ada rasa sesak yang setiap kali menggulung hatinya bila ia mengingat kejadian dulu itu.
***

Andhita baru saja bangun untuk solat subuh ketika mendengar telepon rumah berbunyi. Ternyata ibu mertuanya yang menelpon dengan suara terisak-isak.
"Dhita, dimana Rizal? Suruh Rizal secepatnya ke rumah Ibu ya. Sekarang! Penting sekali!"

"Rizal masih tidur, Bu. Sebentar saya bangunkan kalau Ibu perlu bicara dengannya."

"Enggak.. enggak... suruh saja Rizal datang ke rumah Ibu, ya. Secepatnya!"
Perempuan tua itu kembali menangis. Dhita ingin mengucapkan kata penghiburan, namun sambungan telepon keburu diputus.

Dibangunkannya Rizal. 

"Pa, Ibu menyuruhmu pulang secepatnya. Katanya ada yang sangat penting. Ibu menangis saat menelpon tadi."

Rizal buru-buru bangun, mandi, solat lalu mengajak Dhita ke rumah orang tuanya,
"Ikutlah. Temani. Aku engga suka menyetir saat gugup begini."
Mereka pun menuju ke rumah orang tua Rizal yang berjarak 25 km. Di kota yang berbeda dengan kota tempat tinggal mereka.

Saat tiba di sana, rumah mertuanya dalam keadaan riuh. Kakak dan adik Rizal lainnya, beserta keluarga, telah berkumpul. Kesedihan terpampang di wajah mereka.
Lalu, berita itu didengarnya melalui bisik-bisik dari iparnya yang lain. 

"Marwah, mencoba bunuh diri subuh tadi. Dia sudah menyediakan tiga gelas racun insektisida buat dia dan anak-anaknya. Dia menyuruh anaknya minum dulu racun itu. Untung si Zulham teriak-teriak ngga mau karena bau menyengat. Anak itu dipaksa Marwah, tapi dia lari ke teras. Kebetulan ada tetangga yang lewat mau ke masjid untuk solat subuh. Jadi bisa dicegah. Dan mereka dibawa ke sini."

"Sekarang Marwah dan anak-anaknya kemana?"

"Marwah sama Ibu di kamar. Anak-anak, sih, sudah main lagi dengan sepupunya yang lain."

Dito, adik Rizal, meninggal 4 bulan lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ia meninggalkan dua anak balita dan seorang bayi dalam kandungan Marwah, istrinya.

***
Berminggu-minggu Andhita merasakan Rizal gelisah. Kadang dalam tidurnya, lelaki itu mengigau bahkan menangis. Memang belakangan, ia sering mendapati wajah Rizal begitu muram.

Awalnya Andhita mengira sikap Rizal yang resah itu, karena ada masalah di perusahaan. Tetapi Andhitax tahu, justru kondisi perusahaan sedang baik-baik saja. Keuangan mereka saat itu cukup kuat. Satu-dua komplain kecil memang ada. Tetapi tidak sampai membuat perusahaan goyah. Meski begitu, diam-diam ia berusaha menyelidiki, apakah ada masalah di departemen yang ditangani oleh Rizal. Karena tak jarang jika ada masalah di perusahaan yang menyangkut bagiannya, Rizal jarang menceritakannya pada Dhita.

"Kau sudah dipusingkan oleh masalah di Departemen Marketing dan Engineering. Jadi tidak perlu kutambahkan masalah dari bagian Produksi kan?" Jawabnya jika istri sekaligus partner bisnisnya itu protes.

Mereka berdua memang mengelola perusahaan yang mereka dirikan bersama. Membagi tugas sesuai latar belakang masing-masing. Sekaligus saling support. Dari awal saat perusahaan tersebut mereka dirikan dan kembangkan dengan tertatih-tatih. Hingga kini bisnis itu memiliki ratusan pegawai di berbagai cabang.

Suatu malam, ketika mereka sudah menidurkan kedua anak mereka, Rizal mendekati Andhita yang tengah merapikan tempat tidur.
"Aku ingin berbicara, Ma."

Dhita merasa waswas. Belum pernah sebelumnya Rizal menggunakan kalimat itu. Rizal tidak pernah mengkhawatirkan tentang apapun yang ingin dikatakan padanya. Biasanya ia langsung saja mengutarakan apa yang sedang dipikirkan.

"Ini tentang Marwah." Rizal seperti ingin menggigit lidahnya setelah mengucapkan kalimat itu.

"Kenapa? Apa ia sudah melahirkan?" Ditha bisa memahami jika Rizal ingin membahas tentang Marwah. Mengingat adik ipar mereka itu menderita depresi, padahal ia tengah hamil tua.

"Belum. Tapi tampaknya dalam dua tiga minggu ini dia akan melahirkan."

"Lalu?"

"Setiap saat ia selalu mengatakan ingin mati."

"Ibu juga mengatakan seperti itu, beberapa hari lalu saat beliau menelponku."

Rizal mengangguk. Lalu wajahnya mengelam.

"Ma, Ibu memintaku menikahi Marwah."

Andai saat itu ada petir menggelegar di dekat telinganya, Ditha tidak seterkejut saat itu.

"Mengapa? Apakah harus menikahinya? Bukankah kita sudah membiayai semua biaya hidup Marwah dan anak-anaknya sejak meninggalnya Dito?"

"Marwah butuh pengayom, Ma. Anak-anaknya juga butuh figur ayah. Lebih dari hanya kebutuhan makanan, minuman dan biaya sekolah."

Ditha menggeleng kuat-kuat. Dia sempat menyangka dirinya akan jatuh pingsan. Tetapi itu tidak terjadi. Dia tetap berdiri tegak di sisi tempat tidur.

"Anak-anakmu juga butuh figur ayah," bisiknya dengan suara getas.

Ah, ia bahkan tidak bisa menangis.

"Aku belum meninggal. Mereka masih memilikiku. Aku tidak akan kemana-mana kalau kau bisa menerima Marwah."

"Maksudmu?" nada suara Ditha meninggi.

Rizal terkejut dibentak begitu oleh istrinya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam rumah tangga mereka.

Ah, sebetulnya Ditha tidak perlu bertanya. Karena ia paham maksud Rizal.

"Kau tahu bagaimana pendirianku tentang hal ini, Pa," kata Ditha dengan lemah.

Ia merasa tercabik. Menyadari bahwa suaminya sudah membagi dirinya. Meski itu masih di dalam pikiran lelaki itu.
Dia tidak suka!
Dia marah!
Tetapi ia sendiri heran, mengapa kemarahannya terasa datar. Kemudian ia memahami rasa di dalam dirinya sendiri. Ternyata ia lebih dari sekedar marah, sehingga tidak sanggup berteriak, mengumpat, apalagi menangis.

Baginya, ketika lelaki itu mempertimbangkan untuk menikah lagi, dia sudah berkhianat. Karena berarti perasaan lelaki itu tidak lagi utuh untuknya.

"Tidak bisakah kau mengubah pendirianmu itu, Ma? Ini demi nyawa Marwah. Dia bukan orang lain. Dia adik iparku. Ibu keponakanku. Mereka dalam keadaan lemah."

"Aku tidak bisa membayangkannya kita berada dalam kondisi begitu. Aku tidak bisa membayangkan malam ini kau tidur denganku, sementara di malam lain kau tidur dengannya." ia menggeleng dengan jijik. "Sekarang saja aku sudah sangat terluka ketika kau berpikir untuk menikahi Marwah."

"Tetapi aku terpaksa, Ma. Aku melihat kondisi Marwah kemarin, dia begitu mengenaskan. Tampak putus asa dan begitu rapuh."

"Lalu karena itu kau mengabaikan aku?"

Tubuh Andhita gemetar. Ia memeluk guling untuk menguatkan. Rizal mencoba merengkuh, tetapi ditepisnya.

Lelaki ini telah berselingkuh dalam pikirannya, begitu yang dirasakan Ditha dengan pedih.

"Aku tidak bisa menerima, Pa. Apapun alasanmu. Tetapi aku juga sudah tidak bisa menerimamu lagi, andai kau batalkan niatmu itu. Karena ketika kau mengucapkan kalimat pertamamu tentang hal ini, aku sudah begitu terluka. Aku sudah menganggapmu tidak setia padaku."

"Ma..."

"Kalau kau memang mempertimbangkan untuk menikahi Marwah, nikahilah ia. Lakukanlah."

"Lalu, anak-anak bagaimana?"

"Aku tidak tahu bagaimana dengan anak-anak. Mereka punya jalan pikiran sendiri. Aku tidak bisa menjamin mereka tidak akan marah."

"Jangan pisahkan aku dengan anak-anak, Ma. Please.."

"Sampai saat kita mengantar mereka tidur tadi, di mata anak-anak itu, kau pahlawan hidup mereka, Pa. Bagaimana mungkin aku, ibu mereka, berpikiran kejam untuk memisahkan mereka dari orang yang begitu berarti bagi dalam hidup mereka!"

Muka Rizal memucat. Ditha tahu, kata-kata itu sekaligus tamparan bagi Rizal

"Lalu bagaimana dengan perusahaan?"

Tiba-tiba emosi Andhita meluap. 'Setelah menyakiti hatinya dengan begitu pedih, lelaki ini mau berbicara tentang harta?' pikirnya.

"Ada apa dengan perusahaan? Kalau kita sudah bukan suami-istri, aku akan mempertahankan bagian sahamku. Terserah denganmu. Kalau kau berniat menjual sahammu, aku akan membelinya. Jangan harap kau bisa mendepakku dari situ!"

Ia bekerja keras di perusahaan, bukan karena ia butuh uang dalam jumlah banyak untuk gaya hidup. Bukan. Semua yang dia lakukan adalah untuk bekal bagi anak-anaknya. Ia pernah menjadi yatim lalu menderita dalam kemiskinan. Ia tidak ingin itu terjadi pada mereka. Paling tidak, ia ingin agar anak-anaknya tidak pernah merasakan kelaparan.

"Tidak... tidak..., bukan itu maksudku. Aku justru bermaksud bertanya, apakah kau ingin mempertahankan perusahaan atau kita menutupnya?"

"Menutupnya?" Ditha menjadi hampir kalap. "Kau ikut menjadi gila seperti si Marwah, ya! Aku berdarah-darah membangun perusahaan itu. Lalu kau seenaknya mau menutupnya?"

"Jangan bicara seperti itu, Ma! Marwah tidak gila!"

"Oh, bagus sekali, kau membelanya!"

Andhita tahu, kondisi Marwah tidak bisa dikategorikan gila. Tetapi dia begitu marah, sedih, terluka.

Dia hancur.

"Dengar, Pa! Sahamku tidak akan berubah. Masih mayoritas. Tetapi aku akan menuntut janjimu dulu untuk menyerahkan separuh sahammu buatku dan anak-anak. Aku mau bagian itu dipisahkan secepatnya. Karena jika kau jadi menikahi Marwah, otomatis anak-anaknya itu akan kau anggap sebagai anakmu. Aku tidak sudi mereka mengambil bagian untuk anak darah dagingku," kali ini Andhita benar-benar mengamuk. "Lalu, seluruh rumah, apartemen, mobil, beberapa tanah yang dibeli atas namaku, akan kuambil alih. Termasuk semua uang yang berada di dalam rekeningku!"

Setelah mengatakan kalimat itu semua, Dhita justru merasa pedih. Tidak pernah sebelumnya mereka benar-benar membahas tentang harta. Karena setiap sen yang mereka punyai, mereka upayakan bersama. Sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah berpikir: ini punyaku, itu punyamu. Melainkan semua ini punya kita bersama.

Tetapi dengan masuknya orang lain -walau itu ipar dan keponakan sekalipun- semuanya menjadi berbeda bagi Dhita.

"Ma, aku tidak pernah menyangka kau menjadi demikian serakah." Muka Rizal menjadi merah padam. Mereka sama-sama tahu, dengan demikian ia tidak memiliki apa-apa lagi.

"Aku tidak pernah menyangka kau berselingkuh dariku!" Teriak Dhita geram.

"Aku tidak pernah selingkuh!"

"Ketika kau berpikir untuk menikahi perempuan itu, pikiranmu sudah berselingkuh. Selain itu, kau mau menuntut apa? Apa yang kau miliki ketika menikahiku? Bahkan tempat tidurpun saat itu kita tidak punya. Aku ingat, piring dan sendok pun, aku yang beli dari gajiku beberapa hari sebelum kita menikah. Lalu sekarang kau katakan aku serakah? Seperti yang pernah kita katakan dulu, semua ini untuk anak-anak. Anak-anak kita! Bukan anak perempuan lain!"

"Anak-anak itu adalah anak yatim, Dhita. Sekaligus anak-anak adikku. Jadi mereka berhak aku santuni!" Rizal memelototi Dhita.

Plak!

Untuk pertama kalinya sepanjang dua puluh tahun lebih mereka bersama, terjadi kekerasan fisik. Tetapi justru Dhita yang melakukannya.

Rizal kaget menerima tamparan di pipinya. Wajahnya memerah karena marah. Dhita lebih kaget. Namun ia sama sekali tidak menyesal atau takut menghadapi kemarahan Rizal. Dengan beraninya ia menatap lelaki itu.

Rupanya aksi tamparan itu sama-sama membuka bendungan emosi mereka. Ditha menangis sekeras-kerasnya.

Sementara Rizal terduduk di atas kasur. Matanya pun membasah. Ia ingin memeluk Dhita. Perempuan yang telah mengisi hatinya nyaris seperempat abad. Tetapi lelaki itu tidak berani menggerakkan tangannya. Karena ia merasa sangat bersalah telah melukai perempuan yang dicintainya.

Ditha pun sesungguhnya membutuhkan pelukan Rizal. Lelaki yang menemani hari-harinya sejak mereka masih sangat belia. Lelaki yang menjadi tempat ia bersandar dan bermanja selama berbelas tahun. Namun, luka hatinya begitu dalam. Ia tidak sudi disentuh, karena takut lebih terluka jika akhir ia ditinggalkan.

Sekarang Dhita paham, kenapa patah hati membuat orang ingin mati.

Saat itu, Ditha merasa lebih baik ia menghilang dari permukaan bumi. Jiwanya begitu getir.

Malam itu, Dhita tidak mengizin Rizal tidur di kamar mereka. Lelaki itu tidur di kamar tamu. Tetapi ketika shalat subuh, Dhita membiarkan Rizal shalat di dalam kamar. Dan seperti biasa, ketika kedua anak perempuan mereka masuk ke kamar orang tuanya begitu mereka terbangun, mereka mendapati Papa dan Mamanya sedang bercakap-cakap seperti biasanya di pagi hari lainnya.

Begitupun saat sarapan. Juga saat di kantor. Dan hari-hari setelahnya. Tidak ada pertengkaran ataupun keributan yang tampak oleh orang lain selain mereka berdua yang tahu.

Hanya diam-diam, Dhita menghubungi pengacara mereka untuk membahas tentang pengalihan hak seluruh harta dan saham.

"Aku membenci pengkhianat, Rizal. Dan aku menganggap kau, Marwah, keponakanmu, ibumu dan seluruh keluarga besarmu telah mengkhianatiku. Mengkhianati kami. Kalian semua tega menghancurkan aku dan anak-anakku."

"Tidak, Dhita! Yang kami lakukan..."

"Diam, Rizal! Kau tahu, jika kita ribut, perceraian kita akan berdampak bukan hanya pada kau dan aku. Tetapi dampak terbesar adalah pada kejiwaan anak-anak. Walau keputusan keluarga besarmu , yang kau setujui itu, melukai aku dan anak-anak jika nanti mereka tahu nanti. Tetapi aku tidak ingin masalah ini membuat anak-anak kita terpuruk."

"Aku tidak akan menceraikanmu!" sentak Rizal.

"Tetapi aku sudah tidak sudi melanjutkan pernikahan ini! " Dhita berkeras. "Kau sudah mengenalku berapa lama, sih? Tidak tahukah kau akan watak dan pendirianku?"

Rizal terdiam.

"Dengarkan aku! Kalau sampai anak-anak menderita sedih berkepanjangan gara-gara kelakuan egois keluargamu ini, aku bisa menghancurkanmu sekalian." Ditha memelototi Rizal. "Kau tahu, aku bisa melakukan itu, Rizal! Kau sudah berkali-kali melihat apa yang bisa kulakukan pada para musuh kita sebelumnya, kan? Sayangnya, tidak ada untungnya buatku jika kulakukan itu padamu, sekarang. Bagaimanapun, aku ingin kau tetap menjadi lelaki yang dipuja sebagai ayah terbaik oleh anak-anak kita."

"Apa yang akan kau lakukan, Dhita?"

"Aku telah mengalihkan semua harta kita kepada anak-anak. Saat ini ada sebuah dewan yang kubentuk sebagai pengampu harta tersebut hingga anak-anak berusia 18 tahun nanti. Kau harus membubuhkan tanda tangan untuk menyetujuinya. Atau aku akan mempersulit rencanamu menikahi Marwah. Bahkan jika sifat jahatku timbul, yah siapa tahu setan mempengaruhiku, aku bisa membuat perempuan itu lebih menderita. Dan ini berarti akan membuat ibumu lebih memderita!"

"Dhita! Kau..."

"Apa?" Dhita menggertak, "Aku jahat? Bukankah kalian yang lebih jahat dengan merusak kebahagiaanku dan anak-anak darah dagingmu? Kau sendiri yang berkali-kali melamarku dulu. Berusaha meyakinkanku bahwa kau layak menjadi suamiku, walau saat itu kondisimu masih serba kekurangan. Dan apalagi anak-anak tak berdosa itu yang terbentuk dari sel spermamu. Tetapi kini ternyata konspirasi keluargamu menghancurkan kebahagiaan kami! Aku tidak bisa apa-apa karena kau dengan suka rela melibatkan diri di dalamnya. Terpaksa aku melakukan apa yang harus kulakukan. Yaitu melindungi apa yang sekian belas tahun kubangun dengan berdarah-darah, agar tidak dinikmati oleh makhluk alien!"

Rizal terbelalak. Dia tidak menyangka sama sekali, perempuan yang begitu dicintainya ini, bisa menjadi begitu jahat. Atau sebenarnya dia lah yang jahat? Bisa jadi perempuan ini menjadi seperti ini karena ulahnya juga.

Rizalpun akhirnya mengangguk, "Lakukanlah apa yang kau pikir terbaik buat anak-anak. Aku akan mengikutimu saja."

"Bagus! Ketika kau tanda tangani dokumen yang akan dibuat oleh Pak Dominggus, pengacara kita itu, maka seperti yang kukatakan, semua rumah, apartemen, mobil, tanah dan aset kita lainnya, termasuk saham, akan menjadi milik anak-anak. Kau juga tidak lagi berhak atas seluruh uang di rekening-rekening atas namaku. Kau akan menikahi Marwah seperti saat kau menikahi aku dulu. Tanpa punya harta apa-apa. Ah, setidaknya dia lebih beruntung, kau kini punya skill yang kita asah bersama-sama. Kau hanya berhak atas gajimu. Selain itu kau harus menafkahi anak-anak yang besarnya akan kita tetapkan nanti. Kau setuju?"

"Aku..."

"Kau harus setuju! Seperti aku tidak punya pilihan lain terhadap keputusanmu untuk menikahi Marwah selain menyetujui."

"Aku belum memutuskan untuk menikahinya, Dhita. Bisa saja berubah, jika anak-anak tidak setuju..."Rizal berkata dengan suara yang bahkan bagi telinga Ditha terdengar sedih. Uft, tentu sepantasnya Rizal merasa sedih. Ia harus melepaskan kekasih hatinya demi memenuhi permintaan ibunya.

"Oh." Dhita mencibir sinis. "Terserah padamu. Tetapi aku sudah bulat, kita harus bercerai. Ketika kau mengatakan niatmu malam itu, kau telah membakar jembatan penghubung hatimu dan hatiku, Rizal."

"Dhita, aku tetap mencintaimu. Apa yang sudah kita lewati sekian belas tahun, tidak bisa begitu saja dinafikkan."

"Kau pikir aku tidak mencintaimu? Bahkan saking mencintaimu, aku begitu cemburu jika ada perempuan lain merasuk ke dalam pikiranmu. Dengan alasan apapun." Ditha mulai menangis saat mengatakan kalimat itu. Tetapi buru-buru dihapus airmatanya. "Aku begitu mencintaimu, Rizal, sehingga dari ujung kepala hingga ujung kakiku, bahkan isi pikiranku hanya tentangmu dan anak-anak kita. Akupun berharap kau begitu. Tetapi ketika kau sudah memikirkan untuk memasukkan perempuan lain dalam kehidupan kita, maka semua kisah kita, telah berakhir bagiku."
***
Hari-hari selanjutnya, pembicaraan dan ketegangan tentang rencana Rizal menikahi Marwah, hanya terjadi hanya saat mereka berada di ruang direksi di kantor, yang merupakan ruang kerja mereka berdua. Masalah perceraian dan pembagian harta yang selalu berujung pada pertengkaran, tidak pernah lagi dibahas di rumah. Meski begitu, Kakak dan Dedek beberapa kali bertanya, kenapa sekarang Papa tidur di kamar tamu. Yang selalu dijawab, Papa ketiduran setelah bekerja hingga jauh malam di ruangan itu.

Lalu, di Hari Minggu siang, keluarga Rizal -ibu, adik serta kakak-kakaknya- datang berkunjung ke rumah mereka. Mereka datang dengan membawa berbagai buah tangan. Dari mulai puding, cake, manisan kolang-kaling, hingga cemilan kesukaan Kakak dan Dedek, yang di mata Dhita tampak seperti sogokan atas niat buruk mereka terhadapnya.

Ditha menerima kedatangan mereka layaknya silaturahmi keluarga besar. Mereka mengobrol dan tertawa gembira saling berbagi cerita.

Hingga kemudian, Ibu membuka percakapan,
"Dhita, begini," wanita berusia tujuh puluh tahun lebih itu menarik napas dalam, sebelum melanjutkan kalimatnya. Tetapi di dalam dada Dhita, ia mulai merasakan debaran yang membuatnya sulit menarik napas. "Kau kan tahu Marwah mengalami depresi yang cukup berat sejak meninggalnya Dito. Kau juga tahu, kita juga sudah membawanya berobat, ke Psikiater, Ke 'Orang Pinter'. Ibu berterima kasih karena Ditha menaruh perhatian pada Marwah dan sering membantu biaya hidup maupun berobatnya."

Ditha tersenyum sinis. 'Oh, Ibu, bahkan kebaikan hatiku itu bagi menantu dan cucu dari Dito anak kesayanganmu, rupanya belum cukup. Ibu meminta lebih banyak lagi dariku,' kata suara hati Dhita.

"Tetapi tampaknya yang dibutuhkan Marwah lebih dari sekadar obat..." lanjut kalimat Ibu.

"Sebentar dulu, Bu. Tahan dulu kalimatnya sampai di situ. Saya akan memanggil Kakak dan Dedek. Mereka perlu tahu apa yang akan ibu sampaikan. Karena ini akan menyangkut nasib mereka."

"Ibu kira, anak-anak tidak perlu diberi tahu sekarang..."

"Oh, sebaliknya. Anak-anak perlu tahu, Bu, sejak awal. Dhita dan Rizal selalu terbuka pada mereka." Lalu Ditha bangkit dari duduknya. "Sebentar..."

Ia pun berlari kecil ke lantai dua, memanggil anak-anaknya agar segera turun untuk mendengarkan nenek mereka berbicara. Dia juga mengambil beberapa dokumen di kamarnya.

Ditha duduk diantara anak-anaknya di atas sehelai karpet, di hadapan Ibu. Bersiap mendengarkan palu keputusan yang akan diketukkan oleh mertuanya. Di pangkuannya tersusun rapi setumpuk dokumen.

"Kakak dan Dedek, Nenek akan menyampaikan sesuatu hal pada kita. Mama meminta kalian mendengarkan dengan baik-baik. Tolong jangan membantah, bertanya atau mengeluarkan pendapat apa-apa. Mama meminta kalian hadir di sini hanya untuk mendengar. Jika ada yang ingin kalian ungkapkan, sampaikan nanti pada Papa dan Mama, ya?"

Anak-anak Ditha mengangguk patuh. Mereka sering menghadapi permintaan seperti itu, terutama jika mereka diminta hadir di ruang rapat perusahaan. Ditha mengajari anak-anaknya sedari dini memahami bagaimana sebuah perusahaan dijalankan.

Tetapi tentu topik bahasan kali ini akan sangat jauh berbeda.

Ibu mertua Ditha mengulangi kalimat yang tadi sempat diucapkannya di depan anak-anak, menantu dan cucu-cucunya. Hingga akhirnya terucaplah,
".....melihat kondisi Marwah seperti itu, maka ibu meminta Rizal untuk menikahi Marwah."

Kakak dan Dedek seketika meremas lengan Ditha kuat-kuat. Awalnya sinar mata mereka menunjukkan bahwa mereka sangat terkejut. Kemudian beberapa detik setelah mereka mencerna informasi yang mereka terima itu, jelas sekali tatapan mereka menunjukkan bahwa mereka terluka. Namun mereka tetap menutup bibir rapat-rapat. Hanya air mata menggenang. Lalu satu-satu tetes air mata mereka jatuh. Tanpa suara tangis.

Ditha ingin memeluk anak-anaknya. Tetapi jika itu dia lakukan, maka kendali dirinya akan runtuh. Dia bahkan tidak berani menatap Rizal.

"Satu pertanyaan saya, Ibu. Kenapa Ibu meminta Rizal yang menikahi Marwah, padahal Ibu juga punya Mulyadi dan Febri sebagai anak lelaki Ibu?" Sungguh ini pertanyaan yang menghantui hati Dhita berhari-hari. Akhirnya ia ungkapkan.

"Karena Rizal adalah kakak terdekat Dito. Marwah juga tidak keberatan jika dinikahi oleh Rizal. Ibu sudah bertanya pada Marwah," jawab ibu mertua Dhita.

"Tidakkah Ibu berpikir bahwa hal ini akan melukai saya dan anak-anak Rizal?"

"Ibu tahu itu, Dhita. Tetapi Ibu juga paham, kamu adalah perempuan yang kuat. Kau akan tabah."

"Ya, Ibu benar," Ditha mengangguk dalam-dalam. "Aku akan tabah menghadapi perpisahan dengan Rizal. Karena Ibu sudah berkali-kali menyaksikan, aku mampu menghadapi badai besar selama berumah tangga dengan Rizal. Aku kuat menanggung berdarah-darah perjuangan kami saat bisnis kami bangkrut."

"Ibu tidak bermaksud agar kalian berpisah. Ibu cuma minta Rizal menikahi Marwah agar ada yang mengayomi dia juga. Ibu yakin, Ditha yang sekuat ini, akan mampu menguatkan Marwah juga."

"Tidak, Ibu." Ditha menggeleng kuat-kuat. "Tidakkah Ibu sadari, saya mampu berdiri bersama anak ibu dalam badai sebesar apapun, tetapi saya tidak akan mampu bertahan dalam rumah tangga jika hanya mendapat separuh hati dari suami saya."

"Ditha, Ibu tidak bermaksud..."

"Tetapi saya dan Rizal sudah mengambil keputusan bersama. Kebetulan Mulyadi dan Febri hadir di sini, maka saya membutuhkan tanda tangan kalian sebagai saksi bahwa keputusan ini telah dibuat oleh saya dan Rizal."

Lalu Ditha membuka dokumen yang sejak tadi berada di pangkuannya. Menerangkan segala detilnya.
"Kenapa sampai seperti ini, Ditha?" Ibu mertuanya tampak agak geram padanya setelah mendengar segala hal tentang pembagian harta.

"Ketika Rizal menikahi saya, dia tidak punya apa-apa, Bu. Segala yang dia miliki sekarang adalah hasil usaha kami bersama, yang dimaksudkan untuk kenyamanan anak-anak. Selama ini kami juga tidak pernah berhitung apabila saudara-saudara Rizal membutuhkan bantuan. Karena saya pribadi paham, Rizal memiliki ibu dan saudara yang berhak menikmati jerih payahnya. Tetapi ketika Rizal mengkhianati saya, -ya, jujur, hal ini saya anggap Rizal memgkhianati saya-, maka saya pun melepaskan semuanya. Kami alihkan semua itu pada anak-anak kami. Anak-anak saya dan Rizal. Jika Rizal ingin melanjutkan hidup dengan perempuan lain, toh dia sudah berpengalaman memulai segalanya dari nol. Seperti saat memulai rumah tangga dengan saya dulu. Malah Marwah akan lebih beruntung, karena sekarang gaji Rizal yang akan diterimanya setiap bulan, adalah gaji seorang Direktur. Padahal saat menikahi saya dulu, dia hanya seorang staf biasa."

"Ibu juga tidak mempermasalahkan soal harta Rizal, Dhita." Wanita yang dalam beberapa pekan depan akan menjadi mantan mertuanya tampak emosi.

"Tidak akan bisa dipisahkan Ibu. Perusahaan dan aset-aset itu akan jadi masalah nanti. Lebih baik saya perjelas segalanya sekarang."

Ibu tampak bingung.

"Ayo, tandatangani di situ Mulyadi, Febri! Jika kalian tidak tanda tangan, maka tidak akan ada pernikahan bagi Marwah. Aku tidak peduli andai perempuan berengsek cengeng itu mati menggantung dirinya di rumah ini sekalipun." Sentak Ditha tanpa tedeng aling-aling.

Mulyadi dan Febri membubuhkan tanda tangannya seolah tanpa mereka sadari.

Ditha buru-buru menyimpan dokumen itu, lalu menggamit lengan kedua anaknya agar berdiri di sisinya, dengan kepala tegak.

"Nah, sekarang Rizal," Rizal tampak terkejut dipanggil oleh Ditha dengan hanya namanya. "Aku memintamu mengucapkan talak atasku."

"Ma... Aku tidak akan..."

"Baiklah. Kalau begitu tunggu sajalah panggilan dari Pengadilan Agama. Dalam dua tiga hari ini pengacaraku akan memasukkan berkas gugatan perceraian. Aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Karena aku juga sudah tidak akan bertanya lagi apapun pendapatmu, tentang hidupku."

Lalu ia berbicara pada para tamu, "Aku dan anak-anakku izin naik ke kamar. Kami akan tidur cepat, karena besok pagi-pagi Kakak dan Dedek harus berangkat sekolah."

Tanpa mempedulikan tanggapan keluarga Rizal, Ardhita menggandeng kedua anaknya naik ke lantai dua. Mereka mengunci diri di kamar. Menangis bertiga tanpa bersuara.

Keesokan paginya, Ditha mengumpulkan semua staf di kantor pusat untuk meeting pagi. Ia berdiri sendiri di ujung meja rapat menjelaskan kondisi pernikahannya. Ia tidak ingin ada gosip dan praduga berkembang di kantor. Lebih baik ia mengatakan terus terang kepada para stafnya. Beberapa staf yang bekerja dengannya sejak perusahaan didirikan, tampak tidak percaya dengan informasi yang disampaikannya. Bahkan sopir pribadi Rizal menganggapnya tengah melucu. Karena baru saja beberapa pekan lalu, Pak Saman melihat kemesraan sepasang bossnya itu.

Dua hari kemudian Ditha dan kedua anaknya memutuskan berlibur ke beberapa negara. Di hari Sabtu di pekan itu juga, ia mendapat kiriman foto akad nikah Rizal dengan Marwah telah berlangsung, dari salah satu mantan iparnya.

Menatap foto itu, Andhita merasakan dunianya hancur. Tiga pekan dia bersama kedua anak perempuannya di Italia, tetapi dia hanya duduk di dalam kamar hotel. Menangisi nasibnya.

Hampir saja ia merasa dunianya telah berakhir. Untung di titik kritis itu, guru sekolah Kakak mengirimkan pesan WhatsApp yang mengabarkan bahwa pekan depan akan ada Ujian Tengah Semester, sehingga anak-anaknya harus hadir di sekolah agar mendapat nilai.

Pesan itu membantunya bangkit dari kepedihan hati, karena menjadi pengingat bahwa masa depan anak-anaknya masih begitu panjang. Dan ia harus menemani mereka. Karena tentu kini ayah mereka tengah disibukkan mengurus keluarga barunya. Juga waktu Rizal akan banyak tersita untuk memperhatikan kesehatan mental Marwah.

Maka ia membawa anaknya pulang ke Jakarta. Setelah istirahat dari jetlag, ia pun mulai bekerja kembali seperti biasa. Ia bicara seperti biasa pada Rizal. Hanya saja, tentu sekarang tidak ada lagi saling merangkul atau berpegangan tangan di sela-sela jam bekerja.

Ia mendengar Marwah telah melahirkan bayi lelaki sepekan sebelum ia kembali ke Jakarta, maka ia mengirimkan hadiah sebuah kereta dorong berwarna biru.

Ia juga masih bergabung di dalam Whatsapp grup keluarga Rizal. Ia sengaja tidak keluar dari grup itu, sebaliknya tidak ada satupun mantan adik atau kakak ipar yang berani mengeluarkan nomor ponselnya dari grup tersebut. Ia pun masih memberi bantuan materi jika ada diantara mereka yang sedang kesusahan.

Akhirnya Andhita menyadari, bahwa jodohnya dengan Rizal hanya sepanjang itu. Walau memang ia masih menyimpan cinta lelaki itu di sudut hatinya. Tetapi ia sudah merasa cukup, jika Rizal tetap memperhatikan anak-anak mereka. Masih terus menafkahi kedua anak itu dengan layak. Serta sesekali menjenguk atau mengantar jemput mereka ke sekolah.

Tak ada lagi kemarahan di hati Andhita. Hidupnya berjalan terus. Sambil ia berusaha mengobati luka hatinya sekeping demi sekeping. Hingga entah sampai kapan hati yang pernah hancur itu akan utuh kembali.

0 komentar:

Post a Comment

 
;