Tuesday, October 8, 2019

Pecel Ayam

#Fiksi_Schatzi

Terik sang surya perlahan maherat. Puncak kepalaku yang terpanggang panas matahari seharian, berdenyut-denyut. Aku haus dan lapar.

Perlahan aku beringsut dari satu mobil ke mobil berikutnya yang sedang mengantri mengisi bahan bakar. Tanganku terulur memamerkan kaligrafi sederhana kepada para pengemudi. Sudah seminggu ini tidak ada satu pun daganganku ini  laku terjual. Walau setiap kali aku mendapat gelengan kepala atau tatapan acuh, aku masih terus tersenyum saat menawarkan kaligrafi-kaligrafi itu ke pengemudi mobil berikutnya. 

Nyanyian di perutku kian nyaring saat hari kian menggelap. Begitu pun, kuabaikan rasa perih di lambungku. Toh, aku telah terbiasa berpuasa berhari-hari. Tapi aku teringat Saijah, istriku, yang terbaring lemah di atas kasur karena diabetes yang dideritanya. Kata dokter di Puskes, Saijah mestinya disuntik sehari tiga kali sebelum makan. Hanya saja, jangankan uang untuk membeli obat suntik, hari ini kami tidak punya uang untuk membeli beras walau hanya setengah liter..

Bagi Saijah, makan atau tidak makan sama-sama membuatnya menderita. Hanya kekuasaan Sang Maha Pencipta yang membuat ia tetap bernapas di tengah ketidakberdayaannya. Mungkin karena Tuhan menginginkan ada seseorang yang menemani hidupku.

Jika tidak ada Saijah, mungkin aku tidak akan setabah ini menjalani hari-hari terpanggang dalam panasnya kota. Tanpa harapan kehidupan kami akan berubah. Saijah dan senyum lemahnya yang membuatku bersemangat setiap pagi datang, karena kutahu ia percaya padaku. Kesabaran Saijah yang menyebabkanku kuat menerima garis hidup yang nyaris setiap hari harus kulewati dalam keadaan lapar.

Adzan maghrib telah lama selesai berkumandang. Aku keluar dari mushalla kecil di sudut SPBU untuk kembali mengembangkan kemungkinan akan membawa pulang sepuluh-duapuluh ribu rupiah.

Antrian mobil di SPBU tidak lagi sebanyak tadi petang. Maka aku beringsut ke trotoar. Menawarkan dagangan pada orang-orang yang lalu lalang.

Walau berharap, aku tidak kecewa ketika nyaris semua pejalan kaki menggeleng. Hingga kulihat sepasang lelaki dan perempuan berjalan ke arahku.
Aku menatap tepat ke mata si lelaki. Biru, seperti langit yang cerah. Aku tersenyum. Dia pun membalas senyumku.
“Ayat Kursi, Mister,” kataku sambil menyodorkan kaligrafi bertuliskan Ayat Kursi ke hadapannya.

“Ha?”

Lelaki itu tampak tidak paham pada kalimat tawaranku. Aku makin mendekatkan salah satu kaligrafiku. Menunjukkan hurup-hurup ayat Al quran itu padanya.

“Berapa?” tanya perempuan di sisinya. Orang Indonesia.

“Dua puluh lima ribu, Bu.”

Andai dia menawar sepuluh ribu pun aku akan melepas barang itu. Aku butuh uang untuk membeli nasi buat istriku.

Lelaki dan perempuan itu berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Lalu kulihat si lelaki merogoh saku celananya, dan menyerahkan selembar uang kertas kepada perempuan sambil mengatakan sesuatu. Uang itu kemudian diteruskan kepadaku.

“Kami beli satu, ya, Pak.”

Aku ragu saat melihat uang kertas berwarna merah yang sekarang berada dalam genggamanku.
“Tidak ada kembaliannya, Bu.”

“Tidak usah. Buat Bapak saja.”

“Beneran, Bu?” aku memandang kepada si perempuan lalu ke lelaki di sebelahnya, yang mengangguk dan tersenyum. Refleks kusalami dan kucium punggung tangan lelaki itu sebagai ungkapan syukurku. Dengan uang itu, besok pagi, Saijah bisa ke Puskes, dan kami punya uang untuk beli nasi untuk 2 hari.
Setelah menerima sebuah kaligrafi yang kubungkus dengan kresek hitam, mereka pun berlalu dari hadapanku.

Hatiku menyuruhku cepat-cepat pulang. Tetapi entah mengapa kakiku seolah malas melangkah. Aku masih berdiri di tepi trotoar. Mencoba menawarkan kaligrafi-kaligrafi tersisa kepada orang lain lagi. Berharap masih ada yang mau membeli.

Hingga kemudian, aku melihat lagi sepasang manusia tadi datang kembali menujuku dari arah berbeda. Tampaknya mereka dari minimarket, karena kedua tangan si lelaki menjinjing beberapa kantong plastik berlogo.

Aku sedikit terkejut ketika melewatiku, mereka tersenyum dan mengangguk menyapa. Jarang aku diperlakukan seramah itu. Pandanganku mengikuti punggung mereka. 

Di depan sebuah tenda penjual makanan kaki lima, mereka berhenti dan tampak berbicara. Lalu sekali lagi, si perempuan mendekatiku.
“Bapak sudah makan?”

Aku terdiam. Apa maksudnya?

“Kalau belum makan, yuk, makan dengan kami di situ,” ditunjuknya sebuah warung tenda makanan yang didirikan di trotoar tak jauh dari tempatku berdiri.

“Engga usah repot-repot, Bu. Terima kasih,” tentu saja aku berbasa-basi. Karena saat mendengar tawaran itu, seketika irama nyanyian di perutku bergema semakin keras.

“Saya engga repot, koq. Kan bukan saya yang memasak,” kata perempuan itu dengan setengah bercanda. “Yuk, Pak.”
Dengan gembira, aku membuntuti langkahnya menuju warung tenda kaki lima.
“Bapak mau makan apa? Pesan aja,” katanya sambil duduk di sebelah si lelaki. Aku memilih duduk di kursi sudut terjauh. Bau badanku yang terpapar sengatan panas matahari seharian, tentu tidak sedap tercium oleh orang lain.
“Pecel ayam, boleh Bu?”

“Boleh... boleh...” dia tersenyum. “Pak, pecel ayam, ya buat bapak itu,” ucapnya pada penjual makanan sambil menunjuk padaku.

“Apa lagi, Bu?” 

“Itu saja.” Jawabnya. Lalu perempuan itu tampak berpikir. Kemudian, “Bapak tinggal di mana?”

“Di sebelah timur kota, Bu.”

“Jauh?”

“Kira-kira satu jam berjalan kaki dari sini.”

Aroma ayam yang sedang digoreng seketika menyeruak ke penciumanku. Perutku makin perih.

“Bapak tinggal dengan siapa di situ?"

“Istri saya.”

“Anak?”

Aku menggeleng. Sejak berbelas tahun lalu, keempat anakku satu persatu berangkat merantau ke negeri jauh sebagai pembantu rumah tangga. Hanya pada tahun-tahun awal saja mereka masih berkirim kabar. Namun entah sudah berapa ribu hari tak ada warta dari mereka dalam bentuk selembar surat pun.

“Kalau begitu, bungkus lagi tiga porsi ayam dan nasi ya, Mas.” Perempuan itu berkata kepada penjual makanan, lalu menoleh kembali padaku, “Satu porsi buat makan istri bapak malam ini. Yang dua porsi buat sarapan besok, ya, Pak.”

Aku mengangguk-angguk dengan perasaan penuh terima kasih.

“Ibu dan Mister tidak makan?” tanyaku heran karena melihat mereka hanya duduk-duduk mengobrol.

“Kami sudah makan tadi di hotel,” jawab perempuan itu sambil menunjuk ke sebuah bangunan sangat tinggi yang berjarak beberapa ratus meter dari warung tenda. Aku kembali mengangguk-angguk.

Aku makan dengan cepat. Wajah Saijah menari-nari di pelupuk mataku. 

Sabar Saijah, tahan sebentar lagi laparmu. Malam ini aku pulang dengan membawa pecel ayam untuk mengganjal perut kita. Sebentar lagi, sekali dalam hidup, kita mengenal kata berpesta, Saijah. Kita akan merasakan makan pecel ayam, seperti orang-orang kaya.

Tiba-tiba rasa ingin bertemu Saijah datang begitu kuat. Membuat aku tidak sanggup mengunyah pecel ayam yang kucecap begitu nikmat di lidah. Aku ingin menikmatinya berdua dengan teman hidupku.

“Mas, punya kertas koran?” tanyaku pada penjual makanan.

“Mau dibungkus, Pak?” tanyanya.

Aku mengangguk malu-malu ketika dengan sudut mataku, kulihat kedua sepasang perempuan dan lelaki yang tadi sedang mengobrol, kini memperhatikanku. Kuterima kertas cokelat pembungkus, lalu dengan hati-hati mengemas sisa separuh nasi dan ayam goreng yang baru kunikmati kulitnya saja.

“Bawa sekalian bungkusan yang itu, Pak.” Lelaki dengan bahasa Indonesia yang aneh itu berkata padaku sambil menunjuk kantong plastik berisi bungkusan tiga porsi pecel ayam.

“Terima kasih, Mister, Bu. Saya pamit, ya?”

Mereka mengangguk.

Aku bergegas meninggalkan warung tenda. Sempat kudengar si lelaki bertanya berapa yang harus dibayarnya. Aku tidak mau mendengar jumlah yang disebutkan oleh pedagang pecel ayam. Aku malu menghabiskan uang orang lain sebanyak itu, selain takut menyesal jika mendengar harga makanan yang dibelikan mereka untukku dan Saijah.

Aku tengah berdiri di tepi jalan menanti lalu lintas menyepi untuk menyeberang, ketika kudengar suara seorang perempuan berteriak, “COPET! COPET!"

Aku tidak mungkin salah, perempuan yang membelikanku pecel ayam, yang tengah berteriak sambil menunjuk ke sebuah motor yang melaju kencang. Si lelaki berlari mengejar motor itu.

Aku berada di depan mereka. Dorongan hatiku yang tidak suka perempuan itu dijahati, membuatku refleks menerjang. Menghadang laju datangnya motor.

Brak!

Kulihat motor terjatuh ke sisi kanan jalan. Saat yang sama kurasakan tubuhku menghempas aspal.
Napasku tersengal-sengal merasakan sakit di punggung. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku untuk bangun.

“Pak... Bapak jangan bergerak dulu,” kudengar suara berbahasa Indonesia yang aneh di dekat telingaku. “Kami akan memanggil ambulans.”

Ambulans?

Aku mau dibawa ke rumah sakit?

Tidak!

Jangan!

Aku harus pulang. Saijah menungguku.

Aku kembali berusaha bangkit. Tetapi sekarang bukan hanya kakiku yang tidak bisa bergerak. Dunia serasa bergelombang dan bergoyang-goyang. Bau amis tercium entah dari mana.

“Bapak tenang dulu, ya. Nanti pendarahannya makin hebat. Ambulans sedang menuju kemari,” pria bersuara aneh itu berkata padaku lagi dengan nada membujuk.

Oh.., jadi aku berdarah? Banyakkah? Apakah pecel ayam itu terkena darahku? 
Aduh, jangan! 
Tentu rasanya akan sangat tidak enak nanti. Padahal aku ingin sekali saja seumur hidupnya Saijah makan enak.

Kemudian aku menyadari sesuatu. Sebelum terlambat, aku harus mengatakannya.

“Tolong antarkan ini ke Saijah,” aku mendorong kresek plastik berisi bungkusan pecel ayam kepada lelaki itu, sebelum kegelapan yang lebih gelap dari malam tergelap menyelubungiku.

0 komentar:

Post a Comment

 
;