Monday, September 9, 2019

Pekerjaan Terakhir


#Fiksi_Schatzi
Kebudayaan dan perilaku manusia dari zaman ke zaman semakin berubah. Manusia yang semula adalah makhluk sosial, yang saling akrab dengan lingkungan, semakin lama kian terasing satu sama lain. Mereka terisolasi oleh beban pekerjaan demi mendapatkan uang pembeli benda-benda yang menaikkan status sosial mereka. Makhluk-makhluk sosial yang kini menjadi yang berubah menjadi masyarakat materialis.
Ah, ya, maaf. Mereka tidak 100 persen berubah. Mereka tetap dengan fitrah yang selalu ingin bersosialisasi. Tapi sosialisasi dalam kungkungan semesta material. Manusia sekarang bertemu, bercakap-cakap, bercanda bahkan menangis melalui komputer, laptop, dan terbanyak melalui ponsel.
Manusia sekarang juga relatif pendiam. Mereka berbicara melalui tulisan, mengungkapkan emosi melalui simbol lingkaran kecil, atau menceritakan aktifitas melalui video beberapa detik yang bergerak berulang-ulang, yang disebut teknik boomerang.
Teknologi terbaru terus ditemukan. Maka orang modern harus juga terus memperbarui sarana penggunaan teknologi tersebut. Gawai-gawai harus selalu terkini.
Semua itu ditebus dengan harga yang tidak murah. Maka manusia modern butuh bekerja keras.
Memang para pekerja tidak perlu lagi datang ke kantor dan berdiam di sana antara pukul 9 pagi hingga 5 sore. Segala data telah terkoneksi secara online, tersimpan dalam 'cloud store', sehingga bisa diunduh dan diunggah dari mana saja.
Bekerja bisa dilakukan di kafe, di taman, di kamar tidur, atau di lobi bioskop. Bahkan kini sudah tak heran lagi jika toilet dipakai berlama-lama, karena seseorang yang sedang berada di dalam sana, melakukan aktifitas buang kotoran sambil terhubung dengan entah siapa, yang entah berada di bagian dunia mana.
Terlihat asik, tetapi sesungguhnya mereka membawa beban stress kemana-mana. Ke kafe, ke taman, ke kamar tidur, ke bioskop, termasuk juga ke toilet.
Begitulah. Manusia sekarang terkoneksi global, sekaligus kesepian. Banyak terlihat bersantai dan berlibur, namun kepalanya berputar aneka hal yang menjadi beban stres bahkan depresi.
Aku memiliki sebuah perusahaan jasa pembersihan rumah dan apartemen, berlokasi di Otorii. Bisnis ini sudah berjalan selama 7 tahun. Anak buahku 3 orang. Belakangan, Karena melihat peluang kebutuhan pelanggan, bisnisku melebar ke jasa pergudangan.
Para pelanggan kami biasanya para pekerja bujangan, yang menjadikan apartemennya hanya sebagai tempat untuk mandi dan tidur pada malam hari. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dan nongkrong di pub.
Kami jarang bertemu dengan pelanggan secara langsung. Mereka mengorder jasa kami melalui aplikasi, memilih jenis layanan yang mereka inginkan, lalu membayar. Kunci apartemen mereka titipkan di suatu tempat, sehingga kami bisa mengerjakan tugas di saat mereka sedang berkegiatan di luar rumah. Memang integritas dan kepercayaan pelanggan menjadi  modal utama kami.
Hingga di suatu hari terjadi hal yang tidak kami duga.
Sore hari itu ketika aku dan karyawanku tengah berkemas setelah selesai membersihkan sebuah apartemen di Ota-ku Nishikōjiya, seseorang mengaku inspektur dari Kepolisian menelponku.
Inspektur Hashida mengatakan bahwa ia dan anak buahnya sedang mengidentifikasi sesosok mayat yang telah membusuk di sebuah apartemen di kawasan Omorinaka. Dari ponsel yang berada di saku mayat, didapati nomor telepon perusahaan kami adalah nomor yang terakhir dihubungi dan menghubungi balik ke ponsel itu.
Sore itu juga aku dan ketiga karyawanku diinterogasi di Kantor Polisi Omori di Ota-City. Kami dicurigai karena sidik jari kami bertebaran di TKP. Kami dikenai tahanan kota dan wajib melapor setiap 2 hari sekali hingga didapat bukti kami tidak bersalah. Untunglah tidak sampai seminggu kemudian, polisi memperoleh saksi yang memberi keterangan bahwa korban, Yashori Isigawa, masih hidup dan sarapan di kedai langganannya di pagi hari setelah kami bertugas membersihkan apartemen lelaki itu.
Sebagai rasa syukur karena terbebas dari tuduhan, aku menawarkan jasa membersihkan apartemen Yashori. Polisi mengizinkan dan pemilik apartemen menyetujui.
Tak perlu waktu lama setelah membuka pintu apartemen yang telah tak berpenghuni itu, ketiga pegawaiku muntah-muntah. Bau protein dan lemak yang telah membusuk benar-benar membuat isi perut memberontak. Belatung sebesar kelingking bergeliat di berbagai sudut rumah. Dengan memakai masker oksigen kami membersihkan setiap sudut rumah.
Kami mengepak dan mencatat daftar jumlah dan merek pakaian dan sepatu. Membuat katalog buku-buku, lukisan, foto-foto, hingga peralatan makan. Kami mencatat dengan detil jenis dan jumlah setiap benda yang ada di dalam apartemen. Jika suatu saat kerabat atau ahli waris Yashori ditemukan, seluruh benda itu akan diserahkan. Butuh bekerja dua hari penuh untuk membersihkan apartemen 3 ruang itu.
Walau semula kuniatkan mengerjakan dengan gratis, namun pemilik apartemen memaksaku menerima imbalan jasa yang lumayan besar. 5 kali dari tarip normal. Dia senang melihat apartemennya telah rapi dan bersih, sehingga bisa segera disewakan kembali.
Malam hari setelah kami serah terimakan kunci apartemen yang telah bersih ke pemiliknya, aku dan ketiga karyawanku mengobati mual kami dengan meneguk bercangkir-cangkir sake di izakaya.
Sejak itu perusahaanku sering mendapat pekerjaan membersihkan apartemen atau rumah yang menjadi TKP dimana ditemukan mayat yang telah membusuk. Pekerjaan berat,  terbukti tak banyak perusahaan pembersih yang bersedia mengerjakan pekerjaan menjijikan ini.
Dari satu tugas pembersihan ke tugas pembersihan, membuat perusahaanku terkenal. Para pemilik apartemen puas dengan pekerjaan kami, karena apartemen mereka menjadi lebih bersih, dan benda-benda yang ditinggalkan tercatat dengan baik. Permintaan membersihkan bukan hanya dari Tokyo dan sekitarnya. Tak jarang kami ke Osaka, Minami Uonuma, atau Matsumoto yang berjarak ratusan kilometer dari Otorii.
Dari tugas-tugas itu aku mengamati persamaan para 'kastemer' kami. Mereka adalah orang-orang yang hidup sendiri di tengah hiruk-pikuk dan sibuknya kota Tokyo. Kerabat dan teman membersamai dalam bentuk foto-foto dalam suasana ceria yang terpajang di pigura atau tersimpan rapi dalam album foto. Kami nyaris selalu mendapati benda-benda berteknologi tinggi di dalam tas kerja atau di kamar tidur mereka. Dan sesekali boneka seukuran manusia, sebagai teman tidur.
Hingga suatu hari aku menyadari bahwa diriku tak ubahnya dengan para 'kastemer-kastemer' kami itu. Kastemer yang kutulis dengan tanda petik, karena mereka memberi kami pekerjaan justru setelah mereka tinggal berupa jasad terabaikan. Mereka membuat aku sadar, bahwa hidupku tidak ubahnya seperti mereka.
Aku telah berusia 48 tahun. Setelah lulus kuliah, aku bekerja apa saja. Dari mulai menjadi pramuniaga di toko swalayan, sales mainan anak-anak yang berjualan dari pintu ke pintu, petugas pengantar barang, hingga akhirnya aku membuat perusahaan sendiri.
Menjadi pemilik bisnis justru membuatku sibuk luar biasa. Aku harus berjuang mendapatkan order agar para karyawanku bisa digaji tepat waktu, membayar cicilan peralatan, membayar sewa kantor, biaya operasional, juga menopang biaya hidup ibu yang tinggal di Utsunomiya, kampung halaman beliau.
Maka hari-hariku dilewati dengan bekerja dan bekerja. Aku jarang berlibur karena di akhir pekan justru permintaan membersihkan apartemen lebih banyak. Aku pun lupa, kapan terakhir kali aku memiliki pacar.
Aku pun memutuskan merubah kebiasaanku. Aku tidak lagi memenuhi ajakan minum di izakaya, dan berhenti mengunjungi pink salon untuk mendapatkan kenikmatan seksual. Aku kini memulai rutinitas harian dengan jogging di pagi hari, lebih rajin menelpon ibu dan para tetua keluarga. Dan mulai mendelegasikan sebagian tugas kepada pegawai senior agar aku punya waktu mengunjungi kerabat dan teman.
Aku hanya tidak ingin mengalami nasib seperti para 'kastemer'ku.
Tetapi tidak sepenuhnya upayaku berhasil. Sebagian besar orang-orang yang kukunjungi tampak terganggu dengan kedatanganku. Walaupun ketika aku memberitahukan akan menjenguk, mereka tidak menolak. Maka kunjungan-kunjunganku hanyalah bertamu secara singkat. 30 menit adalah rekor terlama. Aku tidak sedih, karena aku paham mereka orang-orang sibuk. Sama seperti aku dulu.
Hari ini aku datang ke kantor setelah lebih dari seminggu berlibur. Hari masih sangat pagi ketika aku membuka pintu. Ruangan-ruangan masih lengang. Aku mengamati papan jadwal pekerjaan dengan tersenyum puas. Jadwal kerja kami penuh hingga 3 bulan ke depan.
Aku menuju ruang peralatan, dan kembali tersenyum puas. Perusahaanku telah memiliki alat-alat pembersih dengan teknologi baru, yang sebagian besar diantaranya telah dibayar lunas. Bisa dikatakan hutang usahaku kini sangat sedikit jika dibandingkan beberapa tahun terakhir saat bisnis kami melesat.
Jam 7.30, dari depan kudengar suara klik pintu terbuka, lalu dengungan suara-suara karyawanku masuk.
Aku sedikit terkejut ketika Kisenoshato membuka pintu ruang kerjaku, dia tersenyum ke arahku lalu membungkuk mengucapkan selamat pagi. Lalu berturut-turut karyawanku yang kini berjumlah 15 orang, muncul di pintu, membungkuk dan mengucapkan selamat pagi juga.
Jam 7.40 aku mendengar Shato mengumumkan rapat harian akan dilangsungkan 5 menit lagi.
Pukul 7.45 saat aku memasuki ruang rapat, kelimabelas karyawanku telah berkumpul. Aku mendengar suara napas tertahan dan sekilas tatapan terkejut dari mereka ketika aku duduk di kursi kosong di ujung meja rapat.
Setelah berdeham, Shato berdiri,
"Ah, Pak Bos, tidak kami sangka anda akan hadir di rapat hari ini. Izinkan saya memimpin rapat pagi ini." Karyawan paling seniorku itu kembali membungkuk ke arahku. Karyawan lain pun mengikuti. Aku membalas membungkuk pada mereka.
"Silakan," jawabku.
"Selamat pagi semua," Ujar Shato membuka rapat. Wajahnya tiba-tiba menjadi keruh, "Sebenarnya, aku berat menyampaikan pengumuman ini. Yah, sama seperti tiap kali kita mendapatkan pekerjaan seperti ini. Jadi pada pukul 9 semalam, aku mendapat telepon dari Inspektur Hashida. Ia mengabarkan bahwa mereka telah selesai memindahkan jenazah dari sebuah rumah di jalan Haginaka, kemarin sore. Dan menanyakan apakah kita akan mengambil pekerjaan membersihkan rumah itu? Inspektur mengatakan bahwa pihak asuransi akan membayar biayanya."
"Sudah tentu kita akan mengambil pekerjaan itu. Seandainya pun kita tidak dibayar, aku mau melakukannya."
Aku tersenyum lebar mendengar semangat dalam suara Kitaro. Tetapi tentu aku tidak setuju jika kami tidak dibayar. 
"Baiklah, Isei dan Miya, kau yang memimpin jadwal pembersihan kita di kastemee lain. Aku sendiri yang akan memimpin pembersihan rumah di Haginaka itu. Baiklah begitu saja rapat hari ini. Ayo kira bergegas." Lalu Shato membungkuk ke arahku, "Demikian rapat pagi ini, Bos." Kemudian ia ke luar ruangan.
Karyawan lain ikut membungkuk, dan pergi.
Aku terkejut.
"Hai, Shato! Hai! Kau anggap aku sudah jompokah sehingga kau tidak mengajakku melakukan pembersihan hari ini? Aku ikut!"
Tetapi tentu Shato tidak mendengar teriakanku. Ia sudah menuju ke gudang untuk mengambil peralatan kerja.
Aku menggigil ketika truk yang dikemudikan Shato berhenti di depan sebuah rumah. Tampak beberapa helai sisa pita kuning garis polisi menempel di pagar rumah, yang dicabut asal-asalan.
Shato yang telah mengambil kunci rumah di kantor polisi sebelum ke sini tadi, membuka pintu dengan tangisan tersedak-sedak di tenggorokannya. Dadaku pun serasa tercabik.
Bagaimana bisa ini terjadi?
Berapa lamakah mayat itu baru ditemukan? Apakah sudah membusuk?
Mengikuti Shato, aku masuk ke rumah yang telah sangat kukenal. Tetapi berbeda dengan suasana dulu, rumah ini sekarang tampak sangat lengang. Ruang duduk terasa lapang tanpa berbagai perabotan yang biasa kulihat.
Kemudian Shato dengan dibantu dua karyawan lain, menurunkan peralatan dari truk, lalu mereka bekerja dalam diam.
"Pekerjaan di rumah ini akan cepat selesai." Ujar salah satu karyawanku saat memandangi kotak-kotak kayu di kamar tidur. "Bos telah melakukan sebagian besar pekerjaan ini sebelum kita."
"Ya, kau benar. Bos bahkan sudah membuat katalog dan menuliskan alamat-alamat panti sosial dan perpustakaan di masing-masing kotak. Sehingga kita bisa dengan mudah menentukan akan mengirim barang-barang ini sesuai kehendaknya."
Bos? Apakah aku yang mereka maksud?
"Andaikan aku sedikit peka, mestinya aku mengeceknya ketika ia tidak datang ke kantor," Shato berujar saat ia berada di dalam ruang tidur, sambil merapikan setumpuk foto-foto.
"Kau tidak bersalah, Pak Sato, karena Bos kan pamit mau berlibur. Dan memang dia sudah pergi berlibur 2 kali dalam dua tahun ini. Dan setiap kali selalu membawa oleh-oleh buat kita." Salah satu anak buahku menghibur Shato.
"Yah, kau tahu Wan, aku berharap mengharapkan oleh-oleh darinya. Bukan berita duka cita tentangnya." Timbal karyawanku lainnya.
"Hush! Sudah-sudah!" Hardik Shato. "Kau tahu, aku masih saja merasa ia berada di kantor setiap hari. Itulah sebabnya aku selalu mampir ke ruangannya untuk mengucapkan selamat pagi dan selamat petang."
Dan lalu segalanya menjadi jelas bagiku.
Ya, Memang. Di hari ulang tahunku ke 50, aku memutuskan mengakhiri cerita hidupku di dunia ini.
Aku izin cuti selama 3 hari, yang kupakai untuk merapikan barang-barangku, memasuki ke kotak-kotak dan melabeli kotak tersebut. Semula aku ingin mengirimkan sendiri barang-barang tersebut melalui jasa kurir, tetapi aku khawatir di saat terakhir aku berubah pikiran. Tak mungkin kan meminta kembali barang-barang yang sudah kau sumbangkan? Sedangkan barang itu bermanfaat saat kau hidup, yang jika kau membeli baru, tentu akan menghabiskan sebagian tabunganmu.
Maka aku membuat surat wasiat mengenai seluruh harta bendaku, dan melimpahkan operasional perusahaan kepada Shato.
Segala hal ini kupelajari semua dari mantan-mantan kastemerku, yang seringkali meninbulkan begitu banyak masalah di akhir dan setelah kehidupan mereka. Bukan hanya masalah mengurus jenazah yang telah membusuk karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu tak diketahui kematiannya. Namun seringkali barang-barang peninggalan mereka tak terurus, dan memenuhi gudang penyimpanan perusahaan kami. Karena bertahun-tahun barang tersebut tak bertuan, dengan persetujuan pengacara, satu persatu barang-barang yang memiliki nilai, kami jual sebagai biaya ganti sewa gudang.
Aku tak ingin semua itu terjadi padaku. Maka aku memutuskan sendiri akhir cerita hidupku.
Ketika seluruh barang-barang telah selesai kukemas dan kulabeli, serta seluruh sudut rumah telah bersih kusikat dan kuseka, sebelum menelan segenggam pil tidur, aku membuat email yang kuatur akan mengirim surat elektronik itu pada waktu tertentu, meminta inspektur agar memeriksa rumahku, sehingga ia bisa menemukan jenazahku ketika tubuhku masih hangat dan bakteri pembusuk belum sempat menggerogoti daging-dagingku.
Aku puas dengan pekerjaan terakhirku

0 komentar:

Post a Comment

 
;