Monday, September 2, 2019

Pelangi Hitam (Bagian 2)


Aku menyalakan aplikasi Deezer di laptop, memilih beberapa judul lagu untuk diputar berurutan. Kemudian aku mengklik tombol 'Play'. Setelah intro lagu, aku pun bersenandung mengikuti Michael Learns to Rock. Lenganku bergerak-gerak, dan ekspresi wajahku mengikuti nada lagu itu. Tak peduli walau beberapa pasang mata mahasiswa yang juga sedang praktikum menontonku beraksi.
"Baby won't you tell me why
there is sadness in your eyes
I don't wanna say goodbye to you
Love is one big illusion I should try to forget
But there is something left in my head"
Setelah menyanyikan sepenggal bait tersebut, aku meluncur seolah memakai sepatu roda, menuju alat ekstraksi. Sambil memperhatikan larutan mengaliri ekstraktor, aku melanjutkan bersenandung,
"You're the one who set it up now
you're the one to make it stop
I'm the one who's feeling lost right now
Now you want me to forget
every little thing you said
But there is something left in my head."
"Woi, Jihan! Berisik! Pelankan suara speakermu!" Suara Bastian bergema dari meja lab di dekat pintu masuk. Aku menoleh padanya, memeletkan lidah, tanpa berniat memenuhi protesnya.
"I won't forget the way you're kissing
The feeling's so strong were lasting for so long
But I'm not the man your heart is missing
That's why you go away I know..."
lanjutku bernyanyi dengan suara tinggi.
"Ya ampun, Jihan. Emang siapa sih yang sudah menciummu? Sampai terbayang-bayang gitu," kali ini suara Kate yang mengolokku.
"Sweet Johnny, ya, Jihan?" Reba, asisten Kate, ikut-ikutan meledekku.
Ngawur!" Aku memelototi Reba. Perempuan tomboi itu tergelak.
Sweet Johnny adalah julukan untuk John Richardson, kepala asrama Moore Hills.
Dinamai Sweet Johnny karena walau lelaki itu bertubuh tinggi besar dan konon memegang sabuk hitam Taekwondo, ia adalah orang yang sangat ramah, agak gemulai dan senang menebar pujian.
"Hai, Jihan! Melihat kau memakai blus oranye begitu, pagiku tiba-tiba menjadi cerah," ucapnya dengan senyum lebar.
Maka jawabanku akan, "Aaahhh, you're so sweet, John."
Begitulah.
"Baiklah, aku menyerah jika kau menolak tebakanku bahwa yang menciummu bukan Sweet Johnny. I have no clue. Soalnya, pasti juga bukan Drei. Karena sejam yang lalu aku melihat ia tengah berduaan dengan Dr. Nath di Terowongan Angin," lanjut Reba.
"Mungkin mereka sedang mendiskusikan tentang pekerjaan yang dilalukan di tempat situ," bela Kate. Dia pasti melihat wajahku yang bersemu merah.
"Aku bisa membedakan bahasa tubuh orang yang sedang serius diskusi, atau sedang saling menggoda, Kate." Reba ngotot. "Kamu hebat ya, Jihan, bisa terus bersahabat dengan Drei tanpa pernah jatuh cinta pada lelaki itu. Kalau aku, asalkan Drei mau jadi pacarku, disuruh memakai rok pun aku mau."
Kami semua tahu, adalah hal yang nyaris tidak mungkin jika Reba mau memakai rok.
Aku pura-pura serius mencatat hasil ekstraksi, agar Reba berhenti mengolok-olokku.
Ah, Drei, andai kau tidak lancang menciumku, duniaku tidak gonjang-ganjing sekarang.
Aku mengenal Drei saat orientasi mahasiswa baru. Dia salah satu senior yang kemudian mengasisteni mata kuliah Hidrokarbon. Diajari oleh asisten dosen yang tampan, seketika semua mahasiswi teman sekelasku berusaha menarik perhatiannya. Aku yang merasa tak akan sanggup bersaing dengan mereka, memilih melipir.
Namun nilai-nilai kuis dan tugasku yang selalu nyaris sempurna, malah membuat Drei memberi perhatian lebih. Aku menerima perhatian dari asisten dosen itu tanpa pretensi ingin memikatnya.
Tahun demi tahun kami terus bersama sebagai sahabat dekat. Segalanya berlangsung seperti yang seharusnya.
Namun kini aku tengah berjuang sekeras mungkin mempertahankan persahabatan ini, tanpa dinodai rasa cinta antara lelaki dan perempuan.
——
Aku kembali ke asrama pada pukul 9 malam. Tak lagi kaget ketika mendapati pintu kamarku sedikit terbuka. Drei sering merayu Sweet Johnny agar mau membukakan pintu kamarku untuknya.
"Mr. Richardson tahu aku tidak akan mencuri di kamarmu, Jihan," jawab Drei ketika dulu aku mengomel tentang kelancangannya ini.
"Tetapi ini kamar perempuan, Drei. Sedangkan kamu lelaki," sentakku.
Drei mengerutkan keningnya.
"Bermasalahkah?"
"Tentu. Bagaimana sih kau!"
"Aku tidak pernah menganggap kita berbeda jenis kelamin, Jihan." Lalu Drei tersenyum miring, "Entah, ya Jihan, terhadapmu sensor libidoku rasanya error."
"Iya deeeeh... Aku kan ngga secantik atau seseksi barbie-barbiemu itu, Drei."
"Bukan. Bukan karena itu. Tetapi karena aku menganggapmu tidak berbeda denganku. Kau telah menjadi bagianku, Jihan. Maka tak mungkin aku... Ah, bagaimana aku menjelaskan apa yang kurasakan? Masak kau tidak paham?"
Aku buru-buru mengangguk.
"Ya... ya... Drei. Aku paham sekali. Aku pun merasakan begitu."
Saat itu aku pun begitu. Aku tidak pernah merasa naluri erotis pada Drei walau kami duduk menempel bersisian berjam-jam menonton film di layar televisi kamarku, atau kami ngobrol berdua tentang berbagai hal, di ruang duduk rumahnya.
Hingga ia melontarkan ide ingin menikahiku.
Hingga ia mengecupku.
Segala kemewahan rasa persahabatan menghilang sejak kecupan itu. Drei memang beberapa menciumku sebelumnya. Tetapi di pipi atau dahiku. Saat ia tengah bergembira, atau saat ia tengah menghiburku. Yang kurasakan pada ciumannya dulu itu hanya rasa sayang. Tidak ada debar-debar cinta.
Sekarang, lelaki yang membuatku kalut itu tengah tidur nyenyak di sofa. Layar televisi menyala dengan volume suara disenyapkan. Sesaat aku tergoda ingin mengecup pipinya.
Ah!
"Drei, bangun, Drei! Jangan ngorok di kamarku!" Aku menggoyang-goyangkan kakinya.
Dengan tergeragap, Drei langsung duduk. Matanya memerah.
"Jam berapa?" tanyanya dengan suara serak. Tampak agak linglung.
Aku mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air hangat, lalu mengulurkan gelas itu kepada Drei. Ia menghabiskan isi gelas dengan sekali teguk.
"Jam 9.17," aku melirik jam digital di dinding. "Jam berapa kau datang ke sini tadi?" Kataku sambil memasukkan jas lab ke dalam kotak laundry. Lalu menata buku dan tas di atas meja belajar.
"Kau baru tiba?"
Aku mengangguk.
"Dari mana saja? Aku di sini sejak jam 6. Kau tidak membaca pesanku?"
"Aku di Lab 302 bersama Kate dan Reba, dan beberapa mahasiswa lainnya. Sepanjang sore aku memang tidak membuka ponsel."
"Aku ke 302 tadi. Sekitar jam 5. Reba mengatakan kau sudah pergi," kalimat Drei yang bernada tinggi, membuatku kesal. Ada apa sih dengannya?
Aku mengambil ponsel, lalu menghubungi Reba. Kunyalakan speaker telepon saat berbicara.
"Reba, bisakah kau jelaskan, aku berada di Lab bersamamu hingga pukul berapa?" kataku begitu sambungan telepon itu tersambung.
"Astaga! Kau tidak bisa membaca jam ya Jihan?"
"Bukan begitu. Tapi karena..."
"Sebentar, sebentar! Apakah kau menelpon karena pacarmu sedang menginterogasimu? Oh, Honey, aku tidak akan ikut-ikutan." jawab Reba dengan nada yang menyebalkan.
"Reba, ini Drei." Tiba-tiba Drei menyela pembicaraan kami. Aku mendengar Reba mendengus sebal. "Kau katakan tadi Jihan tidak ada di 302, kenapa kau berbohong?"
"Pada bagian mana aku berbohong, Drei? Saat kau datang, dia tidak ada di Lab. Kau lihat sendiri kan?" Reba menjawab dengan intonasi tinggi.
"Tetapi mestinya kau..." Nada suara Drei pun sama gusarnya.
"Oke..oke...terima kasih, Reba." Aku buru-buru menutup sambungan telepon.
Drei kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Mungkin, kau datang saat aku sedang keluar lab, Drei," kataku mencoba membujuknya. "Aku memang benerapa kali mencari udara segar di taman, menghilangkan kesuntukan.
"Sungguh tak enak, bangun tidur aku harus berkonflik denganmu." Drei mendesah.
"Kau sendiri yang..."
"Abaikan pertanyaanku tadi. Duduk sini," Drei menepuk sofa di sisinya. "Sebenarnya tadi aku bermaksud mengajakmu makan malam ke Jester. Tapi sekarang waktunya sudah mepet, aku harus segera pulang dan berkemas. Aku perlu bangun dini hari untuk berangkat ke bandar."
"Kau mau kemana?"
"Besok subuh aku akan ke Novorossiysk. Aku dan beberapa teman akan melakukan riset di Laut Hitam." Drei berdiri, dan mengeluarkan dompetnya dari saku celana. "Aku sudah mentransfer $200 ke akun Bevo Buck-mu. Dan ini $300 untuk membeli keperluanmu. Aku akan pergi kira-kira selama 10 hari hingga 2 minggu. Aku tidak ingin saat kembali nanti, aku menemukanmu tergeletak lemas karena tidak makan berhari-hari."
"Masih ada deposit lebih dari $100 di Bevo Buck-ku, Drei. Aku juga masih punya beberapa puluh dollar di rekening bank. Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan mati kelaparan hingga beasiswaku masuk ke rekening."
"Aku tadi berbicara dengan Nath," kalimat Drei membuatku tiba-tiba tercekat. Aduh, koq aku cemburu sih? "Dia bilang, hari Jum'at akan memberi kalian tugas membuat prototipe desain RO. Kau tentu perlu membeli beberapa pipa, katup dan alat monitor laju alir."
"Aku bisa meminjam properti Foundry untuk mengerjakan tugas itu. Jadi kau tidak perlu sampai meminjami aku uang, Drei."
"Aku tidak meminjami uang padamu. Aku memberikan."
"Itu lebih menghinaku, Drei! Kau pikir aku fakir miskin?"
"Bukan begitu. Aku tahu kau tidak punya cukup uang jika tiba-tiba ada pengeluaran mendadak. Terima saja, kenapa sih? Apa-apaan jalan pikiranmu, sampai mengira aku berniat menghinamu!"
Drei membuka pintu kamar dengan menghentakkan gagangnya. Lalu tanpa menutupnya kembali, ia pergi.
Aku mematung.
Tentu selama bertahun-tahun bersahabat, kami kerap bertengkar. Tetapi baru kali ini aku merasa sakit hati seperti ini.
Aku mengambil tiga lembar uang seratus dollar yang diletakkan Drei di meja, lalu memasukkan lembaran-lembaran itu ke dalam dompet. Besok sore sepulang praktikum, aku berniat ke bank untuk menyetorkan uang itu ke dalam rekening bank milik Drei.
Dengan langkah berat, aku menuju balkon untuk mengambil handuk. Saat itu aku melihat mobil Drei melaju meninggalkan tempat parkir. Entah mengapa, aku merasa ditinggalkan.
Di kamar mandi, aku menangis untuk sesuatu yang aku sendiri merasa absurd.
Saat berjalan pulang dari lab tadi, aku berniat akan mengerjakan laporan praktikum yang tertunda, setelah makan malam. Namun ternyata saat ini aku tidak merasa lapar, juga keinginan belajar telah terbang. Aku memutuskan untuk tidur saja.
Baru saja mengklik tombol lampu tidur, pintu kamarku diketuk dengan keras.
"Siapa?"
"Tolong buka pintu, Jihan. Ini penting." Suara Drei.
"Ya, Drei?" Aku berdiri di ambang pintu.
Lelaki itu mendorongku pelan agar tidak menghalanginya menerobos masuk, lalu dengan sekali sepak, dia menutup pintu.
"Aku sudah sampai di University Avenue, tetapi memutuskan untuk kembali ke sini. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu sejak berminggu-minggu lalu. Namun, jujur, aku sempat merasa takut."
"Apa?" Tidak banyak hal yang kutahu membuat sahabatku ini takut.
"Ng... Begini, Jihan." Drei tampak bimbang sesaat. Lalu sorot matanya bersinar lemah seolah pasrah. "Kupikir aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu."
"Kenapa, Drei? Pacarmu melarangmu? Kau bilang kau sudah putus dari Grace. Kalian balik lagi? Atau pacar barumu lainnya? Nath kah?" Tanyaku dengan suara getas. Andai Drei mengatakan hal ini sebulan lalu, aku yakin tidak akan sesakit yang kurasakan sekarang.
Betapa sedihnya aku harus melepas harapan yang baru saja berani kuangankan.
Air mataku pun bercucuran. Tak bisa disembunyikan lagi.
Drei mengulurkan tangannya mencoba memelukku. Namun aku bergerak menjauh.
"Seharusnya kau tidak usah datang lagi ke sini, Drei, " dengan susah payah kutahan isakku. "Di balkon tadi saat melihat mobilmu pergi, aku sudah merasa akan kau tinggalkan. Seharusnya kau menghilang saja atau menjauhiku, tanpa mengucapkan apa-apa, Drei?"
"Maafkan aku, Jihan. Aku tidak ingin melukaimu. Tetapi aku harus jujur," sekali lagi Drei berusaha meraihku. Aku kembali mundur dari jangkauannya. Aku tentu tidak ingin berada dalam pelukannya sementara hatiku berdarah-darah. "Menurut pendapatmu, apakah memungkinkan kita terus bersahabat, jika ternyata aku jatuh cinta padamu?"
Aku terbelalak. "Bagaimana mungkin?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kau yakin, Drei?"
"Aku menyadari, perasaanku kini telah berbeda padamu. Ada keinginan yang berbeda terhadapmu. Aku bukan hanya ingin bisa berdekatan denganmu. Tetapi aku ingin semua perhatianmu untukku. Aku inginkan seluruh waktu luangmu. Aku ingin kau menjadi milikku, Jihan. Perasaan yang kurasakan kini lebih egois dari biasanya."
Aku terdiam. Dia terdiam.
Dari luar kamar terdengar teriakan, gelak tawa, dan dengungan orang-orang ngobrol. Suara-suara khas yang selalu terdengar di asrama. Riuh. Tetapi suara-suara itu hanya lewat sambil lalu di gendang telingaku.
Entah berapa menit kami habiskan berdiam diri. Berdiri berhadap-hadapan tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun.
Aku tidak berani bersuara, karena aku takut jika aku merespon ucapannya, tiba-tiba saja ia berseru: "It's a Prank!"
"Drei, ini bulan apa?" suaraku jelas terdengar tercekat.
"Maret."
"Ah, beberapa hari lagi April ya?"
"Kau mengira jika yang kukatakan tadi adalah bagian dari April Fools?"
"Iya, kan?"
"Bukan."
"Serius?"
"Seserius aku mengerjakan proyek Hoover-ku."
Aku tahu bagaimana jungkir baliknya upaya yang Drei lakukan agar prototipe Hoover yang ia buat, diterima oleh NASA.
"Baiklah. Lalu jawaban apa yang kau harapkan?"
"Oh, Jihan... "Drei menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka ada kentang yang bisa diterima kuliah doktoral di universitas ini."
Aku tergelak. Kami biasa mengolok seorang mahasiswa bebal dengan julukan Potato Head
Aku menghembuskan napas. Lega karena perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.
"Ya, Drei. Aku pun mencintaimu. Cinta dan yang berbeda dari cinta terhadap seorang sahabat." Aku kaget sendiri dengan nada kalimat tegas yang kuucapkan. Ingin rasanya aku menoyor kepalaku sendiri. Tahan diri, dong Jihan!
Kali ini aku tidak menolak uluran tangan Drei. Kubiarkan tubuhku dipeluknya. Bertahun-tahun kami lewati waktu bersama, belum pernah Drei mendekapku seperti ini. Seolah ia ingin membenamkan tubuhku ke dalam dadanya.
"Boleh aku menciummu?" bisik Drei.
Tak perlu aku mengangguk. Aku mendongak dan memejamkan mata. Mencicipi madu yang ditawarkan melalui pagutan bibir Drei. Saat kubalas ciumannya, dengan segera aku melupakan tempatku berpijak. Seumur hidup aku belum pernah mabuk, mungkin seperti ini rasanya.
Logikaku terbang menjauh. Kepalaku terasa ringan, ketika perlahan darah yang mengalir di pembuluhku mulai menghangat. Aku menginginkan lebih dari sekedar ciuman Drei. Aku menginginkan Drei. Aku menghirup dalam-dalam aroma Bleu de Chanel dari leher dan dada lelaki itu. Aku nyaris terkapar dalam mabukku. Siap memberikan segalanya.
Aku merasa terhempas ketika Drei melepaskan pelukannya, lalu menjauh. Aku mendesah protes.
"Jangan cemberut begitu, Sayang. 5 detik lagi kita masih berciuman, mungkin aku akan mulai melolosi pakaianmu. Lalu mungkin kita akan bercinta. Tetapi aku tidak akan melakukannya padamu. Tidak."
"Kenapa? Apa karena aku tidak seseksi para mantan pacarmu sehingga kau tidak menghendakiku? Apakah aku..."
"Ssst... Tolonglah berbaik hati sedikit padaku, Jihan. Jangan membahas mereka. Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Kehidupan kita akan kita susun mulai malam ini dan seterusnya. Entah sampai kapan. Aku berniat menjadikanmu istriku. Kita akan membahasnya setelah aku pulang dari tugasku di Laut Hitam. Oke, Sayang?"
Aku mengangguk karena otak memberi perintah ke kepalaku untuk mengangguk.
Drei bangkit dari duduknya, mengecup pipiku, lalu melangkah keluar dari kamarku. Baru selangkah melewati ambang pintu, dia berbalik.
"Kau lapar?"
"Iya. Aku belum sempat makan, tadi."
"Yuk, ke The Oasis."
"Di Lake Travis? Jauh, Drei. Kan katamu kau harus bersiap-siap akan berangkat besok subuh."
"Aku mengambil resiko begadang malam ini. Ayolah..."
"Aku ganti baju dulu."
"Oke. Kutunggu di mobil."
—-
The Oasis adalah restoran masakan Texas Mexico yang berada di perbukitan, menghadap Danau Travis. Di restoran ini kita bisa mendapatkan pemandangan terbaik saat matahari terbenam.
Kami memilih duduk di balkon. Walau pemandangan yang kami dapatkan malam itu hanya gelapnya danau Travis, dan langit Austin di ujung musim semi.
Kusesap Apple Sunset, sari buah apel bercampur strawberry. Rasa manis asamnya tiba-tiba membuat otakku terang. Tanpa bisa kucegah, aku tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa?" tanya Drei menatapku dengan mimik waswas.
"Sialan kau, Drei!" Kupukul lengan lelaki itu keras-keras
"Kenapa?" dia penasaran.
"Di kamarku tadi, aku nyaris hilang kendali. Ah, kau!" Sungguh, aku tertawa begini untuk menutupi rasa maluku.
"Nyaris?" Drei mencibir. "Untung itu aku, Jihan. Kalau lelaki lain..."
"Yah... Kau baik padaku, Drei." Aku menepuk-nepuk tangannya. "Kau memang lelaki yang baik."
"Itulah kalau terlalu lama menjomblo, Jihan. Kau kurang belaian."
"Berengsek!" Aku menginjak kakinya di bawah meja.
"Aduh! Baru satu jam menjadi pacarku, kau telah 2 kali melakukan kekerasan. Dan entah sudah berapa kali kau memakiku. Ckckck... pacar model apa begini ini? Ngga ada sopan-sopannya."
Aku tidak tersinggung oleh kalimat Drei. Aku sudah cukup lama mengenal manusia ini, sehingga cukup tebal kuping terhadap segala kritiknya.
"Kau tahu kan Drei, kalau selain padamu aku itu perempuan yang lembut, ramah, baik hati, tidak kasar..."
"Rajin menabung, gemar menolong, dan selalu ingat janji pramuka," sambungnya.
"Iya. Aku begitu."
Kami tertawa berderai. Entah mengapa, kurasakan malam ini adalah malam terindah semenjak aku menginjakan kaki di bumi para cowboy ini.
Langit di atas danau yang begitu pekat, justru menampilkan keindahan gemerlap bintang di malam itu.
"Drei, memandang langit malam ini, membuat aku teringat salah satu episode kehidupanku."
Drei menatapku lekat. Ekspresinya menunjukkan ia siap mendengarkan.
"Aku pernah berada di suatu masa, dimana setiap malam aku begitu berharap bintang dan bulan datang bersinar terang seperti malam ini."
"Kenapa begitu?"
"Saat itu keluargaku tinggal di pedalaman Kalimantan. Tidak ada listrik. Kami tidak mungkin menyalakan api dengan obor di dalam rumah, karena seluruh bagian rumah kecuali atap, terbuat dari kayu, sehingga kami takut jika jilatan api obor yang melenggak-lenggok sesuka arah angin, malah melalap tiang-tiang rumah. Namun kami juga tidak bisa memakai lampu templok. Saat itu Ibu merasa minyak tanah untuk bahan bakar lampu, terlalu mahal buat kami."
"Oh."
Hanya itu tanggapannya. Aku tidak tahu apakah ia bisa membayangkan kondisi yang aku ceritakan. Aku paham jika ia kesulitan memahami hal tersebut, karena sepanjang hidupnya ia berkelimpahan listrik sebagai sumber energi penerangan.
"Tetapi ada juga episode di hidupku, dimana aku bertahun-tahun abai pada cahaya dari langit malam. Kalaupun aku mengagumi purnama, bukan karena pendaran cahaya darinya. Tetapi karena aku merasa 'harus' kagum saja. Seolah, sepantasnyalah aku harus mengagumi ciptaan Illahi itu. Padahal cahaya rembulan yang kukenal kini, telah terkalahkan oleh sinar ribuan lampu warna-warni metropolitan tempatku tinggal," lanjutku.
"Kalau begitu, episode hidupmu lengkap. Dari hidup tanpa listrik, menjadi, yah, kau nyaris tergantung pada listrik kan sekarang."
Ia menatapku sekilas dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Karena wajahnya tertutup oleh bayang-bayang fasad bangunan restoran. Tetapi aku tahu dari nada suaranya, ia sedang tersenyum.
Aku menggeleng.
"Aku memang pernah mendiami rumah di tengah hutan. Ah, hanya hitungan bulan, sebenarnya. Tetapi episode itu membuatku agar selalu ingat untuk tetap menjejak tanah, ketika mataku menatap terkagum-kagum pada pendar cahaya di New York, London, Tokyo, atau kota kosmopolitan lainnya. Agar aku selalu ingat, bahwa aku dari gelap, untuk nanti kembali menuju gelap. Saat aku mencapai titik itulah, barulah episode hidupku paripurna."
"Hm, sebaiknya aku mulai makan dulu. Kalau kau sudah mulai berfilosofi, aku akan membutuhkan energi banyak untuk memahami kalimat-kalimatmu," Drei mulai menyuap Grande Oasisnya. Campuran Angus Ribeye panggang dan udang yang diolah dengan berbagai bumbu yang tak kukenal namanya.
"Koq kau bisa nyasar mempelajari Aerospace Engineering, sih, Drei? Teknik Kimia belum cukup membuatmu pusing, ya?" Pertanyaan yang sebenarnya bertujuan untuk mengalihkan otakku agar tidak mengirimkan sinyal rasa mual setiap kali mencium aroma dari piring di hadapanku. Aku memesan Tilapia del Mar. Nasi campur ikan, udang, kerang dan sayuran. Aku harus menambahkan banyak saos sambal agar rasa amisnya tertutupi. Diam-diam aku menyesal telah memesan makanan ini, hanya gara-gara ada tulisan 'rice' sebagai keterangannya.
"Ada satu episode hidupku dimana belajar dan belajar adalah cara pelarianku," jawab Drei
"Kau sebegitu patah hatinya ya, saat itu?"
"Bisa dikatakan begitu. Tapi tolong jangan lagi dibahas, ya. Aku menikmati hidupku yang sekarang."
"Baiklah," aku mengangguk paham. Aku pun punya beberapa hal yang tidak pernah kulupakan, tetapi tidak suka jika harus mengenangnya kembali.
Kehabisan bahan obrolan aku menatap langit kembali. Ada satu bagian langit berwarna lebih merah.
"Drei, kau lihat, bukankah di langit sebelah sana sedang turun hujan?"
"Kemungkinan begitu."
"Kalau di sebelah sana sedang hujan, sedangkan di bagian ini penuh cahaya bulan dan gemintang, mestinya akan muncul pelangi."
"Ji..haaan... Aku tidak perlu kan memberimu kuliah tambahan tentang spektrum warna?" Drei menatapku dengan mimik seorang dosen terhadap mahasiswa yang sok tahu.
"Drei, pernahkah kau melihat-lihat di toko online yang menjual pakaian perempuan? Di situ sering ada palet warna untuk menunjukkan perbedaan gradasi warna baju yang mereka jual. Kau tahu ngga, untuk merah saja, ada 24 jenis warna?"
Drei menatapku dengan binar seolah dia akhirnya tahu, ternyata aku adalah perempuan yang senang berbelanja.
"Nah, aku tahu bahwa cahaya putih yang kita lihat saat hari terang, sesungguhnya terdiri dari warna merah, jingga, kuning, dan seterusnya itu, yang membentuk pelangi. Lalu warna hitam yang kita lihat ketika gelap, bisa saja kan sesungguhnya terdiri dari spektrum warna juga? Abu-abu seulas, abu-abu muda, abu-abu tua, hitam seulas, hitam muda, hitam tua," kataku berargumen.
Drei terbahak. "Hitam muda kalau tidak salah kita menyebutnya abu-abu, Sayang."
"Ah, kau berarti belum pernah melihat palet warna di toko online, Drei. Tiap tingkatan warna, ada namanya sendiri-sendiri."
"Baiklah. Seorang peneliti memang harus berpikir out of the box, Honey. Kau akan menyebut apa pelangimu itu?"
Aku mengangkat bahu, "Pelangi Hitam, mungkin."
Drei mengangkat alis, lalu mengangguk takzim.
"Pelangi Hitam. Hm, kau harus mulai memikirkan untuk mengurus patennya, Jihan."

0 komentar:

Post a Comment

 
;