Monday, September 2, 2019

Pelangi Hitam (Bagian 3)

Malam itu Drei mengantarku ke asrama selepas lewat tengah malam. Pintu masuk asrama sudah dikunci, karena jam malam adalah pukul 12 tepat.

Aku harus membunyikan bel agar petugas keamanan membukakan pintu. Sayangnya malam itu Sweet Johnny yang menyambut kami, lengkap dengan omelan, "Aku tidak peduli andai kau pergi dengan rektor sekalipun, Jihan! Peraturan adalah peraturan! Kau harus menghadap ke kantorku besok pukul 7 pagi tepat, untuk mendapatkan detensimu!"

Drei menatapku dengan pandangan meminta maaf.

Bukan baru sekali itu Drei pergi berhari-hari. Malah nyaris tiap dua pekan, ada saja 3-4 hari dia tidak muncul di kantornya. Dulu aku tidak terlalu kehilangan. Namun saat ini perasaanku telah berbeda padanya. Aku menjalani jam-jam kuliah dengan terselip rasa hampa karena menyadari Drei begitu jauh.

Ah, aku rindu lelaki itu.

Beruntung rinduku tidak bertepuk sebelah tangan. Tiap malam Drei menelponku. Kami ngobrol berpuluh menit tentang berbagai hal hingga jauh malam. Kadangkala aku merasa geli sendiri, ketika menyadari kami bagai sepasang remaja belasan tahun yang tengah jatuh cinta.

Tiap malam pula, di sela percakapan kami, aku dan Drei menghitung mundur kapan saat ia akan pulang. Di hari ke-16 dia mengabarkan bahwa seluruh pekerjaan telah selesai. Besok pagi Drei dan timnya akan menuju Moscow. Untuk kemudian terbang ke kota kami.

"Bersedia menjemput aku di Bandara, Sayang? Aku mendarat hari Rabu sekitar pukul satu siang," kalimat Drei terdengar penuh harap.

Tetapi kadung ada tugas yang sulit kubatalkan, "Aduh, Drei. Bukan aku tidak rindu padamu. Di hari Rabu aku ada jadwal asistensi. Kali ini aku enggak bisa membolos, karena Prof Sentis sudah mewanti-wanti agar aku hadir menggantikan dia."

"Baiklah. Jam berapa kau kelar asistensi?"

"Jam tiga."

"Kalau begitu, kujemput kamu ke asrama hari Rabu pukul tujuh malam, ya?" Belum-belum aku sudah tersenyum lebar membayangkan ia akan datang menjemput. "Kita makan malam?"

"Ok!" Sudah pasti aku setuju.

Hari Selasa jam 2 petang waktu Moscow, Drei mengirim pesan bahwa sebentar lagi pesawat mereka akan take-off dari Bandara Sheremetyevo, untuk kemudian transit di Bandara JFK, New York. Sebelum melanjutkan terbang ke Austin.

Saat transit 3 jam di Bandara JFK, Drei menelponku lagi dan kami mengobrol cukup panjang. Dia banyak merencanakan ini-itu. Termasuk keinginannya mengubah dapur dan kamar tidur, jika nanti aku pindah ke rumahnya. Begitu banyak impian-impian yang kami bagikan diantara candaan dan obrolan mesra kami.

Hari Rabu, sejak pagi aku sudah tidak berkonsentrasi saat mengerjakan tugas kuliahku. Saat hari beranjak siang, dadaku kian berdebar. Anganku sudah kemana-mana membayangkan apa yang akan kami lakukan saat nanti bertemu.

Hari makin sore, aku makin gelisah. Dalam setengah jam, aku berkali-kali melirik ke jam dinding. Kurasakan betapa jarum-jarum di alat bundar itu terasa begitu lambat bergerak.

Jam 3 tepat, aku membubarkan kelas. Dengan tergesa kurapikan laptop dan materi ajarku. Tidak seperti biasa, petang itu aku tidak memenuhi ajakan diskusi dari para mahasiswa. Sebelum mahasiswa terakhir meninggalkan kelas, aku telah lebih dulu bergegas pulang ke asrama.

Menjelang pukul 6, aku mandi, mencuci rambut, dan memakai baju yang baru kubeli kemarin malam khusus menyambut kedatangan Drei nanti. Aku pun berusaha dandan secantik mungkin. Khusus untuk malam ini.

Drei kukenal nyaris selalu tepat waktu. Jika lalu lintas tidak benar-benar macet parah di luar kebiasaan, dia tidak pernah terlambat. Maka jam 7 kurang 5 menit, aku telah menantinya di ruang tamu asrama.

Melihat tampilanku dengan dandanan yang tidak biasa, beberapa teman asrama mengolokku, yang kutanggapi dengan santai. Bahkan aku ikut tertawa bersama mereka.

Jam 7 tepat, jantungku berdebar keras. Ya ampun, saat pertama kali diapeli pacar pertamaku dulu saja, aku tidak begini gugupnya.

Jam 7 lewat 5, mobil Drei belum terdengar memasuki halaman parkir asrama.

Jam 7 lewat 10, dering bel tanda ada tamu asrama berbunyi. Lalu terdengar petugas jaga memanggil sebuah nama yang mendapat kunjungan tersebut. Tetapi bukan namaku.

Jam setengah 8, Drei belum juga datang. Aku mulai cemas. Aku bolak-balik antara kursi tamu, ke taman di depan asrama, hingga ke lapangan parkir.

Jam 8, Drei belum muncul juga. Mungkin sudah seratus kali aku mengecek aplikasi pesan di ponselku. Tetapi aku masih gengsi untuk menelponnya.

Jam setengah 9, perasaanku berubah menjadi cemas. Apakah Drei telah mendarat dengan selamat di Bandara Bergstorm tadi? Memang setelah menelponku ketika ia masih di JFK, Drei tidak menelponku lagi. Tetapi sampai saat ini tidak ada berita pesawat kecelakaan. Kalaupun pesawatnya delay, Drei pasti mengabariku.

Aku memutuskan menelponnya.

Setelah tiga detik menunggu, terdengar nada sambung. Namun hingga rekaman suara Drei di mesin penjawab bersuara, panggilanku tidak dijawabnya. Aku menelponnya tiga kali lagi, yang juga tidak terjawab.

Aku pun menelpon James, teman satu tim penelitian Drei. James mengatakan bahwa ia pulang lebih dulu karena bagasinya keluar lebih dulu serta istrinya telah menanti di ruang tunggu.

Syukurlah, berarti Drei telah mendarat di Bergstorm dengan selamat.

Aku menelpon ke nomor telepon rumah Drei, masih juga tidak terjawab.

Apakah Drei ketiduran?

Hingga jam 11 malam tepat, lelaki itu tidak muncul di asramaku. Aku pun melepas gaun dan menghapus make up-ku dengan perasaan sedih.

Pagi hari pukul 8, aku mendatangi kantor Drei. Tetapi Mrs Pat, sekretarisnya, mengatakan Drei belum datang. Sebenarnya aku ingin menitip pesan pada Mrs. Pat, tetapi aku malu.

Kemarin seharian aku gelisah, karena penuh harap. Hari ini aku pun gelisah seharian karena cemas.
Hari Kamis aku menelpon Drei lebih dari 5 kali, -walau aku ingin menelponnya 100 kali- yang semuanya tidak dijawabnya.

Hari Jum'at dan Sabtu, Drei tidak juga bisa kuhubungi. Dia pun tidak datang ke kantor selama 3 hari itu.

Hari Minggu, aku mendatangi rumah Drei. Aku khawatir ia sakit parah, namun tidak ada yang tahu. Karena sekian tahun aku mengenalnya, belum pernah lelaki itu melakukan hal seperti ini.

Tetapi rumah itu kosong.

Hari Senin, Pat mengatakan padaku bahwa ia ditelepon Drei. Atasannya itu mengabarkan bahwa ia baik-baik saja, hanya ia perlu mengajukan cuti beberapa hari.

Selasa, Rabu, hingga Minggu siang berikutnya, Drei masih menghilang dariku.

Minggu pukul 3 sore, ponselku berbunyi. Panggilan dari Drei.

Aku menjawab panggilan teleponnya dengan gegap gempita.

Ketika mendengar suaranya menyapaku dari seberang sana, aku yang ingin memakinya karena telah membuat aku cemas, takut, sedih dan segala perasaan lain, malah menangis.

Tak ada sepatah kata pun yang bisa kuucapkan.

"Maafkan aku, Jihan. Aku tahu tangisanmu ini sebetulnya karena kemarahanmu padaku sudah tak tertahankan. Maafkan aku."

Aku masih saja terisak.

"Aku memang teramat sangat bersalah padamu, Jihan. Kalau masih boleh meminta, yang sesungguhnya aku merasa malu memintanya padamu, tolong temuin aku di The Oasis jam 5 ya? Please, Jihan. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."

"Baiklah."
Walau marah dan kecewa, aku gembira dengan ajakannya bertemu.
Aduh, perasaanku kenapa jadi begini rumit?

Aku sengaja berangkat agak terlambat. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.15, Drei menelponku. Aku menjawabnya melalui SMS, "Tunggu saja. Aku akan datang."

Aku datang ketika jarum jam menunjukkan nyaris pukul setengah 7. Aku memang ingin membuatnya menunggu. Toh, tidak sampai berhari-hari, seperti yang telah dilakukannya padaku.

Begitu melihat sosok Drei duduk di sudut yang kami tempati pada kedatangan kami kemari sebulan lalu, kemarahanku luluh. Ingin rasanya aku terbang ke pelukannya.

Aku rindu berat padamu, tahu!

Tetapi betapa terkejutnya aku ketika dari jarak aku mulai bisa menatap wajah Drei, tampak hal yang tidak biasa: Apa yang telah terjadi pada lelaki kesayanganku ini?

Wajah Drei bukan saja kehilangan cahaya. Bayang-bayang hitam melingkari matanya dan binarnya meredup. Kumis dan cambang yang biasa tercukur rapi, kini tumbuh memanjang, membuat wajahnya makin tampak kacau-balau tak terawat.

Ia berdiri dari duduknya ketika melihat aku mendekat. Tangannya mengembang seolah siap memelukku, namun buru-buru dia berubah sikap. Senyum di bibir berkumisnya, tidak sampai ke mata pria yang biasanya seperti memiliki kejoranya sendiri.

"Kamu kenapa?" tanyaku begitu berdiri di hadapannya.

"Duduklah dulu, Jihan. Kau mau pesan minum apa?"
Drei melambaikan tangan pada pelayan agar mendekat.

"Apa saja!" Sentakku. Kekesalanku padanya bangkit. "Tahu kah kau aku berhari-hari susah makan dan minum karena mengkhawatirkanmu, Drei?"

Drei nampak salah tingkah karena aku memarahinya di depan pelayan. Setelah memesan dua minuman, Drei mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak menepisnya karena tidak ingin membuatnya malu lagi, walau sebenarnya aku ingin.

"Rasanya sejuta kali meminta maaf tidak akan bisa menebus kesalahanku padamu, Jihan," Drei menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. "Jujur, aku takut berterus terang padamu. Tetapi cepat atau lambat, aku tetap harus mengatakan hal yang sebenarnya."

"Baik. Katakanlah. Aku siap mendengarkannya."

Drei terus menggenggam tanganku ketika dia menjelaskan penyebab segala tingkah lakunya yang telah menyakitiku.

Semula kukira kepedihan yang kurasakan kemarin, akan terobati petang ini. Tetapi mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya, aku merasa telah menelan empedu.

Aku bingung harus bersikap bagaimana. Bahkan menangis pun tidak mampu kulakukan. Aku hanya terpaku menatap wajah Drei yang kian keruh karena kepedihan yang sama.

"Kau yakin, Drei?"

"Aku telah meminta dua dokter berbeda untuk melakukan pemeriksaan. Dan hasilnya sama saja, Jihan."

"Oh, Drei..."

"Maafkan aku, Jihan."

"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, Drei."

Lalu kami berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Tak bersuara dan hanya diam memandangi gelas masing-masing. Walau begitu banyak kata-kata yang ingin kukatakan, tapi tak ada kalimat yang mampu terucap. Aku malah duduk gelisah di depan Drei.

Hingga kuputuskan aku tidak sanggup lagi berada dalam situasi itu.
"Aku pulang, Drei." Aku berdiri dari dudukku. Drei ikut berdiri.

"Aku antar..."

Aku menggeleng. Menatap sedih pada wajah sahabat sekaligus lelaki yang kucintai ini.
"Kau perlu beristirahat, Drei. Kau kacau sekali."

Aku pun meninggalkan The Oasis. Kurasakan tatapan Drei di punggungku. Aku tidak berani menoleh. Karena kuyakin, jika aku melakukan hal itu, tangisku akan meledak.

Biarlah Drei melihatku seperti ini. Seolah aku kuat bagai baja di matanya.

Hari ini adalah hari Sabtu siang yang sedikit mendung di awal musim gugur. Mobil sedan mewah yang kusewa memasuki taman Legend Oak Park Country Club. Dengan rias wajah dan pakaian yang kupakai saat ini, aku merasa menjadi perempuan tercantik.

Aku melangkah melewati rangkaian bunga putih yang dijalin menjadi lengkungan indah sebagai pintu masuk menuju sebuah acara sakral. Rangkaian berbagai warna lainnya bertebaran dengan artistik di seluruh area acara. Ada beberapa tenda dengan kursi-kursi dan meja penuh hidangan di atasnya.

Di ujung lajur bebatuan putih, kulihat Drei ditemani ayahnya, berdiri tegap mengenakan jas yang juga berwarna putih. Ia tersenyum saat melihatku datang. Matanya mengunci mataku. Ah, betapa tampannya dia!

Lalu sebuah lagu yang dimainkan oleh piano pun mengalun. Aku ingin menangis mendengar lagu itu, namun kutahan. Sebagai gantinya, kuukir senyum semanis mungkin di bibirku.

Musikpun kini berhenti mengalun.

Setelah beberapa kalimat yang menegaskan identitas calon pengantin, pastor berucap dengan tegas, "Apakah kau, Andrea Joseph Ferrour, bersedia menerima...."

Wahai!
Aku akan senang sekali andai saat ini aku menjadi tuli dan buta!

Harapan yang sama yang kuinginkan saat di The Oasis, ketika Drei menceritakan apa yang telah terjadi di hari kepulangannya dari Rusia.

Alih-alih mendapati aku yang menjemputnya di pintu keluar kedatangan penumpang, Drei ternyata telah ditunggu oleh Grace, yang siap membawa berita besarnya.

Perempuan itu mengaku telah hamil 3 bulan oleh benih Drei.

"Aku tidak ingin anak itu terlahir di luar nikah, Jihan," ucap Drei dalam nada merintih. "Maka aku harus secepatnya menikahinya."

Tanpa melalui fase patah, hatiku langsung berkeping-keping. Aku mengenal Drei. Dia akan melakukan keputusan itu, walau mungkin juga menyakiti hatinya.

"Kau yakin dia bayimu, Drei? Bagaimana kalau bukan?"

"Sayangnya aku baru bisa membuktikan saat bayi itu lahir. Jika nanti ternyata dia bukan darah dagingku, aku akan langsung menceraikan Grace, Jihan."

"Tidak akan semudah itu, Drei. Kalian akan melewati proses panjang. Apalagi jika nanti Grace menolak bercerai darimu."

"Aku sudah bicarakan hal ini pada Grace. Dan dia setuju," balas Drei ngeyel.

"Oke. Katamu Grace setuju nanti bercerai darimu, lalu apa manfaatnya bagiku? Kau kan telah terlanjur meninggalkanku, Drei," aku membuang muka menatap ke permukaan air danau yang kini memerah jingga akibat pantulan sinar matahari saat akan tenggelam. Sebetulnya indah. Namun mata, hati dan jiwaku sedang tidak bisa menangkap keindahan. Aku terlalu terluka.

"Kalau kau bersedia, mau kah kau menungguku hingga saat itu datang?"

Ingin rasanya wajah tampan lelaki itu kulempar dengan gelas juice. Bagaimana dia bisa berpikiran begitu?

"Ya. Ya. Kau tentu tidak sebodoh itu, Jihan," lanjut Drei. Dia tahu juga isi pikiranku.

"Ya. Jika bayi itu nanti ternyata benar anakmu, maka penantianku akan menjadi sia-sia bukan?"

Maka dengan kepala yang berusaha kuangkat tegak tinggi-tinggi. Aku meninggalkan restoran The Oasis. Meninggalkan Drei.

Seminggu kemudian Drei membagikan undangan ke beberapa orang staf kampus. Segera saja berita itu menjadi heboh. Terutama bagi Kate, Reba, Bastian dan teman satu Lab-ku lainnya.

"Kau harus datang ke acara itu, Jihan!" Kate tampak berapi-api.

"Dengan kepala tegak dan bibir tersenyum. Awas! Pantang menangis kau nanti!" Ancam Reba.

"Kau harus membuat Drei menyesal memilih belatung itu, Jihan! Kau harus tampil cantik di hari itu. Aku akan membelikan kau gaun yang pantas." Oh, Reba!

Dengan bantuan mereka, aku pun berangkat ke acara pernikahan Drei dengan Grace, dengan kemewahan yang tidak bisa kubayar dengan uang beasiswaku. Make up yang dipulaskan Kate ke wajahku, membuatku sayang jika sampai merusaknya dengan air mata. Maka sekuat mungkin aku menahan aliran air dari indra penglihatanku, mengalir. Aku pun menebar senyum, seolah aku turut berbahagia.

Tapi aku tidak bisa membohongi sakit dan perih yang kurasakan di dadaku hingga rasanya sesak, saat aku menyaksikan di ujung sana Drei mencium Grace sebagai tanda bahwa mereka telah sah sebagai suami-istri.

Aku lebih baik buta!.

"Ma, ma, gerimis," bisik suara merdu dari seorang anak berpita kuning muda, yang duduk di kursi di depanku. 

"Tidak apa, Sayang, kan kita berada di dalam tenda. Jadi tidak kebasahan," jawab perempuan yang dipanggil mama oleh anak perempuan itu.

"Eh, tapi Ma, itu ada pelangi!" tangan mungilnya yang putih menunjuk ke satu arah.

"Oh, iya. Cantik ya, pelanginya?" Timpal si Mama.

Aku pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk.
"Aku tidak melihat apa-apa," aku berbisik ke anak perempuan. "Bisakah kau tunjukkan di mana pelanginya?"

"Ikuti arah jariku. Nah, luruuuus... Di situ ada pelanginya."

Aku menajamkan mataku, hingga aku berkerenyit, melihat ke arah yang ditunjuk.
Oh, ya. Aku melihat lengkungan itu. Tetapi tidak ada paduan indah pulasan warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila dan ungu.

“Aduhai hatiku. Demikian terlukanyakah hingga tiba-tiba kau tumpul pada keindahan?” Bisikku pada diriku sendiri. Karena yang kulihat di horizon sana, hanya gradasi abu-abu dan hitam membentuk lengkungan tak sempurna.

0 komentar:

Post a Comment

 
;