Monday, September 2, 2019

Pelangi Hitam (Bagian 1)


Aku berbaring di kamarku di Moore-Hill Dormitory dengan pikiran lalu-lalang. Menimbang-nimbang apakah akan turun ke kantin untuk membeli makanan, atau mengisi lambungku dengan minum berliter-liter air hangat saja. Selain karena sedang malas untuk bergerak ke kantin, aku juga tahu bahwa sisa uang jatah bulan ini mulai menipis. Memang aku bisa menelpon ke Jakarta untuk minta tambahan uang saku, tetapi aku merasa gengsi. Masak aku tidak bisa seperti ribuan mahasiswa lain yang sanggup membiayai hidup hanya dengan mengandalkan uang beasiswa.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarku
"Siapa?" Tanyaku setengah berteriak.
"Special delivery service," jawab suara dari arah depan pintu.
"Sebentar!"
Aku segera gerubukan mengganti kaos usang dan celana pendekku dengan pakaian yang lebih pantas. Dengan terburu-buru aku memupurkan bedak ke wajah dan mengoleskan lipstik ke bibirku.
Aku mengenali suara itu.
Aku membuka pintu dengan senyum lebar, karena yakin pertolongan terhadap laparku telah datang.
Benar saja. "Chicken fajita dari Arturo's," seru orang yang berdiri di depan pintu sambil mengulurkan kantong kertas berwarna cokelat. "Aku tahu pemalas sepertimu pasti belum makan karena enggan beranjak ke kantin."
Dengan suka cita aku membongkar bungkusan itu.
"Oh, Drei. Kau memang penyelamat hidupku. Kau selalu bisa membaca jalan pikiranku."
"Tidak gratis, Nona." Drei ikut mengambil satu potong Chicken Fajita, lalu duduk di sebelahku. "Aku sedang suntuk. Dua pekan ini tugas bertubi-tubi datang ke mejaku. Jadi aku membawa ini sebagai sogokan agar kau mau menemaniku jalan-jalan."
"Ke mana?" tanyaku sambil mengunyah.
"Entah. Aku juga belum punya ide. Kita ke Zilker, atau keliling kota? Aku cuma ingin ada seseorang duduk di sisiku, berbagi cerita tentang apa saja."
"Oh, kasihan sekali. Kau jomblo yang merana."
"Jangan didramatisir. Hidupku tidak sesengsara itu. Aku punya seseorang yang bisa kuandalkan."
"Kalau itu, aku sudah tahu. Betapa berartinya aku bagimu kan?" Aku berkata dengan nada bangga, sambil mengambil sepotong lagi fajita.
"Jangan besar kepala! Hei, jangan dihabiskan! Aku juga masih mau!" Ia menatap fajita terakhir yang siap masuk ke mulutku.
"Nih, kubagi separuh." Aku menggigit separuh dan sisanya kusuapkan ke mulutnya. Ia mengunyah dengan cepat lalu minum dari gelasku.
"Aku masih lapar. Cari makanan, yuk." Drei menarik tanganku agar aku berdiri. Aku buru-buru meraih sandal di bawah meja dengan kakiku.
"Cari? Beli!" Godaku.
"Iya, kita beli makanan. Kau yang bayar." ujarnya sambil mengunci pintu kamarku.
"Kau tak kasihan padaku, mahasiswa bermodalkan beasiswa? Kalau malam ini aku mentraktirmu, bisa-bisa aku akan menanggung kelaparan selama dua minggu tersisa hingga jatah beasiswa bulan depan datang."
"Oh, air mataku hampir jatuh mendengar penderitaanmu," olok Drei.
Lelaki itu meraih bahuku saat kami berjalan bersisian di sepanjang lorong kamar-kamar asrama yang riuh. Beberapa kali ia mengangguk dan membalas sapaan teman-teman yang berpapasan dengan kami.
Kami memutuskan membeli kebab dari food truck yang parkir tidak jauh dari asrama. Lalu memakan makanan yang rasanya telah dimodifikasi menjadi lebih mirip daging barbeque ala Texas, namun dengan tambahan kulit kebab, sambil berkendara menuju ke pusat kota.
"Kita akan kemana, Drei?"
"Entah. Nanti aku akan berhenti, kalau ingin berhenti. Yang jelas, aku tidak akan menculikmu."
"Aku tidak khawatir soal itu."
"Oya? Kenapa?"
"Kalau kau menculikku, tak ada jalan lain, orang tuaku akan memaksamu menikahiku. Enak saja, mana bisa kau lolos setelah menculik anak perempuan orang?"
"Aku pernah berpikir, mungkin sebaiknya aku menikahimu saja, daripada pacaran dan putus berkali-kali karena merasa tidak cocok dengan mereka."
Aku tertawa tergelak-gelak hingga air mataku menggenang.
"Lalu kau akan melepas predikat high quality jomblomu, yang telah kau pertahankan bertahun-tahun? Kau akan kehilangan kesempatan menaklukan para barbie dengan lirikan mautmu, Drei."
"Brengsek! Aku tidak pernah memacari barbie!"
"Yah, satu-dua orang diantaranya memang punya otak. Tetapi sebagian besar mereka hanya bermodalkan dada membusung dan tubuh aduhai."
"Tidak semua perempuan bisa membahas tentang teori quantum-nya Planck atau tentang fotolistrik sebagai obrolan kala senggang, sepertimu, Jihan!" Balasnya dengan kesal.
"Aku seburuk itukah bagimu, Drei?" Aku menatapnya pura-pura ngeri.
"Bagiku, efek kehadiranmu jauh lebih mengerikan dibandingkan mereka, Jihan. Belakangan kusadari, aku takut jika hidup tanpamu. Lihatlah pada siapa aku berlari setiap kali aku mengalami saat-saat berat dalam hidup? Padamu. Begitupun, kau orang pertama yang selalu kucari jika aku mendapat kabar gembira. Aku selalu ingin membagikannya kepadamu, sebelum kepada orang lain. Bukan kepada orang tuaku atau pacarku saat itu."
Aku tergagap.
"Kurasa itu karena kebiasaan kita bertahun-tahun saja, Drei."
"Ya, kita sudah terbiasa bersama bertahun-tahun. Lalu bagaimana jika suatu saat nanti kau menikah, lalu suamimu melarang aku menemuimu lagi? Atau jika istriku cemburu padamu?"
"Jika saat itu tiba, mungkin kita akan berubah, Drei," jawabku dengan lemah. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan hal itu mungkin terjadi kelak.
Drei terdiam. Ia berkonsentrasi pada lalu lintas yang macet. Menyetir di sini, harus ekstra waspada. Karena tak jarang mobil di depan menyalakan lampu sinyal akan berbelok, hanya sedetik sebelum sopir memutar setirnya.
Setelah hampir satu jam kami membelah keramaian lalu lintas kota yang masih sangat padat pada pukul sepuluh malam itu, Drei memutuskan memarkirkan mobilnya di tepi jalan di samping Zilker Park.
"Melanjutkan pembicaraan kita tadi," Drei menarik napas dalam. Setelah menghembuskannya perlahan, dia mengucapkan kalimat yang membuatku tergugu, "Menikahlah denganku, Jihan. Agar hal itu tidak terjadi pada kita."
Apa-apa ini?
Aku kalut ketika kulihat ada keseriusan di matanya.
Oh, tidak!
Tidak!
Aku bukan perempuan setipe pacar-pacar Drei selama ini. Jauh dari itu.
"Kita tidak saling mencintai, Drei."
"Tetapi setidaknya kita saling menyayangi," bantah Drei dengan keras kepala. "Dengan meyayangi, kita tidak akan saling menyakiti, Jihan. Seperti halnya yang telah pernah kita alami dengan kekasih-kekasih kita sebelumnya."
"Kau memaksa, ya? Seperti biasa." Aku memelototinya.
"Aku berjanji akan berubah. Apapun, agar kau lebih nyaman. Karena kalau kita bertengkar terus, kepada siapa lagi aku akan mengadu nanti?"
"Rayuan gombal! Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Grace, pacar edisi terbarumu?"
"Oh." Drei nyengir. "Kami bertengkar beberapa hari lalu."
"Tentang?"
"Kami berbantahan gara-gara kebijakan imigrannya Trump si Brengsek itu. Dan perempuan itu, kau tahu, pendukung berat Trump. Huh! Dengan kulit pucatnya, dia pikir dia warga asli Amerika, sehingga merasa lebih superior dibanding para imigran? Kukatakan padanya, untuk menelusuri nenek moyangnya, bukan tidak mungkin mereka berasal dari Inggris atau negara Eropa lain. Tapi yah..." dia mengangkat bahunya.
Aku tergelak-gelak, "Kau memutuskan pacarmu hanya gara-gara dia pendukung Trump?"
"Kau tahu, aku selalu alergi berhadapan dengan orang rasis."
"Tapi kau pernah jatuh cinta padanya kan?"
"Mungkin baru sampai pada tahap menyukainya. Belum benar-benar mencintainya. Buktinya aku baik-baik saja ketika putus darinya," jawab Drei.
"Karena ada aku yang selalu jadi tempat pelarianmu untuk curhat." Kataku menyombongkan diri.
"Ya, Jihan, ya. Dalam keadaan bagaimana pun, aku akan selalu baik-baik saja. Karena aku tahu, aku memiliki sahabat terbaikku." Drei mengenggam tanganku, lalu mengecupnya.
Aku menarik napas panjang. Sebal pada irama jantungku yang tiba-tiba berdebar kencang.
Bukan baru sekali ini Drei melakukannya, biasanya aku menanggapinya dengan tanpa pretensi. Tetapi kenapa sekarang aku merasa berbeda?
Malam Sabtu, suara keramaian anak-anak asrama yang sedang bercengkerama dan membakar sosis di taman Moore Hills terdengar riuh hingga ke kamarku di lantai 3. Biasanya aku ikut bergabung dengan mereka. Bergosip atau bermain kartu. Tetapi malam ini aku ingin segera tidur.
"Ting!"
Suara tanda ada pesan masuk ke ponselku.
"Kau punya janji kencan malam ini?"
Demikian isi pesan pendek dari Drei, yang baru masuk di aplikasi WeChat.
"Aku ngantuk. Semalam begadang, dan tadi nyaris 6 jam aku bekerja di lab membantu Kate," balasku.
"Oke. Kubawakan TacoBell saja, ya. Tidak ada pilihan lain, karena aku sudah order." Isi pesan berikutnya dari Drei.
Begitulah cara kami bertukar pesan. Sering tak 'nyambung', tapi kami saling paham maksud yang tersirat.
Sambil makan makanan yang dibawa Drei, kami nonton film di Netflix. Tiba-tiba, aku teringat pada tugas kuliahku, aku segera menyalakan komputer di meja belajar.
"Drei, aku punya pertanyaan yang kuyakin kau bisa membantu menjawabnya. Begini, jika ada masalah di operation unit yang mengalami triple efek dari evaporator yang biasanya menggunakan 7% sodium hidroxide, lalu...."
Drei memperhatikan layar komputer dari belakang punggungku, ikut menganalisa masalah yang kuperlihatkan padanya.
"Kenapa?" bisiknya di telingaku.
"Apakah dibutuhkan pemanasan agar efek yang diinginkan bisa memberikan hasil seperti yang diharapkan? Uap panas dari boiler terpasang sebesar 125 psi..."
"Bukan itu pertanyaanku. Kenapa kamu gemetar?"
"Sialan! Karena kamu menempel di punggungku!"
"Biasanya tidak berpengaruh padamu. Kenapa sekarang berbeda?"
"Entah. Aku..."
Tiba-tiba aku merasa seperti tercekat dan sesak napas sekaligus, ketika kusadari bibir Drei mendarat di bibirku.
"Haha, bernapas, Jihan. Bernapas." Drei menepuk-nepuk pipiku. "Aku cuma mengecupmu. Belum menciummu."
Aku belum benar-benar pulih dari shock, saat terdengar suara pintu kamarku ditutup, dan langkah ringan Drei menjauh.
Brengsek kau, Drei!

0 komentar:

Post a Comment

 
;